Sebelum tulisan ini dimulai, saya perlu memperkenalkan diri bahwa saya, yang membuat tulisan ini, bukan lah seorang buruh ojek online (ojol), saya hanya buruh serabutan di bidang kreatif yang kebetulan merupakan pengguna jasa aplikasi ojol di kota Bandung. Sebagai pengguna ojol, khususnya di kota Bandung, saya mungkin sama seperti kebanyakan buruh lain: menggunakan jasa ojol karena tidak memiliki kendaraan pribadi, menjalani hidup sehari-hari dengan mobilitas tempat juga jam yang tidak menentu di kota yang tidak memiliki transportasi publik memadai seperti Bandung ini. Dengan begitu, menggunakan jasa ojol, seringnya bukanlah sebuah pilihan.
Dari seringnya menggunakan jasa ojol, mengobrol dengan driver menjadi kegiatan yang sering dilakukan. Terlebih kemacetan Kota Bandung di akhir pekan seringkali membuat durasi perjalanan semakin lama, membuat kegiatan berkenalan sampai bertukar keluh kesah hidup sebagai sesama buruh menjadi pilihan untuk melawan suntuk.
Baca juga: Menggondol Laba Lewat Sistem Kontrol dan Satgas Aplikator
Baru-baru ini, ada satu fenomena baru yang menjadi pengamatan saya saat menggunakan jasa ojol maupun saat bertemu ojol di jalan, yakni mulai banyaknya buruh ojol yang menggunakan rompi berwarna biru di luar jaketnya. Di bagian depan rompi tersebut terdapat logo Polda Jabar dan di bagian belakang terdapat tulisan besar “OJOL KAMTIBMAS”.
Awal-awal saya ngeh dengan fenomena ini mungkin sekitar bulan November-Desember 2025. Saat itu saya belum mencoba mencari tahu lebih lanjut. Hanya ngeh selewat saja. Sampai pada dini hari tanggal 2 Januari 2025, sepulang dari sebuah pekerjaan, saya menggunakan jasa ojol sebuah aplikasi dari daerah Pasteur menuju ke Bojongsoang. Kebetulan, aplikasi ojol mempertemukan saya dengan driver yang mengenakan rompi biru Ojol Kamtibmas.
Baca juga: Sesudah Aplikator Berekspansi, dan Komunitas Ojol Berdiri
Trayek Pasteur ke Bojongsoang bisa dibilang memiliki jarak tempuh yang lumayan untuk bisa terjadi obrolan panjang. Meski dini hari jalan relatif lengang, namun malam itu Bandung baru selesai diguyur hujan. Sehingga, mang ojol juga tidak mengemudikan motornya terlalu ngebut. Sabab tiris, bray! (Sebab dingin,bray).
Paragraf tulisan di bawah ini mendokumentasikan ‘wawancara tak sengaja’ saya dengan mang ojol terkait Ojol Kamtibmas, yang pada akhir perjalanan, ketika mang ojol telah selesai mengantar saya sampai di titik tuju di daerah Bojongsoang, telah mengizinkan saya untuk menuliskan obrolan kami tentang Ojol Kamtibmas malam itu untuk dipublikasikan, dengan syarat, tidak mencantumkan nama aslinya dalam tulisan. Tulis weh, Abah Ojol (tulis saja abah ojol). Saya mah ku temen-temen dari jaman ngojek pangkalan ge dipanggil Abah, kata Abah Ojol mengizinkan ide saya untuk menuliskan ini.
‘Wawancara’ ini diolah bukan dari perekaman, tetapi melalui ingatan, yang saya tulis begitu saya sampai di kamar. Ketika draft ini wawancara ini selesai, saya serahkan kepada Abah untuk membacanya dan yang bersangkutan bersedia setuju dengan hasilnya.
Faluz: “Ai Ojol Kamtibmas teh apa, pak? (Kalau ojol Kamtibmas itu apa, pak?)”
Abah Ojol : “Oh, ini, ini kerja sama antara pihak kepolisian dengan pengemudi ojol. Karena kan siapa lagi a kalau bukan kita (buruh ojol) yang selalu ada di lapangan. Jadi kalau ada apa-apa di jalan, di masyarakat, kami ojol bisa bantu, langsung, cepet. Soalnya kan siapa lagi atuh a yang jam segini nih, kayak saya, masih di jalan. Jadi pihak kepolisian coba merangkul kita, mereka mah (polisi) kan gak setiap hari (dan) setiap jam ada di jalan. Makanya di Jawa Barat kita dirangkul buat masalah Kamtibmas.
Faluz: “Kamtibmas teh keamanan ketertiban masyarakat kan ya? Itu teh berarti bantunya ngapain?”
Abah Ojol: “Jadi sebenernya sebelum ada program ini dari kepolisian, ojol mah udah selalu ngebantuin masyarakat untuk soal keamanan sama ketertiban di lapangan. Ya apa aja. Entah ada maling, kecelakaan, atau ada kriminalitas di jalan. Ya, karena kita yang ada selalu di jalan. Mungkin polisi melihat itu, jadi waktu awal November di Polda Jawa Barat diresmikan lah (Ojol Kamtibmas) ini. Langsung sama Kapolrinya da.”
Faluz: “Oh, berarti kerja sama polisi sama paguyuban apa gimana pak?”
Abah Ojol: “Ya disebut kerja sama sih enggak, kita mah mitra aja. Gak ada kerja sama yang gimana-gimana, ya mitra aja kayak aplikator sama kita sifatnya. Cuma memang beberapa paguyuban ojol dirangkul, tapi gak harus ikut paguyuban.”
Faluz: “Ada program atau tugasnya gitu berarti pak yang kepolisian kasih?”
Abah Ojol: “Kalau secara tugas setiap hari mah, nggak, sih. Kita mah paling kalau ada apa-apa aja a. Kalau ada apa misalnya, kecelakaan atau demo, atau apa, baru nanti kita (ojol Kamtibmas) ngasih ke polisi entah informasi kejadian di lapangan, atau sigap bawa yang ketabrak ke rumah sakit, atau yang nabrak langsung diboyong ke polisi. Kita yang (ikut) ojol Kamtibmas, karena udah dipercaya sama polisi jadi yang sigap bantuin. Balik lagi a, kalau bukan kita ya siapa lagi. Makanya polisi ngasih kepercayaan itu.”
Baca juga: Banyak Jalan Menangkal Keculasan Aplikator
Faluz: “Oh gitu.. Jadi enak ya polisi dibantu ojol kerjanya, harusnya dapet gaji juga atuh ya dari kepolisian. Eh, apa emang dapet?”
Abah Ojol: Hahahaha. Nggak atuh a. Harusnya mah gitu. Kan udah ngebantuin jobdesk polisi ya. Tapi ya, gak ada a. Paling ya kalau pas ada program pertemuan. Katanya mah ada apresiasi, cuma saya sendiri gak tau, belum pernah dapet. Apresiasinya uang atau bukan juga saya gak tau. Saya mah waktu itu ya ikut aja pas diajak temen-temen. Tuh, ceunah (tuh, katanya), ka (ke) Polda, aya (ada) program ti (dari) Kapolri jeung (dengan) ojol. Yaudah weh, saya ikut. Bulan Novemberan.
Faluz: Itu tuh berarti setelah kejadian ojol di Jakarta meninggal dilindes brimob bukan, sih, pak?
Abah Ojol: Ya, emang. Memang ini mah kita juga tahu, polisi pengen kembali dipandang baik. Polisi teh baik. Udah, gak usah ada pertikaian antara polisi sama ojol. Padahal mah, ah, dari dulu sampai sekarang juga, mana ada ojol kepikiran bertikai sama polisi? Kita mah mikirin aplikator biar bener kebijakannya buat ojol aja pusing. Kita mah nyari uang aja a. Ojol yang mati dilindes tea itu juga kan lagi kerja. Cuma ya, polisi tea. Makanya mungkin dari situ polisi bermitra sama kita. Saya mah termasuk yang ikut-ikut aja sih a, nyari aman, saya mah yang penting bisa kerja gak digangguin. Mungkin karena usia saya juga, terakhir kerja selain ngojol itu 2007. Setelah 2007 ya kerja apa weh, jadi kuli, benerin apa, ngojek pangkalan juga, cuma kan cuma jadi ojol yang masih bisa saya dapet uang. Harusnya mah memang kalau kepolisian mau kerja sama, jangan mitra lah, status itu juga yang temen-temen tolak sama aplikasi. Cuma ya aa ngerti lah, niat polisi begini teh (membuat program Kamtibmas), ya, kasarnya mah cuma manfaatin kita (buruh ojol) yang emang udah rentan dari sananya. Biar ojol yang masih merasa marah sama polisi juga ngeliat, oh polisi baik mau ngerangkul ojol. Biar (citra) polisi baik teh bener lagi di mata masyarakat. Lewat ngerangkul kita (buruh ojol) jadi mitra kamtibmas. Padahal mah, tadi saya bilang, kita mah emang selalu bantuin masyarakat mun aya nanaon (kalau ada apa-apa) sebelum ada program ojol Kamtibmas juga. Da kita yang ada di jalan. Ya kita tau lah polisi teh gimana. Menurut aa weh, baik gak sih polisi teh? Haha haha. Ulah beja-beja saya nanya kieu nya a, jol bisi ditewak ah. Haha haha. (Jangan bilang-bilang saya nanya ini ya, takut tiba-tiba ditangkap)
Impunitas di Bulan Kelima Pasca Affan Dibunuh Brimob: Penundukkan Perlawanan
Percakapan dengan Abah Ojol di atas mungkin tidak sepenuhnya menjawab dengan utuh bagaimana program Ojol Kamtibmas bekerja dan dijalankan oleh pihak kepolisian. Namun, dari apa yang diceritakan Abah Ojol, saya melihat ada pengkondisian terorganisir dari polisi kepada buruh ojol. Saat serangkaian Aksi Agustus 2025, ojol menjadi salah satu kelompok warga yang secara organik tampil memenuhi jalanan menggelorakan protes terhadap berbagai kebijakan Negara, termasuk protes atas terbunuhnya seorang ojol bernama Affan Kurniawan yang sedang melintas saat mengantarkan pesanan oleh sebuah mobil rantis baja milik brimob.
Baca juga: Sesudah Aplikator Berekspansi, dan Komunitas Ojol Berdiri
Dari tragedi itu, nyawa Affan Kurniawan menghilang begitu saja. Dan jangankan untuk berharap ada pejabat strategis Brimob maupun Polri yang dihukum atas itu, personil yang mengemudikan rantis maut pembunuh Affan saja hanya divonis minta maaf. Sementara, ada ratusan warga di berbagai kota yang ditangkap hanya karena mengutarakan kritik di media sosial. Peresmian 5.000 buruh ojol menjadi Ojol Kamtibmas secara langsung oleh Listyo Sigit (korlantas.polri.go.id) ini bukan saja program kemitraan biasa yang tidak politis, ini menjadi cara polisi menundukkan perlawanan buruh ojol dan luasnya, semua warga termasuk buruh seperti saya yang sehari-hari hidup bersama buruh ojol.
Alih-alih menjadi institusi penegak hukum yang menghadapi aplikator yang semakin hari semakin tidak adil kepada buruh ojol, pihak kepolisian malah memanfaatkan kerentanan buruh ojol. Menjadikan buruh ojol sebagai ‘mitra’ keamanan dan ketertiban masyarakat, menundukkan ingatan dan kehendak berlawan ojol pada kepolisian yang telah membunuh Affan yang tanpa penegakkan hukum yang berarti bagi institusi kepolisian sendiri.
Baca juga: Mungkinkah Komunitas Tumbuh sebagai Organisasi Perjuangan Ojol?
Inilah impunitas pasca Aksi Agustus 2025 yang masih tertanam di ingatan kita, saya, juga Abah Ojol. Melalui rompi bertulisan Ojol Kamtibmas yang digunakan sebagian buruh ojol hari ini di Bandung dan kota-kota lain, Negara kembali menundukkan perlawanan dan kali ini, melalui tubuh buruh ojol yang sehari-hari bekerja menghadapi kerentanan di jalanan. Setelah merampas nyawa dari tubuh ojol, kini tubuh para ojol dieksploitasi demi citra.
Kepada saya pribadi dan siapa saja yang setelah membaca ini melihat ada logo kepolisian di dada ojol, sebelum segera menghakimi apa yang dilihat, mungkin bisa perlahan untuk mengingat bahwa pertanyaan semacam yang Abah Ojol ajukan kepada saya, polisi itu baik atau tidak? Sangat mungkin untuk dijawab bersama dengan buruh ojol, ketimbang membuat kita masuk dalam logika polisi dengan mudah: termakan citra polisi baik, atau abai terhadap kerentanan buruh ojol di balik rompi Kamtibmas yang menundukkan perlawanan.
Penulis: Faluz (Buruh seni serabutan dan pelanggan jasa ojol)
Editor: Ilyas Gautama

