a
HomeTelusurKeringat Buruh di balik Nyamannya Belanja di Swalayan

Keringat Buruh di balik Nyamannya Belanja di Swalayan

Keringat Buruh di balik Nyamannya Belanja di Swalayan

Trimurti.id – Pernah belanja di toko atau pasar swalayan? Begitu membuka pintu dan masuk ke dalamnya, Anda akan mendapat sambutan ramah dari para pelayannya, “Selamat datang, selamat berbelanja.” Setelah mendapat sambutan hangat dari pelayan, Anda akan disuguhkan sejuknya suhu udara di dalam ruangan.

Sama seperti pasar tradisional, beberapa pasar swalayan menyajikan komoditas pangan. Mulai dari beras, sayur-mayur, buah, daging ayam, daging sapi, hingga ikan segar dan ikan asin. Namun di pasar swalayan, hampir tak tercium bau amis atau bau tak sedap lainnya, ketika kita memasuki area komoditas tersebut.
Tahukah Anda, ada keringat dan pengorbanan buruh di balik kenyamanan berbelanja di toko swalayan. Buruh yang setiap hari membersihkan ruangan. Ada pula buruh yang bekerja menjaga sistem air conditiener (penyejuk ruangan) agar selalu berada dalam kondisi prima, sehingga kenyamanan pelanggan terjaga saat berbelanja.

Salah satu buruh yang bekerja memastikan kenyamanan konsumen ketika berbelanja adalah Ipreng. Ia bekerja di sebuah grup ritel toko swalayan yang memiliki 54 cabang di area Bandung. Ipreng dan kawan satu timnya bertugas melakukan pemeliharaan sistem penyejuk ruangan di 54 toko swalayan milik grup ritel tempatnya bekerja. Setiap hari pula ia harus menghadapi risiko kerja yang tinggi.

Kemungkinan terburuk, mesin air conditiener bisa saja meledak ketika Ipreng dan timnya melakukan perawatan berkala. Menghadapi risiko sebesar itu, perusahaan tak melengkapi Ipreng dan timnya dengan alat perlindungan diri yang memadai.

Ipreng adalah adik angkatan penulis di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 6 Bandung. Kami tinggal di Kompleks Panghegar, Gedebage, Kota Bandung. Untuk menjaga tali silaturahmi, saya, Ipreng, dan beberapa kawan sebaya, sering berkumpul di sebuah taman dalam kompleks.

Akhir-akhir ini, Ipreng sering absen nongkrong. Biasanya, hampir setiap malam kami berkumpul bersama di taman kompleks. Ipreng mengatakan, ia kerap mendapat tugas lembur dari kantornya. Jam kerja tambahan mengurangi waktu Ipreng untuk bergaul dan berekreasi.

Selepas menanggalkan seragam putih-abunya pada 2016 lalu, Ipreng hanya memiliki dua pilihan. Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau bekerja. Ipreng memilih melanjutkan studi. Ia membebankan syarat pada dirinya sendiri, bahwa ia harus diterima di perguruan tinggi negeri. Namun gagal. Ia tak mau membebani kedua orang tuanya dengan biaya pendidikan di kampus swasta yang ia nilai lebih mahal ketimbang kampus negeri.

Ia kemudian memutuskan untuk bekerja. Soal studi di perguruan negeri, Ipreng berpikir bisa melakoninya sambil bekerja. Pilihan ini juga dirasa tak akan memberatkan orang tuanya. Mengingat upah dari hasil kerja dapat ia gunakan untuk membiayai pendidikannya kelak.

Tak lama setelah lulus, Ipreng dan kawannya mengirimkan surat lamaran kerja ke PT Akur Pratama. Sebuah perusahaan ritel yang menaungi tiga toko swalayan besar yakni Toserba Yogya, Griya, dan Yomart, yang memiliki 54 cabang di area Bandung.

Skenario awal Ipreng bekerja sambil kuliah berjalan mulus. Ia diterima sebagai buruh kontrak bagian pemeliharaan penyejuk udara (AC) di perusahaan tersebut dengan masa kontrak selama dua tahun.

Saat ini ia bekerja di bagian divisi maintenance, sebagai teknisi yang tugasnya menjaga tata udara toko supaya tetap sejuk dan nyaman. Bila perusahaan ingin menggunakan jasanya kembali, ia harus menandatangani kontrak lagi satu tahun, lalu dirumahkan selama sebulan dan setelah bekerja tujuh tahun baru bisa jadi buruh tetap.

“Dirumahkan selama satu bulan, kalau hasil kinerja saya selama tiga tahun bagus maka ada kemungkinan dipekerjakan lagi,” ujar Ipreng ketika ditemui pertengahan Oktober 2018.

Lewat penuturannya kembali, PT Akur Pratama sedang melakukan penghematan ongkos produksi dengan mempekerjakan remaja tamatan SMK/SMA, karena merekrut tenaga ahli di divisi maintenance sangat mahal upahnya.

Setiap bulan, Ipreng menerima upah pokok sebesar Rp2.380.000,00. Ditambah tunjangan strata Rp40.000,00, tunjangan area Rp700.000,00, tunjangan BPJS Tenaga Kerja Rp194.688,00. Upah kotor yang ia terima berjumlah Rp3.314.688,00. Itu pun mendapat potongan yang diajukan BPJS TK sebesar Rp288.288,00. Uang yang masuk dalam rekening Ipreng per bulan sekitar Rp3.026.400,00, untuk hitungan lima hari kerja dengan jam kerja sembilan jam per hari.

Dalam satu minggu, ia bisa melakukan perawatan AC ke tiga belas ritel yang berbeda. Perusahaan telah membentuk “tim mandiri” yang porsi kerjanya masing-masing telah dibagi per wilayah oleh manajemen.

“Soalnya kan kalau perawatan AC itu mirip kayak kita ganti oli. Itu harus rutin, kadang di satu gedung (ritel, red.) bisa ngehabisin waktu tiga hari. Tergantung berapa banyak unit yang harus dibersihin,” ujarnya.

Menurut Ipreng, jumlah anggota tim yang melakukan perawatan AC sekitar tiga orang. Berbeda dengan tahun kemarin, dalam satu tim bisa berisi lima orang. Kali ini perusahaan menarik sebagian buruhnya untuk melakukan perawatan di ritel cabang lainnya. Ia pun tidak mengetahui pasti alasan kebijakan ini bergulir.

Ia pun tak tahu kenapa upah lemburnya hanya dibayar Rp65.000,00 per malam. Padahal, ia kerja lembur dari jam 22.00 hingga jam 05.00 pagi. Meskipun diberi waktu istirahat dari jam 24.00 hingga jam 01.00 dini hari, ia menilai uang lembur yang diterimanya itu tidak sesuai dengan jam kerja.

“Waktu malam mingguan sama anak anak alumni SMK, kita ngobrol iseng soal uang lembur, ternyata di perusahaan temen saya, uang lembur itu makin malam makin gede bayarannya,” terang Ipreng. “Padahal masih di Kota Bandung, tapi kok (uang, red.) lemburnya beda jauh. Ironis!” tegas pemuda yang kini berusia 20 tahun tersebut.

Ipreng melanjutkan pembicaraan soal bayaran lembur. Ia tidak mengetahui detail perhitungannya. ketika ia bertanya kepada senior di tempatnya bekerja, mereka hanya menjawab, “Emang ti baheula sakieu bayaran lembur peuting mah (sudah dari dahulu segini bayaran lembur),” Ipreng meniru omongan seniornya.

Ia bisa saja bertanya ke bagian HRD (personalia), tapi takut kontraknya tidak diperpanjang. Ia cari aman, mengikuti sistem yang sudah ada dari dulu.

Pembagian tugas lembur sudah dilaksanakan sejak sore hari. Sekitar tujuh unit AC harus beres semalam, dari jam 22.00 sampai jam 05.00 esok paginya. Dengan catatan unit indoor, evaporator, dan filter, harus bersih kembali. Ini dilakukan agar area berbelanja kembali bersih dan bisa beroperasi keesokan harinya.

Tak kalah miris, Ipreng belum sama sekali diberi seragam kerja dan kebutuhan alat perlindungan diri seperti sepatu berpengaman, masker, dan sarung tangan. Sedangkan ia setiap hari harus bersentuhan dengan zat freon, listrik, dan kebisingan kompresor. Kecelakaan kerja bisa kapan saja menimpa buruh mana pun saat bekerja.

“Saya beli sendiri safety work-nya (alat pelindung diri). Perusahaan gak pernah kasih. Bahkan waktu pelatihan juga gak ada pengarahan soal K3 (kesehatan dan keselamatan kerja),” keluh Ipreng. Setelah dua tahun bekerja, baru pada pertengahan Oktober ini perusahaan memberi sepatu berpengaman pada Ipreng dan rekan-rekannya sesama teknisi.

K3 merupakan standarisasi kerja bagi buruh mana pun. Gunanya untuk meminimalkan kecelakaan kerja dan memberi rasa aman bagi buruh untuk bekerja. Kala disinggung mengenai jaminan kesehatan, Ipreng mengaku tidak mendapat tunjangan tersebut. Sebagai gantinya, pihak perusahaan memberikan uang tunai langsung dengan syarat membawa salinan pemeriksaan dan resep obat dari dokter.

Sempat sekali waktu, Ipreng sakit dan harus dibawa ke dokter umum. Total biaya berobat berjumlah seratus dua puluh ribu rupiah. Ia pun meminta biaya berobat yang dijanjikan pihak perusahaan. Setelah menunggu selama tiga hari, nyatanya perusahaan hanya membayar biaya berobat sebesar delapan puluh ribu rupiah saja.

Untuk meningkatkan daya saing, Ipreng melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Ia mengambil kelas karyawan di Jurusan Elektro, Universitas Langlangbuana. Biaya yang harus dikeluarkan selama satu semester berjumlah lima juta rupiah. Dengan upah tiga juta rupiah, ia menyiasati pengeluaran: satu juta rupiah untuk kebutuhan sehari-hari dan dua juta rupiah ia tabung untuk keperluan studinya.

Bulan November nanti, kontrak kerjanya akan habis. Ia hanya berpasrah diri mengikuti arah nasib menentukan.
“Kalau saya mah yang penting cari duit aja, kurang tau sama sistem (perusahaan) kaya gimana. Diperpanjang atau enggak kontraknya itu mah gimana nanti,” tandas Ipreng.**

 

Reporter: Baskara Putra
Editor: Ari Morgan

 

Bagikan