a
HomeTelusurDi Balik Kain Katun yang Nyaman: Revolusi Industri, Amerika Serikat, dan Perbudakan

Di Balik Kain Katun yang Nyaman: Revolusi Industri, Amerika Serikat, dan Perbudakan

Di Balik Kain Katun yang Nyaman: Revolusi Industri, Amerika Serikat, dan Perbudakan

Mengingat kembali perkataan guru sekolah dasar mengenai sandang, pangan, dan papan, membuat penulis tergugah untuk mencari tahu asal-usul kain katun, benda yang sangat penting bagi kehidupan umat manusia dari masa ke masa, terutama bagi keadaan ekonomi Inggris dan India. Kain katun merupakan komoditas nonpangan yang penting karena mampu menunjang produktivitas manusia. Setiap pekerjaan yang dilakukan manusia memerlukan kain katun. Mulai dari seorang pekerja tambang hingga pekerja kantoran atau pekerja cetak saring dan konveksi, pemimpin negara hingga pengangguran sekalipun.

Ya, katun adalah primadona bagi seluruh umat manusia. Lalu, apa itu kain katun? katun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah cita atau bahan pakaian yang dibuat dari benang kapas. Sebelum membahas lebih dalam, ada baiknya kita kembali ke masa lampau, melihat masa ketika kapas menjadi tanaman yang penting di dunia.

Tanaman kapas termasuk dalam genus Gossypium. Kapas adalah tumbuhan asli daerah tropis dan subtropis, serta memiliki banyak spesies yang dibudidayakan di seluruh dunia. Kapas memiliki serat lembut dan terdapat biji di dalamnya. Serat ini bisa dipintal menjadi benang yang kemudian digunakan untuk membuat kain katun yang nyaman digunakan di iklim tropis yang hangat. Dari suatu hal yang sederhana pada peradaban kuno, kapas berubah menjadi sebuah komoditas industri modern yang vital bagi perekonomian dunia saat ini.

Kapas digunakan sebagai bahan tali sejak tahun 3.000 SM di India dan benua Amerika. Itu membuktikan bahwa teknologi awal pemintalan kapas telah terjadi lama. Fragmen pakaian yang terbuat dari kapas berumur 4.000 tahun ditemukan di lembah Sungai Indus, India (Pakistan hari ini), dan lembah Pantai Peru. Di Peru kuno, proses mumifikasi seseorang dibalut menggunakan katun, sedangkan di Mesir Kuno menggunakan sejenis linen.

Para ilmuwan memperkirakan kapas telah ditanam sejak 7.000 tahun yang lalu. Kain katun mulai menyebar dari India ke Barat menuju Mesir dan Turki, dari Pasifik ke Utara menuju Amerika Tengah dan Karibia. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usul katun yang kita gunakan hari ini. Tanaman kapas dari berbagai spesies yang memiliki kemiripan dengan kapas yang digunakan sebagai bahan dasar katun pada era modern ditemukan di India, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, sejak ribuan tahun yang lalu. 

Revolusi Industri

Penemuan mesin uap oleh James Watt pada tahun 1790 menandakan sebuah rangkaian perubahan ekonomi di bidang produksi pertanian dan industri di Inggris Raya menimbulkan apa yang oleh para sejarawan kemudian disebut Revolusi Industri. Tidak perlu diragukan bahwa revolusi ini secara drastis telah mengubah hubungan-hubungan lama—ekonomi, politik, dan sosial—menuju terciptanya kondisi-kondisi dan masalah-masalah baru lainnya. Pabrik tekstil The Lanchasire adalah salah satu mesin Revolusi Industri Inggris. Pabrik ini memiliki karakter layaknya “setan” karena kondisi kerja yang tercela—memberikan upah rendah, mempekerjakan buruh anak-anak, dan pemberlakuan 18 jam kerja.

Berbagai penemuan memacu produksi yang amat sederhana pada mulanya. Penemuan flying shuttle oleh John Kay dan peningkatan spinning machinery (mesin pemintalan) oleh Crompton dan Arkwright, terilhami oleh upaya mempermudah proses kerja, bukan hasil rekayasa atau penerapan sains. Satu penemuan yang berpengaruh sangat luas pada periode tersebut adalah penggunaan mesin pintal tenaga air yang mampu menghasilkan benang kapas secara efektif untuk pertama kalinya dalam skala besar. Mesin ini ditemukan oleh Sir Richard Arkwright yang berasal dari perkampungan Derbyshire, Cromford, pada tahun 1771 dan segera membuka pabrik miliknya sendiri.

Metode lama, yang digunakan di industri pakaian wol dan dikeramatkan oleh tradisi berabad-abad, yang menggantungkan diri pada pekerja-pekerja pemintalan dan pertenunan di gubug-gubug mereka dengan roda pemintalan dan alat-alat tenun perseorangan, tidak lagi digunakan karena tidak dapat memenuhi tuntutan masyarakat yang besar akan bahan katun. Mesin-mesin baru memungkinkan kegiatan produksi terkonsentrasi di suatu tempat, di pabrik. Mesin-mesin pemintalan telah dibangun di Inggris dan bahan mentah katun diimpor, terutama menuju Mesir dan India.

Proses pemenuhan kebutuhan produksi demi keuntungan ini memicu para pemilik pabrik untuk mempekerjakan pekerja secara full-time dengan disiplin yang tinggi. Para kapitalis Inggris sangat diuntungkan oleh pemberlakuan Enclosure Act (Undang-Undang Pemagaran Tanah) yang mengakibatkan tersedianya tenaga kerja dalam jumlah besar. Para pekerja adalah korban dari undang-undang tersebut.

Penemuan mesin uap oleh James Watt, membuat pabrik terbebas secara geografis dari ketergantungan atas air dan cenderung mengelompok di kota-kota baru. Manchester merupakan sebuah contoh, bertumbuh dari desa yang sepi menjadi kota baru yang sibuk, hanya dalam satu generasi. “Red, Satanic Mills” Manchester dan Birmingham selalu menjadi ciri tentang dampak industrialisasi sejak abad ke-18. Dalam waktu bersamaan, buruknya kehidupan daerah kumuh, wabah penyakit, eksploitasi, dan cucuran keringat pekerja mulai dengan jelas tampak dan menonjol, bahkan bagi pengamat biasa sekalipun. Reaksi akan hal tersebut timbul dengan segera di Inggris, dan para kritikus industrialisasi bermunculan dengan suara yang hiruk pikuk. Betulkah industrialisasi mendehumanisasi manusia dan menjerumuskannya ke dalam perbudakan ekonomi, atau apakah industrialisasi itu menolong mereka dari kelaparan dan dari apa yang disebut Karl Marx sebagai “the idiocy of rural life (keterbelakangan kehidupan desa)”?

Selama abad ke-18, perempuan Inggris telah menyukai pakaian dari kain katun yang nyaman, terbuat dari kain tenun asal India. Sir Richard Awkright dan rekan-rekannya mampu merealisasikan keuntungan yang besar dari industri ini ke benua Amerika, terutama bagian selatan Amerika Serikat dan tetap menjual pakaian di Inggris. Pada tahun 1793 di Amerika Serikat, Eli Whitney berhasil menemukan mesin pemisah kapas dari biji (cotton gin). Sebagian besar alat ini mulai dikirim ke Liverpool untuk kemudian diantarkan melalui sungai dan kanal ke pabrik-pabrik di Manchester. Pertengahan tahun 1800-an Amerika Serikat mengekspor hingga dua miliar pon kapas dalam setahun. Hal ini menyebabkan India tidak lagi menjadi produsen utama kapas sampai akhirnya Inggris menghentikan suplai kapas ke Amerika Serikat setelah Perang Sipil Amerika Serikat usai, dan Mesir kemudian menjadi supplier kapas terbesar. Pada tahun 1839, pabrik kapas di Manchester mempekerjakan 200.000 anak. Angka harapan hidup bagi masyarakat miskin di Manchester adalah 17 tahun dengan 57% dari bayi yang lahir meninggal pada usia lima tahun. Karl Marx melakukan perjalanan ke Lancashire berkali-kali. Ia menuliskan semua yang terjadi hingga akhirnya dapat menyelesaikan salah satu magnum opus miliknya, Das Kapital.

Inggris memberlakukan aturan baru atas kebijakan tekstil yang menyebabkan India bertransformasi dari eksportir tekstil menjadi supplier bahan mentah katun untuk pabrik Lancashire. Taktik Inggris ini amat brutal, mereka seolah menghancurkan kedua tangan dan memotong ibu jari para penenun di India, sambil menerapkan sistem pajak yang menguntungkan industri kapas—sekaligus memprovokasi kelaparan saat proses ini berlangsung. Industri katun di India berhasil bertahan hingga akhir abad ke-19 karena produksi tanpa penggunaan mesin yang masih dilakukan dan dominasi Amerika Serikat yang mengekpor bahan mentah.

Mahatma Gandhi percaya bahwa katun dekat dengan determinasi diri orang-orang India. Pada tahun 1920 ia meluncurkan gerakan Khadi, sebuah tindakan boikot yang massive terhadap barang berbahan katun dari Inggris. Ia mengenakan pakaian katun rumahan yang disebut khadi. Kain khadi kemudian menjadi simbol penting bagi kemerdekaan India. Winston Churchill dengan sikap sabar a la Inggris, kemudian mencela Gandhi sebagai “half naked… a seditious Middle Temper lawyer”. Sederhana bagi Gandhi, khadi adalah sebuah simbol kebangkitan dan demokrasi bagi India.

Selama Perang Dunia II, kelangkaan barang menciptakan permintaan yang tinggi akan khadi, dan 16.000.000 yard pakaian diproduksi dalam sembilan bulan. British Raj (Pemerintah Inggris di India pada tahun 1858 hingga 1947) mendeklarasikan gerakan khadi sebagai subversif, mengancam pemerintahan Kerajaan Inggris. Inggris menyita, membakar persediaan khadi, dan memenjarakan pekerja hingga mengakibatkan intensitas perlawanan. Pada paruh kedua abad ke-20, penurunan industri kapas Eropa menyebabkan kebangkitan industri kapas di India. India memulai proses mekanisasi industri kapas yang memungkinkan mereka turut berkompetisi di pasar dunia. 

Amerika Serikat

Frasa yang umum untuk mendeskripsikan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada tahun 1830 dan 1840 adalah “cotton is king” (kapas/katun adalah raja). Kapas pertama kali ditanam di kawasan Texas oleh misionaris Spanyol. Laporan yang didapat dari missionaris di San Antonio pada 1745 mengindikasikan beberapa ribu pon kapas diproduksi setiap tahun, kemudian diolah oleh missionaris yang bertugas sebagai pemintal. Perang Anglo-France awal tahun 1790 yang menutup akses ke Eropa kontinental, menyebabkan posisi Amerika Serikat menjadi penting bagi Inggris, karena menjadi konsumen utama komoditi kapas. Produksi kapas di Amerika Serikat pada 1791 terbilang kecil, hanya sekitar 900.000 kg. Pertumbuhan industri katun di Amerika Serikat dimulai sejak ditemukannya cotton gin pada tahun 1793 oleh Eli Whitney yang memungkinkan produksi kain katun secara massal.

Penanaman kapas di Amerika Serikat dimulai oleh koloni Anglo-Amerika pada tahun 1821. Hasil sensus yang dilakukan negara bagian pada tahun 1849 melaporkan produksi kapas sebesar 58.073 bal. Kenaikan produksi yang cukup tajam hingga angka 431.645 bal pada sensus tahun 1859 di Texas disebabkan oleh penghapusan orang-orang Indian Amerika sejak akhir tahun 1850 hingga awal tahun 1860 yang menyebabkan terbukanya akses untuk area baru produksi kapas. Produksi massal yang mulai diberlakukan Amerika Serikat menyebabkan tingginya kebutuhan akan pekerja, hal ini yang kemudian menjadi fase awal perbudakan, yang mana para budak ini dibeli dari pantai barat benua Afrika. Meskipun budak dibeli untuk berbagai macam kebutuhan, tapi ada dua kegunaan utama: untuk dipekerjakan di perkebunan gula dan perkebunan kapas.

Lebih kurang sebelas juta jiwa dipisahkan dari keluarga dan kerabatnya untuk menciptakan kebangkitan Dunia Baru. Segitiga perdagangan di Amerika Serikat memposisikan para budak di bagian Barat, kapas di bagian Timur, dan pabrik di bagian Selatan. Dari Brasil ke Georgia, istilah pickin’ cotton menjadi sinonim untuk manusia sebagai barang bawaan. Sejak awal tahun 1830, Amerika Serikat berhasil memenuhi kebutuhan katun di dunia sekaligus menjadikan Amerika Serikat memimpin ekspansi perbudakan di Amerika Serikat dan pada tahun 1850, populasi budak mencapai 50% dari populasi negara yang tersebar di berbagai kawasan, seperti Georgia, Alabama, Mississippi, dan Louisiana. Sejarah lisan dari perbudakan di Amerika Serikat dipenuhi oleh kisah dari perkebunan kapas. Pada tahun 1860 bagian selatan Amerika Serikat menyediakan 80% kapas untuk Inggris dan dua per tiga dari suplai untuk dunia. Produsen industri hari ini berlokasi di kawasan Asia, seperti India, Bangladesh, dan Tiongkok, dengan upah buruh yang terbilang jauh lebih murah, begitupun di kawasan Amerika Latin.

 

Rujukan

Kamarga, Hansiswany & Siboro, Julius. (2012). Isu-Isu Kontroversial dalam Sejarah Barat. Jakata: Penerbit Bee Media Indonesia

Britton, Karen Gerhardt, Elliot, Fred C, & Miller, E.A. Cotton Culture. Diakses dari: https://tshaonline.org/handbook/online/articles/afc03

http://factsanddetails.com/world/cat54/sub349/item1227.html

https://ipfs.io/ipfs/QmXoypizjW3WknFiJnKLwHCnL72vedxjQkDDP1mXWo6uco/wiki/History_of_cotton.html

https://newint.org/features/2007/04/01/history

http://www.historyofclothing.com/textile-history/history-of-cotton/

Penulis: Dwi Nur Akbar W

Editor: Dachlan Bekti

Bagikan