Beberapa waktu lalu, saya menyaksikan kehidupan yang kontras dan menyentuh, seolah kota besar tengah menertawakan dirinya sendiri dengan cara yang kejam. Di satu sisi, ada hiruk-pikuk kegembiraan yang dangkal: ketika tim kesayangan kalah dan seluruh kota berduka seolah kehilangan kekasih, atau ketika menang dan motor-motor beriring dengan knalpot 83 dB menggelegar seperti parade yang terlalu dipaksakan. Semuanya terlihat jelas di permukaan oleh mereka yang mengira kehidupan hanyalah deretan hiburan dan kemeriahan sementara.
Namun di balik semua itu, ada jejak-jejak kehidupan yang tak terekam kamera ponsel maupun sorotan lampu neon: sebuah kehidupan otonom yang dipaksa menghilang oleh rakusnya ibu kota, yang selalu mengklaim segalanya atas nama kemajuan.

Di samping Jakarta International Stadium yang menjulang, berdiri Kampung Susun Bayam. Di sana, warga masih bertani, sebagai cara hidup lama yang sudah ditinggalkan masyarakat urban yang terburu-buru. Mereka menanam bayam dan sayuran hijau.
Seperti apa yang mereka tanam kini, kampung itu dinamai Kampung Susun Bayam. Sejak 1996, ketika salah satu warga kunci mulai ikut menanam, bayam bukan sekadar tanaman, melainkan identitas, nafkah, dan kenangan yang diturunkan lintas generasi.

Namun, mereka bertahan bukan karena nostalgia murahan, melainkan karena mereka tahu bahwa tanah dan kehidupan yang berlangsung di atasnya tak akan lagi sama jika mereka memilih menyerah dan pindah ke tempat lain.
Sebab, Ibu kota selalu memaksa manusia menjadi roda gigi dalam industri modern, bekerja untuk tuan yang tak pernah dilihat, menghabiskan hari demi produksi yang tak pernah cukup. Namun di Kampung Susun Bayam, orang-orang masih memilih menyentuh tanah, menunggu hujan dan matahari melakukan tugasnya di tengah desakan tangan-tangan yang memaksa mereka untuk enyah dari sana.

Inisiasi proyek stadion pada 2008, dengan konstruksi dimulai pada 2019, menandai awal kehancuran surga kecil yang telah dijaga puluhan tahun: tanah dirampas, rumah dirobohkan, janji-janji manis diberikan lalu dilupakan. Warga dipaksa pindah, dijanjikan hunian baru, tapi yang mereka terima seringkali hanya penantian panjang dan ketidakpastian yang menyiksa.
Di tengah semua itu, muncul Saba Kampung. Sebuah kegiatan sederhana namun penuh kekuatan, berupa festival solidaritas yang dimulai sekitar 2025 sebagai inisiatif anak muda lintas kampung. Saba Kampung bukan sekadar pertemuan; ia adalah simpul perjuangan yang menyatukan warga dari berbagai kampung kota. Di sana, mereka saling berbagi pengetahuan: bagaimana menanam di tengah gempuran beton, bagaimana memasarkan hasil bumi secara mandiri, bagaimana membangun ekonomi kecil yang tak bergantung pada pinjaman bank atau korporasi.

Mereka menjalin ikatan bukan atas dasar belas kasihan, melainkan kesadaran bersama bahwa mereka ditindas oleh sistem yang sama yakni kapitalisme yang rakus dan negara yang lebih memilih melayani kepentingan modal daripada rakyat kecil.
Dan di sinilah letak keindahan yang paling ironis. Kehidupan otonom seperti ini bukanlah kemunduran, melainkan bentuk perlawanan paling elegan. Tanpa deklarasi besar-besaran, tanpa pidato revolusioner yang berapi-api, warga Kampung Susun Bayam membuktikan bahwa manusia bisa hidup dengan cara lain: mengatur diri sendiri, mengelola sumber daya bersama, menolak ketergantungan pada sistem yang menjanjikan kemakmuran tapi hanya menghasilkan alienasi. Mereka membangun komunitas di mana keputusan diambil bersama, di mana tanah bukan milik pribadi yang bisa diperjualbelikan sesuka hati, melainkan warisan bersama yang dijaga untuk generasi mendatang. Mereka membuktikan bahwa kebebasan sejati bukanlah kebebasan untuk mengonsumsi lebih banyak, tapi kebebasan untuk tidak bergantung pada siapa pun yang mengklaim berhak atas hidup kita.

Kota besar mungkin akan terus membangun stadion dan gedung pencakar langit. Tapi selama masih ada orang yang memilih bertani bayam di sebelahnya, selama masih ada Saba Kampung yang menyatukan simpul-simpul perlawanan, maka utopia kecil itu belum sepenuhnya hilang. Ia bertahan seperti tanaman liar di celah beton: rapuh, tapi tak bisa dibunuh sepenuhnya.
Dan saya akhirnya memahami pelajaran penting ini: keindahan terbesar sering lahir dari apa yang dianggap tak berguna oleh dunia. Sebuah kebun bayam di tengah kota yang haus kemegahan.
Penulis: Jim Alberka
Foto: Jim Alberka
Editor: Ilyas Gautama

