a
HomeJam IstirahatMerayakan Tubuh Bersama Covid 19

Merayakan Tubuh Bersama Covid 19

Merayakan Tubuh Bersama Covid 19

Trimurti.id–Dian Septi terjangkit Covid-19, sempat dirawat di Wisma Atlet Jakarta dan kini masih dalam masa penyembuhan. Dian sempat memuat pengalamannya selama sakit di laman Facebook pribadinya. Atas izin Dian, Trimurti.id memuat kembali tulisan tersebut di bawah ini, dengan penyuntingan secukupnya.

Menyelinapnya virus Covid 19 di dalam tubuh, bukan hal yang tidak saya prediksi sama sekali. Bukan saja karena virus ini bisa mudah menular, namun sudah disadari awal mobilitas dalam aktivitas keserikatburuhan membuka peluang terpapar. Hal itulah yang lantas membuat saya mempersiapkan diri sebisanya. Mulai dari mengenakan masker, jarang menginjakkan kaki keluar rumah kecuali saat – saat tertentu seperti joging di pagi hari atau sore hari, menulis di kafe yang sepi dan tentu saja dilakukan secara solo (baca sendirian). Namun, tentu saja ada yang longgar. Di sekretariat masih jarang mengenakan masker.

Hingga tiba waktunya, saya menyempatkan diri ikut ke Bandung untuk mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Bandung bersama empat kawan lain. Mengingat sudah lama tidak ke Bandung, terpikirlah dalam benak untuk mampir ke tempat adik. Sebenarnya, ia sempat mengingatkan bahwa pacarnya sedang sakit dan beristirahat di kosnya. Karena belum sempat periksa apakah terpapar Covid-19 atau tidak, ia sempat meminta saya untuk tidak perlu mampir ke kosnya. Namun, tentu saja saya nekat. Saya hanya pergi  berdua, dengan salah satu kawan aktivis perburuhan di Bandung. Kala itu saya berpikir, toh cuma sebentar dan masker tidak akan saya lepas.

Singkat cerita, kami berdua ke kos adik saya. Terlihat pacarnya sedang demam dan terbaring sakit. Keduanya tidak mengenakan masker, sementara saya kadang melepas masker karena minum air botol. Di sisi lain, kawan saya sama sekali tidak lepas masker dan tidak meminum air botol, cukup dia bawa pulang. Sepertinya, ia lebih peka dari saya.

Sekitar 1,5 jam kami mengobrol santai melepas rindu. Sejak pandemi, baru kali ini bisa ke Bandung dan bertemu dengan adik. Sebenarnya, adik saya juga orang yang cukup berhati-hati dengan Covid-19, ia tak pernah nongkrong di luar, kecuali piket sekolah yang mengharuskan dia masuk ke sekolah. Adik saya adalah guru sekolah swasta dan meski kegiatan belajar mengajar berubah menjadi metode daring, para guru diwajibkan piket bergantian ke sekolah. Beberapa rekan kerjanya terpapar Covid-19, termasuk kepala yayasan yang juga seorang pastor.

Setelahnya, kami berdua kembali ke sekretariat kawan di Bandung. Beberapa teman aktivis Bandung sedang berkumpul di sekretariat dan kami berlima numpang istirahat sampai malam menjelang. Saya tidak tidur, hanya tiga kawan yang tidur dua di antaranya karena menyetir dan belum sempat istirahat dan satu lagi begadang mengerjakan gugatan. Hingga saat malam menjelang, kami berpamitan pulang, Sebelumnya, kami mampir dulu ke Lembang, ke tempat seorang kawan.

*

Hari itu Senin, tepatnya 14 Juni 2021, adik saya menelepon dan memberitahukan bahwa ia dan pacarnya positif Covid-19. Kabar itu membuat saya mengosongkan sekretariat dan segera meminta semua kawan, terutama yang ikut ke Bandung untuk tes swab PCR.

Mungkin, semesta sedang menegur kami. Satu kawan yang turut ke Bandung positif. Esoknya, semua pengurus dan full time organiser, ada delapan orang, melakukan tes swab PCR di Puskesmas Cilincing. Kami memilih yang gratis karena itu yang paling mungkin. Harga biaya tes swab PCR adalah Rp800.000,00, angka yang lumayan mahal bagi kami. Bohong, bila saya bilang tidak khawatir. Sepanjang hari itu saya meminta teman-teman di sekretariat Bandung untuk tes swab PCR. Bersyukur tidak ada yang positif. Esok harinya, sehari setelah tes swab, hasilnya bisa dilihat secara daring. Saya dan salah satu kawan positif terpapar Covid-19.

Segera, kami semua yang positif (tiga orang), mempersiapkan diri untuk isolasi mandiri (isoman). Kami menyediakan vitamin dan obat-obatan rekomendasi dari salah seorang teman yang pernah menjalani isoman. Jujur saja, saya masih percaya diri sanggup mengatasi semuanya sendiri dengan isolasi mandiri.

Satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, kami bertiga yang positif saling mengecek kondisi masing-masing. Saya sendiri dan satu kawan menjalani isolasi mandiri di sekretariat. Bersyukur, ada salah satu kawan yang bersedia berkeliling mendistribusikan vitamin dan obat-obatan. Satu kawan yang bersama saya di sekretariat di hari ke tiga sudah membaik, hanya batuk sedikit. Sementara, saya di hari ketiga dan keempat sudah tidak demam. Namun, perut perih, nyeri otot seluruh tubuh, batuk dan flu, lemas masih mengepung seluruh persendian.

Di hari ke lima, saya malah demam lagi di angka 38,7 C. Rasanya jangan ditanya. Meski saya tidak kehilangan indera penciuman dan perasa, tapi demam berkepanjangan, nyeri otot berkepanjangan, batuk berkepanjangan, lemas berkepanjangan, cukup membuat rasa percaya diri saya turun. Awalnya, saya rasa tidak perlu 14 hari merayakan tubuh bersama Covid. Nyatanya, realita bicara lain. Kepala terasa berat untuk sekedar berpikir. Sekedar berkomunikasi saja, saya membutuhkan loading yang lama untuk terhubung. Saya merasa bego, susah konsentrasi dan susah fokus. Butuh beberapa lama untuk mencerna informasi yang masuk ke dalam otak.

Di sisi lain, saya mengamati proses membaik pada adik saya dan pacarnya. Begitu pula salah satu teman yang isoman bersama saya di sekretariat dan satu lagi teman yang isoman di kos. Baiklah, saya memahami sekarang, bahwa respons tubuh saya terhadap virus ini membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih. Karena kondisi tubuh yang tidak bisa lagi ditolerir, atas desakan kawan akhirnya saya menyetujui supaya dirujuk.

Semua ruangan isolasi di rumah sakit penuh, IGD pun tak kalah padat. Ah, ini momen ledakan Covid-19, yang cukup membuat merinding. Adalah beruntung bila akhirnya bisa memperoleh kamar. Dengan bantuan banyak kawan di organisasi (FSBPI, KPBI, Perempuan Mahardhika, dan seorang kawan yang pernah bekerja di Wisma Atlet), akhirnya saya bisa memperoleh kamar di Wisma Atlet.

Seumur hidup, baru kali itu saya diantar dengan mobil ambulans. Membayangkan sakit dan dirawat inap saja tidak pernah terbesit barang sekali. Malam itu jarum jam menunjuk angka 9. Tepat pada jam 3 dini hari, saya sudah memperoleh kamar. Kepala terasa berat, demam naik lagi, linu, perut perih, dan batuk menerjang bersamaan. Segera setelah memperoleh kamar, saya tertidur karena lelah. Malam itu adalah hari kelima saya berperang melawan Covid-19 dan merupakan malam pertama menghabiskan malam di Wisma Atlet Kemayoran.

Wisma Atlet terdiri dari 8 tower. Tower 1-7 terletak di Wisma Atlet Kemayoran, sedangkan tower 8 terletak di Wisma Atlet Pademangan. Saya sendiri menempati tower 6, di lantai 13, kamar 16. Saya tidak sendirian, seorang perempuan muda menempati kamar yang sama. Perperangan dimulai nyaris tanpa istirahat. Tercatat, saya mengalami demam sampai hari kedelapan di wisma atlet. Namun saya merasa bersyukur karena nyeri otot sudah berhenti di hari ketujuh dan perut perih berhenti di hari keenam. Tersisa dua gejala yaitu demam dan batuk yang terus mengganggu dan membuat saya sulit tidur, terutama di malam hari. Tubuh terasa lemas dan kepala pening. Pernah suatu kali, saya ikut senam pagi. Setelah mengikuti dua lagu senam, demam kembali menyergap dan tubuh jadi lemas. Oh, baiklah saya belum bisa terlalu aktif bergerak dan diam-diam merasa iri dengan mereka yang sudah bisa lincah bergerak atau mungkin mereka memaksakan diri. Entahlah.

Hari-hari di Wisma Atlet adalah hari-hari yang mengembalikan kepercayaan diri saya. Kalau memang harus 14 hari berjibaku dengan Covid-19, baiklah tak apa. Menikmati saat sekarang, mengamati saat sekarang adalah gift, present yang patut disyukuri. Tak apa. Toh, saya tetap makan dengan baik, minum obat dan vitamin dengan baik. Kalaupun demam, maka saya tak perlu bertanya lagi mengapa. Cukup minum paracetamol. Begitu juga dengan batuk yang terus mengganggu tiap malam. Kamar yang kutempati menjadi beraroma minyak kayu putih karena sudah tak terhitung berapa tetes minyak yang  dihirup, berapa tisu yang dihabiskan, dan berapa kali mengukur suhu dengan thermometer.

Rasa frustrasi bukan tanpa menghampiri. Ketika kamu melihat orang-orang di sekitar sudah mulai membaik tanpa gejala hanya dalam hitungan hari, sementara kamu masih berjibaku dengan demam yang tak kunjung turun dari angka 38 C atau 38,7 C dan batuk yang jarang berhenti, virus ini akan terasa menjengkelkan.

Pada hari kedelapan di Wisma Atlet, akhirnya demam saya turun di angka 37 C, tepat sehari sebelum saya menjalani tes swab PCR kembali. Hari itu adalah hari yang membanggakan karena tubuh tidak lagi demam dan saya bisa tidur agak lelap. Meski demam sudah turun, kepala masih terasa berat dan saya masih bego buat berpikir. Mungkin kepala ini terlalu lama merasa panas akibat suhu yang meningkat berhari-hari. Total saya mengalami demam selama 11 hari. Apa yang dirasakan, tak ingin saya ulang kembali, pun tak ingin terjadi pada orang-orang yang saya sayangi di sekitar.

Tinggal di Wisma Atlet, bohong bila saya bilang tidak pernah sekalipun kesepian. Namun banyak hal membuat saya bisa membunuh sepi. Selain ada teman sekamar, kiriman berbagai kebutuhan dan makanan membuat saya tidak merasa sendirian. Setidaknya, saya merasa disayangi. Ada saat-saat ketika saya merindukan kampung halaman, sentuhan lembut mama yang akan merawat dengan segala ketulusan dan kasih sayang. Membuatkan teh hangat di pagi hari, ramuan herbal, masakan rumahan yang tak kalah lezat dari segala restoran di dunia. Saat-saat itu membuat saya mengutuk rindu, sekaligus tak mau melepasnya pergi. Saya ingin memeluk rindu itu seerat mungkin menemani rasa sakit. Rasa rindu itu membuat saya bertahan.

Jeng jeng jeng, akhirnya tiba ketika saya merasa lebih fit dibanding biasanya. Hari itu, cukup sehari saja saya bisa ikut senam secara penuh, tidak ada lagu yang terlewat. Hari itu adalah hari merayakan ketiadaan demam. Rasanya saya sudah menang telak dan hanya tersisa batuk membandel yang bertahan dengan militan mengganggu lalu lintas pernafasan.

Hari kesembilan, pagi hari, saya ditelepon perawat dan diminta ke ruang tes Swab PCR. Tepat sehari setelah demam saya hilang. Esoknya, hasil tes swab PCR menyatakan saya masih positif dengan CT value 26. Normalnya, CT value adalah 35-40 hingga tidak bisa menulari orang lain lagi. Baiklah, ini adalah masa penyembuhan dan katanya virus yang terdeteksi adalah virus yang sudah mati. Setelah menunggu selama satu hari, akhirnya pada 30 Juni 2021, saya diperbolehkan pulang dan melanjutkan isoman sampai gejala saya hilang. Satu gejala yang tak kunjung hilang, batuk.

Dalam riwayat hidup saya, saya punya pengalaman tidak baik dengan batuk. Di masa kuliah saya pernah batuk selama dua tahun, selama tinggal di Jakarta saya pernah batuk selama setahun. Di dua pengalaman batuk itu, saya melalui proses rontgen yang menyatakan paru-paru saya masih bersih. Terakhir, saya batuk selama sebulan akibat ISPA. Sungguhpun demikian, saya merasa bersyukur diperbolehkan pulang. Kabarnya, dulu dibutuhkan syarat CT value 35, supaya boleh pulang. Sekarang mungkin karena antrian pasien yang mengular membuat pasien harus bergiliran menggunakan kamar isolasi. Di Wisma Atlet, hingga saya keluar, ruang IGD sudah sangat penuh dan jalan lorong di lantai bawah pun digunakan sebagai ruang IGD. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa beristirahat di tengah lalu-lalang orang.

Rasanya tidak lengkap bila tidak mengucapkan terima kasih pada tenaga kesehatan yang selama delapan  jam harus mengenakan hazmat tanpa makan, minum, hingga buang hajat. Tingginya angka Covid-19 membuat tenaga kesehatan yang merupakan ujung tombak merasakan kelelahan tiada tara. Di hari ke empat, saat saya berada di Wisma Atlet, saya tidak pernah lupa dengan bunga ucapan bela sungkawa terhadap salah satu perawat yang meninggal akibat Covid-19.

Virus ini bisa bahaya bagi manusia. Mungkin sebagian tidak merasakan gejalanya, tapi bagi saya dan teman-teman lain yang merasakan gejala sedang saja tak tertahankan sakitnya. Terlebih buat sesama kita yang merasakan gejala berat serta memiliki penyakit bawaan. Karena itu, vaksin bisa bermanfaat ibarat helm sebagai pelindung. Vaksin bisa saja tidak membuatmu tidak terpapar virus, tapi mampu meringankan gejalanya.

Sekarang, saya kembali melanjutkan isolasi mandiri di sekretariat, berjuang supaya gejala batuk bisa segera hilang dan bisa melanjutkan aktivitas seperti biasa. Membantu apa yang bisa dibantu, memperjuangkan apa yang bisa diperjuangkan di tengah situasi yang berat ini.

Saat saya menutup tulisan ini, seorang kawan yang menjemput saya dari Wisma Atlet akhirnya terpapar Covid 19. Padahal, ia sudah mengenakan APD lengkap, katakanlah dengan jas hujan, sarung tangan dan masker. Namun, apa daya, virus ini memang bisa menyelinap ke dalam tubuh tanpa diketahui sang tuan rumah.  Saya tidak akan lupa, setiap hari dari pagi menjemput pagi, bunyi sirene ambulans selalu menemani hari-hari saya di Wisma Atlet. Kepada gelapnya malam, terangnya pagi, saya memanjatkan harap agar teman-teman yang terpapar Covid-19 bisa sembuh. Agar teman-teman yang masih terpaksa bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bisa selalu dilindungi semesta dan lolos dari makhluk tidak terlihat ini. Kepada teman-teman yang sama-sama berjuang melawan Covid-19, mari berjuang bersama sampai kita negatif lagi.**

Penulis: Dian Septi Trisnanti, Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI), Jakarta

Bagikan