a
HomeEditorialJangan Bodoh! Virusnya Nyata, Ada, dan Berbahaya

Jangan Bodoh! Virusnya Nyata, Ada, dan Berbahaya

Jangan Bodoh! Virusnya Nyata, Ada, dan Berbahaya

Trimurti.id, Bandung – Dalam beberapa minggu terakhir, berita buruk terus berdatangan. Rumah sakit sudah benar-benar kepayahan merawat pasien Covid-19. Ada banyak keluh-kesah dari keluarga pasien yang kesulitan mendapatkan layanan ambulans. Kelangkaan oksigen, vitamin, dan obat-obat antibiotik, terjadi di mana-mana. Sambil bosan menunggu kesempatan vaksinasi, kita semua semakin terbiasa mendengar suara sirene ambulans meraung-raung. Mesjid terdekat hampir setiap hari mengumumkan berita duka. Sementara, di grup percakapan, mereka yang dikabarkan jatuh sakit atau meninggal adalah orang-orang yang kita kenal cukup dekat.

Pandemi dapat menyergap siapa saja, terutama kaum yang harus setiap hari meninggalkan rumah untuk mencari nafkah. Lebih memprihatinkan lagi, semasa pandemi ini, beberapa serikat buruh dikabarkan kehilangan tenaga-tenaga pentingnya. Beberapa dari mereka yang meninggal adalah orang-orang yang selama ini berjasa menggerakkan serikat buruh. Pengurus serikat buruh memang menghadapi risiko tertular Covid-19. Karena tugas melayani anggota, mereka sering kali harus berjumpa dengan banyak orang. Kita semua tahu, pandemi ini membuat berhamburnya cerita buruh-buruh yang upahnya dicuri atau kehilangan pekerjaan. Serikat buruh mustahil berdiam diri melihat anggotanya diperlakukan secara sewenang-wenang.

Di Indonesia angka penderita Covid-19 menanjak tajam sejak minggu pertama Juni 2021. Saking gawatnya keadaan, Presiden Joko Widodo mengumumkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) – Darurat untuk Jawa dan Bali, yang berlaku sepanjang 3-20 Juli 2021. Tidak hanya itu, presiden bahkan menunjuk dua menteri terpenting sebagai koordinator PPKM Darurat.

Seperti banyak diberitakan, sebagian penyebab lonjakan kasus adalah karena virusnya semakin berjenis-jenis. Varian Delta dikabarkan lebih mematikan dan lebih mudah menular.

Sementara menunggu para ahli menemukan cara untuk mengendalikan Covid-19, ada baiknya kita menengok beberapa faktor lain yang memperburuk keadaan. Pertama, situasi sekarang memang tidak kunjung membaik karena berbagai kebijakan yang sudah ada sebelumnya. Kalau upah terlalu rendah, keluarga buruh mustahil mampu menyediakan makanan bergizi dan memelihara kesehatan, sehingga mudah terkena penyakit infeksi. Anjuran untuk mencuci tangan dengan sabun sulit untuk dipatuhi kalau air bersih tidak cukup tersedia di permukiman kaum buruh, tidak hanya tersedia di kawasan industri, mal, dan hotel.

Kelangkaan oksigen belakangan ini terjadi karena pemerintah lalai mengamankan pasokan oksigen untuk kebutuhan medis. Hanya beberapa hari sesudah ditunjuk sebagai Koordinator PPKM Darurat untuk Jawa dan Bali, pada 4 Juli 2021, Luhut Binsar Panjaitan minta agar oksigen industri dialihkan untuk kebutuhan medis. Dari berita ini kita tahu adanya kesalahan alokasi oksigen dan siapa yang selama ini dimanjakan oleh jaminan pasokan gas oksigen.

Kedua, karena tak sanggup melihat buruh berleha-leha di rumah, perusahaan tetap menyuruh buruh bekerja. Karena takut upahnya dipotong, buruh-buruh tetap masuk kerja. Meskipun paham bahwa pandemi belum benar-benar terkendali. Ancaman no work no pay, yang selama ini terus diulang-ulang oleh pengusaha (dan diamini oleh sebagian serikat buruh) pada situasi sekarang seharusnya sudah dinyatakan bangkrut.

Sudah berulang kali kita mendengar berita banyaknya buruh di kawasan perkantoran di Jakarta dan kawasan padat industri (Tangerang, Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan banyak lagi) yang jatuh sakit. Sudah bosan pula kita mendengar penjelasan pihak perusahaan yang mengatakan bahwa virusnya itu berasal dari klaster keluarga lalu dibawa ke tempat kerja. Diam-diam mereka ingin mengatakan bahwa penularan penyakit mustahil terjadi di tempat kerja. Untuk tidak memperburuk keadaan, manajer perusahaan seharusnya berhenti berlagak seperti pakar virus dan ilmu wabah. Selanjutnya, sesudah krisis berlalu, para pakar hukum sebaiknya berkumpul untuk memperdebatkan, apakah menyandera upah untuk memaksa orang bekerja di masa pandemi dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang membahayakan keselamatan orang lain.

Ketiga, situasi memang diperburuk oleh ulah dari orang-orang yang mencari untung dalam situasi krisis. Tahun 2020 lalu, sesudah pemerintah menggalakkan kampanye 3M (pakai masker, cuci tangan, jaga jarak), polisi Cianjur menangkap orang yang menimbun masker. Sempat diberitakan pula, di bandara Kualanamu, Medan, komplotan penipu menjual tes swab bekas untuk orang-orang yang akan perlu melakukan perjalanan. Belakangan ini, para pedagang serakah menangguk untung dengan dari penjualan tabung oksigen, vitamin, dan obat-obatan; yang dijajakan di toko daring dengan harga yang gila-gilaan.

Para keparat itu merasa dirinya adalah orang-orang cerdas yang jeli menangkap peluang usaha. Patut diduga mereka menimba ilmu dari orang-orang tak punya keahlian dan tujuan hidup, yang sekonyong-konyong muncul di kanal YouTube sebagai mentor-motivator kewirausahaan. Menimbun dan menjual obat-obatan dan alat kesehatan penting, yang diperlukan untuk menyelamatkan nyawa, adalah tindakan anti solidaritas. Seharusnya dinyatakan tegas sebagai kejahatan. Kejahatannya setara dengan makelar yang memeras pencari kerja di pabrik. Sama jahatnya dengan pengurus serikat buruh yang merampok uang pesangon sesudah mendesak buruh untuk menerima PHK yang tidak adil.

Keempat, hingga krisis memuncak seperti sekarang, Covidiot ndableg masih saja menyangkal adanya Covid-19. Dalam bahasa Indonesia, idiot berarti bebal atau lebih buruk lagi, dan dalam rombongan Covidiot ini terdapat beberapa selebritis otak udang. Bisa saja mereka mengakui adanya Covid-19, tapi menganggap remeh bahayanya. Jenis lain Covidiot adalah yang gemar mengumbar penjelasan berapi-api bahwa pencipta virus adalah penguasa dunia dari luar angkasa jelmaan iblis, atau merupakan ulah Yahudi internasional dari segala zaman. Kadang-kadang tertuduhnya adalah kelompok Illuminati, nama sebuah klub yang kegiatannya tidak diketahui. Khayalan versi lebih baru mengatakan bahwa Covid-19 merupakan rencana licik dari Partai Komunis China untuk menguasai bangsa Indonesia. Barangkali, di kemudian hari kita akan mendengar penjelasan yang lebih komprehensif: pandemi Covid-19 ternyata didalangi oleh perhimpunan Illuminati Yahudi penguasa dunia jelmaan iblis berhaluan komunis, yang dulunya berdomisili di sebuah kecamatan misterius di luar angkasa sana.

Lebih memprihatinkan lagi, ada saja sejumlah pengurus serikat buruh yang gemar menyebarkan cerita khayal semacam ini. Awal Juli 2021 lalu, sebuah akun Facebook memuat sebuah video yang memperlihatkan tenaga-tenaga kesehatan, bermasker, dan mengenakan pakaian pelindung diri, yang sedang berjoget-joget diiringi musik gembira. Video ini mencoba menciptakan kesan bahwa para tenaga kesehatan ini tengah berpesta untuk merayakan keberhasilan mereka. Tidak ada keterangan, dimanakah gambar ini diambil. Pembuat video hanya mencantumkan tulisan berikut:  “Apakah kita masih percaya kalau Covid itu betul2 ada..? Sadar sebenarnya kita diperdaya untuk dijadikan alat untuk mendapatkan uang.”

Astagfirullahaladzim. Jangan lagi mengarang cerita khayal. Hargai ilmu pengetahuan dan berhentilah bodoh. Ketahuilah, Covid-19 nyata ada dan berbahaya.

***

Sambil menunggu pemerintah belajar dari kesalahan yang lalu dan segera mengambil tindakan yang tepat, dalam situasi krisis sekarang rakyat masih terus bergerak untuk menolong dirinya. Gerakan rakyat menolong sesama rakyat nyatanya terus bergulir. Berbagai percobaan sedang berlangsung di tengah masyarakat, dan contoh-contoh yang baik sudah terlihat. Media sosial dan grup percakapan sekarang menjadi tempat sesama rakyat mencari dan membagikan informasi dan berbagai pertolongan.

Di sebuah pemukiman buruh di Cimahi, Jawa Barat, tolong-menolong datang melalui hubungan pertetanggaan. Ada saja tetangga yang berusaha sebisanya mengirimkan makanan jadi untuk keluarga yang tengah menjalani isolasi mandiri. Upaya yang sama dilakukan sekelompok perempuan di Jakarta Timur, yang secara sukarela selama tiga jam sehari memasak dan mengirimkan makanan secukupnya untuk keluarga-keluarga buruh yang sedang kesusahan. Di Bandung dan Jakarta sejumlah relawan masih bergerak mengumpulkan sumbangan uang dan vitamin.

Sementara itu, sejumlah relawan yang tidak saling kenal sebelumnya saat ini terus bekerja dari rumah masing-masing, membangun situs web yang menyajikan informasi untuk mereka yang membutuhkan ambulans, oksigen, konsultasi kesehatan, dan seterusnya. Di Bekasi, meski sering ditertawakan, seorang tokoh perburuhan terus meyakinkan teman-temannya bahwa pandemi ini nyata dan vaksinasi itu penting.  Pada situasi krisis semacam ini, sepantasnya jika pemimpin gerakan buruh menunjukkan keberanian dan teladan. Serikat atau organisasi buruh juga ditantang untuk segera menemukan bentuk-bentuk solidaritas yang baru.

Selama beberapa minggu ke depan, Trimurti.id berencana menurunkan tulisan-tulisan khusus yang berkaitan dengan pandemi Covid-19. Salah satu tulisan menceritakan pengalaman seorang pengurus serikat buruh yang menderita sakit berhari-hari akibat virus ini. Selain cerita dari lapangan, beberapa tulisan merupakan panduan praktis yang semoga bermanfaat untuk menolong diri sendiri, anggota keluarga, kerabat, atau teman yang tertular Covid-19. Selamat membaca.

Redaksi Trimurti.id

Bagikan