Categories
Kabar Perlawanan

Buruh Perempuan PT Amos Indah Indonesia Mengingat Marsinah

Trimurti.id–Ratusan buruh PT Amos Indah Indonesia menggelar aksi bertajuk “Panggung Marsinah Menggugat” di depan pabrik mereka di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, pada Jumat, 8 Mei 2026. Tepat 33 tahun sebelumnya, jasad Marsinah ditemukan di Wilangan, Nganjuk, dengan tubuh penuh tanda-tanda kekerasan.

Marsinah adalah buruh perempuan asal Nganjuk yang bekerja di PT Catur Putra Surya (CPS), Porong, Sidoarjo. Ia dikenal vokal memperjuangkan hak-hak rekan kerjanya. Pada 3–4 Mei 1993, Marsinah ikut menggerakkan aksi mogok kerja setelah pihak manajemen menolak permintaan pemerintah untuk menaikkan upah buruh sebesar 20 persen. Namun, ia menghilang setelah mendatangi Kodim setempat untuk mencari tahu nasib rekan-rekannya. Marsinah tidak pernah kembali.

Lebih dari tiga dekade setelah kematiannya, pada 6 November 2025, Presiden Prabowo Subianto menetapkan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TH/Tahun 2025 dalam bidang perjuangan sosial dan kemanusiaan. Namun, hingga kini, pelaku intelektual di balik pembunuhannya belum pernah terungkap.

Baca juga: Mendiskusikan dan Mengingat Marsinah, Buruh Perempuan yang Pembunuhnya Masih Menjadi Misteri

Aksi protes di Cilincing itu sekaligus menjadi panggung bagi buruh PT Amos Indah Indonesia dalam menghadapi pemberangusan serikat dan PHK massal di tempat mereka bekerja. Aksi tersebut dihadiri oleh solidaritas lintas sektor dan serikat.

Baca juga: Setelah Mogok Kerja, Buruh PT Amos Berhasil Desak Perusahaan Penuhi Tuntutan

Baca juga: Aksi Buruh Perempuan PT Amos Mencegah Pemindahan Mesin Pabrik

Baca juga: PT Amos Indah Indonesia Ingkar Janji, 133 buruh dipecat

Jumisih, mewakili wakil presiden Partai Buruh bidang perempuan, pekerja rumah tangga, dan buruh migran, menyebut para buruh perempuan yang hadir merupakan pewaris keberanian Marsinah. “Kami justru mengakui Marsinah sebagai pahlawan jauh sebelum Prabowo menyatakan Marsinah sebagai pahlawan,” ujarnya.

Baca juga: Menetapkan Soeharto sebagai Pahlawan, Menghina Penderitaan Marsinah

Elza Yulianti, Sekretaris Bidang Kesejahteraan dan Penggalangan Perempuan Exco Pusat Partai Buruh, menilai gelar pahlawan yang disematkan kepada Marsinah penting sebagai penegasan bahwa perjuangan buruh perempuan adalah bagian dari sejarah bangsa. Namun, ia menekankan bahwa pengakuan itu tidak cukup tanpa keadilan. “33 tahun waktu yang cukup panjang untuk mengukur apakah sebuah luka bisa disembuhkan atau justru terus dibiarkan terbuka,” ujarnya.

Gelaran aksi protes ini mendesak negara membuka kembali penyelidikan kasus pembunuhan Marsinah dengan alasan bahwa kejahatan ini tidak mengenal batas kedaluwarsa. 

Baca juga: 29 Tahun Kematian Marsinah: Pembunuhnya Bergentayangan

Azmir, staf keorganisasian KPBI, mengatakan pengakuan Marsinah sebagai pahlawan merupakan hasil perjuangan panjang gerakan buruh. “Ada tugas bersama untuk menjelaskan kepada rakyat Indonesia tentang kenapa sosok Marsinah menjadi pahlawan kelas buruh,” ungkapnya.

Mutiara Ika Pratiwi dari Perempuan Mahardika berpesan agar buruh PT Amos Indah Indonesia terus menjadikan serikat sebagai kekuatan utama. “Karena persoalan upah murah, jam kerja panjang, status kontrak, sampai harian lepas itu adalah persoalan yang akan terus kita hadapi ke depannya,” ujar Ika.

Dian Septi, Pemimpin Umum Marsinah.id menegaskan bahwa kekuatan kolektif serikat dibangun melalui proses pengorganisiran yang panjang, bukan dari hubungan baik dengan perusahaan. “Aksi massa bukan aksi pinggiran. Aksi massa bukan aksi atau tindakan kecil-kecilan. Dari aksi massa kawan-kawan belajar tentang politik kelas pekerja. Dari aksi massa, kawan-kawan belajar bahwa kekuasaan bisa diruntuhkan, produksi bisa dihentikan,” kata Dian.

Aksi ditutup dengan prosesi penyalaan lilin di depan foto Marsinah dan poster-poster tuntutan yang dibawa para peserta.

 

Reporter: Elijah Warobay

Editor: Nana Miranda

Melanjutkan semangat Trimurti
 
Di era kolonial, S.K. Trimurti berani menulis meski risikonya penjara. Kini, kami melanjutkan tradisi itu—memberitakan yang benar, meski tidak populer.
 
Trimurti.id adalah media nirlaba. Tidak ada pemilik konglomerat. Tidak ada agenda tersembunyi. Hanya semangat untuk Baca, Sebar, dan Lawan.
Jadilah bagian dari sejarah ini.
Klik link di bawah untuk mendukung Trimurti