Categories
Jam Istirahat

Upstream: Pekerja Gig dan Realitas Sosial

Malam itu, hujan turun dengan kemurkaan yang puitis, seolah-olah langit Bandung tengah menangisi ketidakpastian yang abadi. Sudah berbulan-bulan cuaca di kota ini menjelma seperti seorang kekasih yang murung—tak pernah bisa ditebak, tak pernah mau diikat janji. Hujan deras yang tak kenal ampun itu memaksa saya menginap di ruang tamu sekaligus tempat tidur sebuah kantor digital agency yang dikelola secara kolektif milik kawan-kawan saya; sebuah ruangan yang dalam kesederhanaannya, menjadi panggung kecil bagi drama manusia modern.

Untuk memecah sunyi yang mengintai seperti bayang-bayang di sudut gelap, kami—empat jiwa yang bosan, jatuh ke dalam rutinitas yang paling menghibur sekaligus paling menyedihkan—menjadi sinefil dadakan. Entah berapa gulungan film yang telah kami telan pada malam selama kami berada di sana. Hingga akhirnya kami berhenti pada sebuah judul yang, dengan ironi lembut, bernama Upstream (2024). Sebuah film yang bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah cermin yang tajam. Sebuah penggambaran yang kejam sekaligus busuk tentang realitas sosial masa kini: ia adalah bagaimana mekanisme ekonomi digital bekerja dan menggiling jiwa manusia dengan senyuman efisiensi.

Dalam kapitalisme klasik, seluruh upaya pengawasan dilakukan oleh mandor berdarah dan berdaging dengan cambuk kasar di tangan. Tapi di era yang begitu canggih ini, kini mandor telah berevolusi menjadi sesuatu yang lebih dingin, tak berwajah, dan sempurna dalam kekejamannya; ia bernama algoritma.

Bagi para pekerja gig—kurir, driver ojek online, dan pengantar makanan—algoritma bukanlah alat bantu, ia adalah tuan yang tak terlihat, mandor digital yang mengawasi setiap detik dengan mata yang tak pernah berkedip. Manusia tidak lagi dilihat sebagai individu dengan mimpi, kelelahan, atau ketakutan, ia hanyalah titik data kecil di atas peta digital yang luas, sebuah koordinat yang harus digerakkan secepat mungkin demi akumulasi modal yang tak pernah puas. Algoritma menentukan rute tercepat tanpa sedikit pun mempedulikan denyut nadi yang berdegup kencang, tanpa memikirkan hujan deras yang membasahi tulang, atau risiko kecelakaan yang mengintai di setiap tikungan. Ia adalah tirani dalam balutan kode, sebuah instrumen penindasan yang begitu elegan hingga kita hampir tak menyadari bahwa kita sedang diperbudak oleh sesuatu yang kita sendiri ciptakan.

Pekerja gig hari ini adalah prekariat—kelas pekerja yang rapuh, yang hidup dalam ketidakpastian abadi, tanpa keamanan kerja, tanpa tunjangan kesehatan yang layak dan tanpa mimpi pensiun yang tenang. Mereka adalah proletariat baru yang hidupnya lebih tragis akibat ilusi kebebasannya yang begitu memikat.

Perusahaan-perusahaan platform digital dengan lihai menyebut mereka “mitra”, sebuah kata yang terdengar begitu manis dan egaliter, seolah-olah mereka adalah rekan bisnis yang setara. Padahal dalam kenyataannya, mereka tak memiliki kendali sedikit pun atas upah yang fluktuatif, atas aturan main yang berubah-ubah seperti angin. Risiko bisnis, kerusakan kendaraan, kecelakaan di jalan licin, serta cuaca buruk yang tak kenal ampun, sepenuhnya ditumpahkan ke pundak mereka. Sementara perusahaan hanya duduk manis di puncak piramida dan mengambil persentase keuntungan dengan tangan bersih. Ini adalah transfer risiko yang sempurna: keuntungan dimonopoli secara privat dan kerugian didistribusikan ke pada tubuh-tubuh yang lelah.

Di balik semua ilusi tersebut, tersembunyi mekanisme yang paling kejam sekaligus paling elegan yang tertuang dalam teori surplus value (nilai tambah) Karl Marx. Marx mengajarkan bahwa kapitalis tidak membeli “kerja” secara langsung, melainkan tenaga kerja—kemampuan manusia untuk bekerja (labour power). Nilai tenaga kerja (upah) ditentukan oleh biaya reproduksinya: sesuatu yang diperlukan agar pekerja bisa bertahan hidup dan kembali bekerja esok hari.

Padahal ketika pekerja bekerja, ia menciptakan nilai baru yang jauh lebih besar daripada upah yang diterimanya. Selisih antara nilai yang diciptakan dan nilai tenaga kerja yang dibayar itulah surplus value—nilai lebih yang dirampas sepenuhnya oleh pemilik modal sebagai profit.

Dalam ekonomi gig, surplus value berwujud sangat halus. Pekerja tidak diberi upah tetap, melainkan dari berapa banyak jumlah pesanan yang diselesaikan. Algoritma dirancang sedemikian rupa sehingga pekerja harus bekerja 12–14 jam sehari hanya untuk mencapai penghasilan minimum. Setiap detik di jalan, setiap order yang diantar, menghasilkan nilai bagi platform. Potongan komisi perusahaan (sering 20–30%) adalah bentuk langsung surplus value. Risiko (bensin, motor rusak, kecelakaan, hujan deras) ditanggung pekerja, sehingga nilai tenaga kerja (variable capital) ditekan serendah mungkin, sementara surplus value mengalir deras ke rekening perusahaan. Inilah eksploitasi tanpa wajah: modal bertumbuh bukan karena “inovasi” semata, melainkan melalui pencurian sistematis atas waktu hidup manusia.

Upstream, dengan keindahannya yang menyakitkan, berhasil menangkap dan menggambarkan konsep involusi (neijuan) bekerja di China; persaingan yang begitu intens dan ekstrim mengakibatkan manusia harus bekerja jauh lebih keras, jauh lebih brutal, hanya untuk mempertahankan standar hidup yang sama atau bahkan lebih rendah. Ini adalah bentuk kontemporer dari apa yang Marx sebut sebagai kontradiksi kapitalisme: produktivitas meningkat tajam berkat algoritma, tetapi upah efektif stagnan atau turun. Hasilnya adalah involusi—roda berputar semakin cepat tetapi hanya diam di tempat yang sama.

Di sini muncul alienasi (Entfremdung) yang paling murni, seperti yang diramalkan Marx dalam naskah-naskah mudanya. Pekerja terasing dari:

  1. Produk kerjanya (makanan mewah yang diantar, tapi tak pernah ia nikmati dengan tenang);
  2. Proses kerjanya (kerja bukan lagi ekspresi diri, melainkan paksaan algoritma);
  3. Sesama manusia (persaingan antar pekerja gig menghancurkan solidaritas kelas);
  4. Dan dirinya sendiri (manusia kehilangan esensi kreatif dan sosialnya, menjadi titik data semata).

Algoritma sebagai mandor digital memperkuat alienasi ini. Setiap gerak-gerik pekerja dikendalikan oleh logika impersonal demi kepentingan akumulasi modal. Waktu, yang seharusnya menjadi milik pribadi yang paling intim, sepenuhnya dikomodifikasi menjadi nilai rupiah yang murah. Komoditas fetisisme pun bekerja dengan sempurna: kita melihat harga di aplikasi sebagai “nilai pasar” yang netral, bukan sebagai keringat dan risiko yang tersembunyi di baliknya.

Salah satu aspek paling tragis dalam Upstream adalah bagaimana struktur keluarga—yang seharusnya menjadi pelabuhan kasih sayang—berubah menjadi “jangkar ekonomi” yang berat, yang menahan setiap gerak perlawanan. Drama yang begitu apik ini berhasil dipertontonkan oleh Gao Zhilei (Zheng Xu) yang berperan sebagai kepala rumah tangga yang penuh dedikasi.

Gao dipaksa bertahan dalam pekerjaan yang ia anggap telah merendahkan martabatnya, bukan karena ia bodoh atau pengecut, melainkan karena ia disandera oleh cinta itu sendiri: cicilan rumah yang tak kenal ampun, biaya pengobatan ayahnya, dan pendidikan anak yang harus terus berlanjut. Kapitalisme modern memahami psikologi manusia dengan begitu sempurna. Ia memanfaatkan afeksi paling suci dari umat manusia—rasa kasih sayang terhadap keluarga untuk memastikan kepatuhan total. Cinta kemudian bertransformasi menjadi instrumen penindasan yang paling elegan: jika ia berhenti, keluarganya hancur. Maka ia terus mengayuh, terus berlari melawan arus, meski setiap energi menghisap perlahan jiwanya.

Dalam kerangka Marx, keluarga bukanlah ruang suci yang netral, melainkan bagian dari reproduksi tenaga kerja. Tekanan sistem yang seharusnya memicu kesadaran kelas malah dikaburkan oleh tanggung jawab domestik. Gao tak punya kemewahan untuk mogok atau berontak, ia adalah korban sekaligus sandera dari kapitalisme modern yang paling tragis karena memiliki sandera; yang tak lain merupakan orang-orang yang ia cintai.

Memang, Upstream terasa kurang “menyenangkan” di akhir ceritanya—setidaknya jika kita mengharapkan ledakan revolusi romantis atau pelarian heroik. Alih-alih bangkit melawan sistem, tokoh utama akhirnya beradaptasi, menjadi bagian dari mesin yang menghisapnya, semata-mata karena keluarga telah menjadi sandera ekonomi yang tak memberinya pilihan lain.

Namun, justru di situlah letak kekuatan sejati film ini. Film ini menggambarkan realitas dunia saat ini dengan ketepatannya yang menyakitkan: keberlangsungan hidup sering kali harus dibayar dengan penyerahan agensi pribadi kepada sistem yang menindas. Bukan karena manusia lemah, melainkan karena sistem itu sendiri telah begitu sempurna merancang perangkapnya menggunakan cinta, tanggung jawab, ketakutan, dan ilusi kebebasan sebagai rantai emas yang paling indah.

Upstream bukan sekadar film tentang pekerja gig. Ia adalah potret sebuah peradaban yang, dalam pencarian efisiensi dan keserakahan tanpa batas, telah berhasil mengubah manusia menjadi roda gigi yang berputar dengan anggun sambil perlahan-lahan kehilangan jiwanya. Di balik setiap notifikasi order yang berdentang di layar ponsel, di balik setiap komisi yang mengalir ke rekening perusahaan, tersembunyi surplus value yang dicuri setiap detik. Di balik senyuman “mitra”, tersembunyi alienasi yang mendalam. Dan di balik pelukan hangat keluarga, ada jangkar tersembunyi yang menahan perlawanan.

Mungkin jika Marx masih hidup, ia akan tersenyum sinis ketika melihat semuanya. Sistem ini begitu sempurna dalam menindas karena ia menggunakan hal-hal paling manusiawi sebagai senjatanya. Dan di tengah hujan deras Bandung yang tak kunjung mereda, Upstream mengingatkan kita pada sesuatu: selama surplus value terus mengalir, selama alienasi tetap tersamar, dan selama keluarga tetap menjadi belenggu emas, roda involusi akan terus berputar dengan anggun, dingin, kejam, dan tanpa ampun.

Pada akhirnya, hanya melalui kesadaran material yang tajam dan kritis terhadap mekanisme ini, suatu hari, umat manusia dimungkinkan untuk berhenti mengayuh melawan arus dan mulai mengubah arah sungai ekonomi.

 

Penulis: Jim Alberka

Editor: Syawahidul Haq

Melanjutkan semangat Trimurti
 
Di era kolonial, S.K. Trimurti berani menulis meski risikonya penjara. Kini, kami melanjutkan tradisi itu—memberitakan yang benar, meski tidak populer.
 
Trimurti.id adalah media nirlaba. Tidak ada pemilik konglomerat. Tidak ada agenda tersembunyi. Hanya semangat untuk Baca, Sebar, dan Lawan.
Jadilah bagian dari sejarah ini.
Klik link di bawah untuk mendukung Trimurti