Categories
Telusur

Pemberangusan Serikat SBDI PT Yihong Oleh Preman dan Media

Trimurti.id – Syahroni (45) telah bekerja di PT Yihong Novatex Indonesia selama dua tahun lebih. Ia memasak makanan kesukaan para Tenaga Kerja Asing (TKA), olahan babi, dengan sepenuh hati.

Berbagai resep harus dipelajarinya Syahroni terlebih dahulu, sebab ia tidak memakan daging jenis itu, apalagi mengolah untuk dihidangkan di rumahnya. Tapi selama ia bekerja, tidak pernah ada yang merasa keberatan dari hidangan hasil buah tangannya.

Syahroni (45), bertugas di dapur PT Yihong. Sempat terkena pukulan oleh preman. Setelah dipecat, sehari-sehari menjadi ibu rumah tangga. Rabu 23/04/2025

Biasanya, Syahroni berangkat subuh untuk belanja kebutuhan dapur tempat ia bekerja. Paling lambat jam setengah enam pagi. Supaya bisa mengejar empat puluh piring untuk sarapan para buruh migran PT Yihong Novatex Indonesia.

Empat puluh hidangan di pagi, siang, dan sore ia masak seorang diri. Oleh karena itu, Syahroni baru bisa pulang paling cepat di jam enam sore. Beruntung ada buruh kebersihan yang ditempatkan di gedung asrama TKA, Melina (37), yang membantu jika tugasnya membersihkan ruangan sudah rampung.

Melina (37), buruh bagian dapur yang terkena pemecatan di Yihong. Rabu, 23/04/2025.

Di awal-awal bekerja ia tidak merasa ada yang salah, selama upahnya turun tepat waktu, Syahroni tidak keberatan. Sampai hari membawanya ke dalam rasa letih, disitu ia mulai bertanya-tanya; apakah beban dan jam kerja yang ia pikul sudah sesuai dengan aturan yang berlaku? Di situ juga Syahroni sering bertukar informasi dengan SBDI PT Yihong.

Karena kondisi kerja seperti ini, Syahroni dan Melina, berencana untuk mengundurkan diri setelah lebaran. Bukan tidak butuh uang, tapi keletihan yang diderita tidak sebanding. 

“Ibu nanya sama anak-anak KASBI, bener ga sih berangkat setengah enam pagi, pulang kadang jam tujuh kadang jam enam sore, gak ada libur? Libur hanya satu bulan sehari” ujar Syahroni 23/04/2025.

Di hari-hari libur seperti tanggal merah dan hari besar lainnya, Syahroni tetap harus bekerja. Kadang ia merasa ingin seperti buruh lain yang tetap punya jadwal hari libur. Meskipun perusahaan membayar all-in sepaket dengan hak-hak lembur untuk Syahroni, tapi beban kerjanya tetap saja tidak masuk akal. Upah syahroni berkisar Rp3.700.000,00 bersih tanpa uang makan.

Demi iklim kerja yang lebih baik dan hak-haknya sebagai buruh terpenuhi. Syahroni dan Melina ikut bergabung bersama SBDI PT Yihong. Bersama mereka, uneg-uneg Syahroni dan Melina tertumpahkan.

Pada tanggal 10 Maret 2025, Syahroni sudah di dapur di pagi buta seperti biasa. Saat hendak bersih-bersih dapur, pihak perusahaan menyuruhnya pulang segera. Syahroni langsung melangkah keluar pintu gerbang pabrik, banyak buruh-buruh yang di luar sedang membaca spanduk PHK massal.

Syahroni buru-buru mendatangi kediaman Melina. Ia mengabarkan kepada Melina bahwa perusahaan memulangkan dirinya saat itu dan menceritakan ada spanduk besar yang belum Syahroni sempat baca. Melina kebingungan, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Syahroni dan Melina kembali ke pabrik. Mereka berdua terkejut namanya ada di daftar orang terkena PHK.

Syahroni bersama Melina, buruh bagian dapur PT Yihong. Keduanya terkena pemecatan. Rabu 23/04/2025.

Wah apa gara-gara saya tanda-tangan anggota KASBI?” Ujar Syahroni bertanya-tanya mengingat momen pemecatan itu. 

Selepas dipecat Syahroni menjadi ibu rumah tangga pada umumnya, suaminya masih bisa bekerja untuk membiayai kebutuhan rumah tangga. Ia menghabiskan waktu mengurus kebutuhan rumah tangga, kalau ada luang ia mengunjungi teman-temannya di Sindang Laut. 

Syahroni yang kala itu sedang berkegiatan di Sindang Laut, menerima kabar bahwa teman-teman SBDI PT Yihong mengalami ancaman dari preman setempat. Syahroni sesegera mungkin menuju ke pabrik, namun preman yang dimaksud sudah tidak ada di sana.

Nama preman yang disebutkan rekannya di SBDI PT Yihong bikin Syahroni geram, ia bergegas mendatangi rumah preman bernama Muadi tanpa pikir panjang. Syahroni datang membawa pertanyaan kenapa Muadi melakukan ancaman ke buruh-buruh yang tidak memiliki salah apapun.

“Ibu bilang, eh Muadi, anak-anak tuh gak nyusahin kamu, gak ngerusak pabrik. Cuman nongkrong-nongkrong aja” cerita Syahroni.

“Orang udah di-PHK, kegiatannya apa?” kata Syahroni meniru jawaban Muadi. 

Kala itu, pada tanggal 9 April 2025, SBDI PT Yihong sedang bercengkrama di sekitaran pabrik saja. Duduk-duduk santai menyantap kopi dan membakar rokok. Sesekali membicarakan bagaimana nasib masing-masing setelah PHK massal yang menerjang mereka.

Muadi datang menghampiri dan hendak menyuruh mereka pulang. Salah satu anggota SBDI PT Yihong sampai ditarik kerah bajunya, bogem Muadi ditempelkan ke pipi kanan buruh tersebut untuk menciptakan kesan angker.

“Orang mereka bukan orang sini, orang perantauan bukan asli Kanci,” kata Muadi menjawab pertanyaan Syahroni.

“Kamu tuh gak punya hak…” Syahroni menyahut.

“Apa saya tuh (melakukan itu) digaji (dibayar)” Muadi memotong pembicaraan.

Dalam pembicaraan yang mulai memanas, Muadi mendorong beberapa kali Syahroni. Sambil memasang gestur hendak memukul. Pada akhirnya satu pukulan melayang ke kepala Syahroni.

“Saya laporin ke polisi” ujar Syahroni.

“Saya gak takut, sana lapor” jawab Muadi.

Dari Pabrik ke Halaman Berita

“Itu di TikTok nyalah-nyalahin anak pabrik,” ujar Syahroni.

TikTok yang dimaksud adalah beberapa konten influencer yang memiliki tendensi untuk menyerang dan mendiskreditkan aktivitas-aktivitas SBDI ketika menuntut hak-nya.

Kasus pemecatan massal ini memang menjadi buah bibir di berbagai sosial media. Tak terkecuali media massa yang memberitakan.

Akun Tik Tok  dapurnini dengan jumlah pengikut sebanyak 92 ribu misalnya, unggahannya memiliki tendensi untuk mendiskreditkan aksi protes buruh sebagai tingkah-laku terbelakang yang tidak ramah investasi.

Di lain akun Tik Tok tommysujarwadi_  mendengungkan narasi keliru bahwa salah satu tuntutan dalam aksi protes yang dilakukan oleh para buruh adalah “tutup pabrik”. Sedangkan SBDI PT Yihong tidak pernah meminta pabrik tutup.

Selanjutnya ada akun Jem & Avel yang memiliki pengikut sebanyak 160 ribu. Dalam unggahannya, selain akibat mogok kerja yang terjadi selama 4 hari, ia menyebut, tutupnya pabrik tersebut sudah sesuai dengan tuntutan “tutup pabrik”. 

Selain dua akun besar yang sudah disebutkan, akun lain yang kurang lebih bernada sama: mendiskreditkan mogok para buruh dan mendengungkan tutupnya pabrik tersebut sesuai dengan tuntutan dari aksi pada 2022 lalu. Akun tersebut antara lain: Cirebon 823 547 pengikut, kitting.oten 75,5 ribu pengikut, ruthevina 7,5 ribu pengikut, calon_bapa 338 pengikut, dan sukramanggala 23 ribu pengikut.

Beralih menuju Instagram, akun fakta.indo dengan jumlah pengikut 2 juta, menjadikan dokumentasi protes warga tahun 2022 headline dalam pemberitaannya, tanpa menyertai keterangan lebih lanjut atas foto tersebut.

Media massa yang seharusnya menjadi corong pelurusan fakta justru dalam kasus ini tidak demikian. Beberapa media massa dengan kredibilitas mentereng masih terkecoh dengan narasi yang mendiskreditkan serikat buruh.

Sebut saja Radar Cirebon  berupaya untuk membingkai tutupnya pabrik tersebut akibat aksi protes dan seolah mengadu-domba antara mereka yang ikut protes atau ikut-ikutan protes.

Lalu pemberitaan yang diterbitkan oleh Pikiran Rakyat dengan judul “Ironi Pekerja PT Yihong di Cirebon, Demo Minta Perusahaan Ditutup, Kini Minta Dipekerjakan Kembali” tidak kalah ironinya, judulnya memiliki kesan seakan serikat buruh itu linglung. 

Itu pun terjadi dalam pemberitaan Kumparan dengan judul “Duduk Perkara PT Yihong Didemo Diminta Tutup Lalu Tutup Betulan PHK Ribuan Buruh” yang mengaburkan apa yang sebenarnya dituntut serikat SBDI Pt Yihong. 

Kemudian pemberitaan dari Tribun Sumsel menggunakan istilah provokator kepada mereka yang hendak mengajak bersolidaritas. Narasi di dalam berita tersebut seolah solidaritas itu hasil provokator dan dalang dari PHK Massal.

Berikut berita-berita dari media massa yang mendiskreditkan serikat buruh SBDI-KASBI:

Media

Judul

Kumparan.comDuduk Perkara PT Yihong Didemo-Diminta Tutup lalu Tutup Betulan PHK Ribuan Buruh
Disway.idKaryawan PT Yihong Novatex Indonesia Sweeping Pekerja dan Terobos Kantor HRD, Setelah Minta Tutup, Minta Bekerja Kembali
Ruangbicara.co.idTerungkap! Ini Faktor Penyebab PT Yihong Novatex Cirebon PHK Ribuan Pekerjanya, Sungguh Naas
Selasar.coVIDEO : Aksi Mogok Karyawan TP Yihong, Berujung PHK Massal
Pikiran RakyatIroni Pekerja PT Yihong di Cirebon, Demo Minta Perusahaan Ditutup, Kini Minta Diperkerjakan Kembali
Tribun SumselViral Aksi Provokator Ajak Mogok Kerja PT Yihong, Berujung Malah Terkena PHK Massal
Wartaekonomi.comRibuan Pekerja Kena PHK, PT Yihong Novatex Tutup Usai Mogok Kerja Besar-Besaran
Akurat.coMogok Kerja Berimbas PHK, PT Yihong Novatex Indonesia Gulung Tikar di Cirebon!
Radar LampungGara-Gara Mogok Kerja, PT Yihong Novatex PHK 1.126 Karyawan
Radar BanyuwangiPHK Massal di PT Yihong Novatex: Perusahaan China di Cirebon Gulung Tikar Usai Karyawan Mogok Kerja 4 Hari
Beritasatu.comBalada PT Yihong PHK 1.126 Karyawan Gegara Mogok Kerja, Salah Siapa?
Radar KediriMogok Kerja 4 Hari, PT Yihong Akhirnya Harus Gulung Tikar dan PHK Lebih dari Ribuan Pekerja
Delik.tvDari Solidaritas Pekerja, Pabrik Tutup, PHK 1.126 Pekerja: PT Yihong Novatex Indonesia Jadi Sorotan Publik
Inews JabarRibuan Buruh PT Yihong di Cirebon Kena PHK Massal gegara Mogok Kerja, Siapa yang Salah?
Rejabar.comKisah PT Yihong, Ribuan Pekerja Mogok Kerja Berbuntut PHK Massal
Westjavatoday.comPT Yihong Novatex Indonesia Putuskan Tutup Operaional Pabrik di Astanajapura-Cirebon
Fajar.co.idPerusahaan Asal China di Cirebon Bangkrut Usai Mogok Kerja Massal
Media BantenBerawal Mogok Kerja, PT Yihong Novatex PHK Ribuan Karyawan
Bacakoran.coHeboh! Mogok Kerja 1.126 Karyawan Pabrik PT Yihong Berujung Demo Gegara Kena PHK, Netizen Dukung Perusahaan

Pabrik PT Yihong Tutup Total Usai PHK 1.126 Buruh? Begini Kabarnya

CNBC IndonesiaPabrik PT Yihong Tutup Total Usai PHK 1.126 Buruh? Begini Kabarnya

 

 

Reporter: Rokky Rivandy, Syawahidul Haq

Foto: Syawahidul Haq

Editor: Abdul Harahap

 

Melanjutkan semangat Trimurti
 
Di era kolonial, S.K. Trimurti berani menulis meski risikonya penjara. Kini, kami melanjutkan tradisi itu—memberitakan yang benar, meski tidak populer.
 
Trimurti.id adalah media nirlaba. Tidak ada pemilik konglomerat. Tidak ada agenda tersembunyi. Hanya semangat untuk Baca, Sebar, dan Lawan.
Jadilah bagian dari sejarah ini.
Klik link di bawah untuk mendukung Trimurti