Nama saya Rio. Tahun ini genap berusia 24 tahun. Saya adalah seorang buruh retail Alfamart di pojokan Jatinangor, Sumedang. Dalam 1 minggu, saya harus masuk kerja selama 6 hari. Dalam kontrak kerja, seharusnya saya bekerja selama 8 jam per hari. Jika saya sedang kebagian sif pagi, saya harus bekerja dari pukul 6 hingga 2 sore. Tapi kenyataannya, jam kerja saya selalu lebih. Kadang saya harus pulang pukul 3, 4, bahkan 5 sore. Jadi bisa dibilang saya bekerja 10 hingga 11 jam setiap hari.
Dalam kontrak kerja, tertulis job desk saya sebagai penjaga toko. Jadi saya mau ceritakan bagaimana pekerjaan itu mengantarkan saya menulis catatan ini.
Job Desk Setiap Hari di Toko
Pukul 6 pagi saya harus sudah sampai di toko. Saya mulai dengan membuka seluruh rolling door dan pintu kaca. Setelah selesai, saya biasanya merapikan barang di antara puluhan rak. Terkadang, di sela-sela itu pengunjung sudah datang untuk membeli beberapa produk dan buru-buru menuju kasir. Pengunjung pagi biasanya lebih tergesa-gesa, jadi saya harus lebih cepat membereskan rak.
Dalam 1 hari biasanya saya bekerja bersama tiga orang lainnya. Kami berbagi tugas setiap hari. Satu orang staf, satu merekap penjualan, satu menjaga kasir, satu lagi mengerjakan yang lain seperti menyapu, mengepel, menata rak, hingga mengantar barang. Ya, mengantar barang. Dengan adanya layanan pembelian online, kami dibebani satu pekerjaan tambahan yaitu mengantar barang.
Jika toko sedang lengang, biasanya kami hanya membuka satu kasir. Jadi, kalau kalian melihat ada dua komputer kasir di minimarket tapi hanya ada satu kasir yang melayani pembelian, artinya penjaga toko lain sedang mengerjakan pekerjaan yang lain lagi.
Itu seperti yang saya ceritakan di atas. Tapi jika antrean kasir sedang panjang, lalu tiba-tiba kasir satu lagi menyilakan kalian, “Silakan sebelah sini,” itu artinya ada pekerjaan lain yang ditinggalkan sementara.
Semakin siang, toko semakin ramai. Pembelian online juga semakin banyak. Saya harus menjadi kurir barang dengan radius rata-rata 2 – 3 KM dari toko. Masing-masing pengantaran diberi durasi maksimal 60 menit. Kebanyakan pembelian online dilakukan mahasiswa yang mengekos di sekitaran kampus. Delivery service itu kadang tidak tanggung-tanggung, saya pernah mengantar ke 90 alamat yang berbeda dalam satu sif kerja.
Seluruh pekerjaan itu saya lakukan tumpang tindih. Jika pekerjaan membereskan rak belum selesai dan di saat yang sama saya harus menjadi kurir, maka saya sementara tinggalkan rak dan bergerak mengantar produk. Begitu juga yang lain. Dan itu juga yang membuat saya bingung, kapan satu pekerjaan dikatakan beres? Itulah kiranya yang menyebabkan jam kerja saya menjadi panjang.
Kerugian yang Kami Tanggung
Dari sekian kesibukan saya dan kawan-kawan di toko itu, kami bahkan hampir tidak punya waktu untuk istirahat. Jika kembali pada kontrak, seharusnya saya punya waktu 1 jam untuk istirahat. Nyatanya, saya hanya bisa istirahat tidak lebih dari 15 menit. Itu pun hanya diisi oleh makan saja ketika toko sedang lengang atau mencuri-curi waktu lain. Tapi jika pesanan online sedang banyak, saya bahkan tidak istirahat sama sekali.
Selain sulitnya istirahat, produk-produk yang hilang di toko juga akan dibebankan pada kami. Jika dirata-rata setiap hari, jumlah nominal produk yang hilang mencapai Rp50 ribu. Kehilangan itu bukan cuma barang, tapi kerugian penjualan layanan top up uang digital juga jadi salah satu penyebab kerugian saya. Kadang ada yang top up Dana tapi tidak bayar, itu juga menjadi tanggungan kami. Dalam 1 hari ada minus kas Rp200 ribu hingga Rp250 ribu yang harus kami ganti.
Tidak hanya itu. Saya juga pernah mendengar kepala toko menjual Produk Spesial Mingguan (PSM) ke luar dan mendapat insentif ke kantong pribadinya, tapi PSM itu direkap sebagai barang yang hilang. Otomatis itu menjadi tanggungan kami di akhir bulan. Kasus-kasus seperti itu sudah lama ingin saya adukan lewat kotak aduan karyawan. Tapi pengaduan itu harus disertai bukti CCTV, bukti transaksi, dan proses yang lumayan ribet. Sementara akses CCTV tidak bisa langsung diakses di toko. Jadi untuk membuka CCTV harus menghubungi kantor pusat dengan alasan yang jelas. Jelas saya mengurungkan niat melaporkan kasus itu.
Masalah selanjutnya adalah target toko yang membebani saya. Kalau kalian pernah ditawari kasir minimarket untuk membeli produk-produk promo, itulah target penjualan kami.
Tentu saya tahu bahwa tidak semua pembeli nyaman ditawari promo-promo itu, tapi saya merasa wajib menawarkan demi target saya terpenuhi. Karena jika target itu tidak terpenuhi, saya harus membelinya dalam target mingguan.
Jadi kadang saya harus menjualnya ke warung-warung dengan harga di bawah pasaran. Misal jika satu paket produk dijual Rp80 ribu, saya jual ke warung Rp70 ribu. Nah, sisa kerugian Rp10 ribu itu saya masukan ke dalam minus kas, daripada saya harus membeli produk itu.
Siasat ini tentu berisiko. Jika terbukti, saya bisa mendapat surat teguran resmi dari kantor, lebih buruk lagi dipecat.
Jadi jika ditotal per bulan, dibagi sembilan buruh di toko kami untuk tiga sif, masing-masing harus mengganti Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per bulan.
Upah.zip
Dengan sekian banyak pekerjaan, waktu kerja yang panjang, dan risiko kerugian yang harus saya tanggung, setiap bulan saya menerima upah sebesar Rp3.700.000. Nominal itu belum dipotong oleh iuran BPJS dan total ganti kerugian toko per bulan (Rp400 ribu – Rp500 ribu). Setelah itu dipotong pengeluaran servis dan bensin motor, karena saya kadang memakai motor pribadi saat jadi kurir layanan online Alfamart.
Alasan saya kadang menggunakan motor pribadi saat menjadi kurir karena sudah beberapa minggu ini motor inventaris kantor mogok. Motor inventaris itu adalah motor sewaan Alfamart pada pihak ketiga. Jadi urusan servis dan perawatan motor tersebut diputuskan oleh pihak ketiga tersebut.
Pun jika saya harus melaporkan kerusakan tersebut harus melalui prosedur yang panjang, dan sudah pasti tidak mendapat respons yang cepat.
Jadi jika dihitung, sebulan saya hanya menerima upah bersih sekitar Rp2,5 juta hingga Rp2,7 juta.
Saya juga heran dengan uang segitu bagaimana saya bisa hidup. Padahal harga beras di Sumedang dan Bandung tidak beda jauh. Harga bensin sama. Harga rokok sama. Harga listrik dan kebutuhan hidup sehari-hari juga sama.
Sementara saya tidak punya uang tambahan lain karena saya tidak punya hak lembur kelebihan jam kerja, tak ada yang lembur pengganti libur tanggal merah, tak bisa ambil pekerjaan sampingan karena waktu kerja yang panjang. Jadi mungkin itu semua yang mengantar saya menulis ini.
Jadi… selamat datang di Alfamart. Selamat berbelanja!
*
Catatan editor:
Nama asli dan umur penulis disamarkan demi keamanan.
***
Penulis: Rio
Editor: Dedi Muis

