Trimurti.id–Empat puluh delapan kilometer rasanya cukup bagi pemikir buruk seperti saya untuk merapal segala mantra kukulutus setiap hari di dalam kepala, di atas roda dua Supra X—injeksi—125. Itu adalah jarak pergi-pulang setiap hari demi memenuhi presensi di tempat kerja yang berlokasi di jalan Asia-Afrika dengan bentang jalan panjang nun-berlubang.
Demi jarak itu, saya menghabiskan waktu sebanyak 2 jam setiap hari. Sepuluh jam setiap minggu. Empat puluh jam setiap bulan. Lima ratus jam setiap tahun. Mudahnya, ada 21 hari—tiga minggu—tak bertuan dalam hidup saya selama 1 tahun. Tapi tidak tepat juga jika waktu yang hilang itu dianggap benar-benar ‘tak bertuan’. Secara formal, perusahaan tidak akan mau mengakui itu sebagai jam kerja. Tapi saya juga tidak bisa menggunakan waktu tersebut dengan bebas karena terikat dengan rute dan jadwal yang sudah ditentukan perusahaan. Dua jam itu seolah menjadi ruang liminal antara jam kerja dan waktu luang.
Dalam teori klasik time and muscle, menganggap ‘waktu yang hilang’ itu sebagai ruang liminal tentu menjadi sebuah kesalahan. Henri Lefebvre melihat perpindahan manusia modern bukan soal sebuah pergerakan fisik, melainkan salah satu mekanisme masyarakat kapital. Ia adalah ritme yang mengatur kapan saya harus tidur, kapan saya harus bangun, kapan saya harus berangkat, sampai kapan saya harus liburan.
Maka tepat rasanya menganggap perjalan menuju kantor adalah sebuah irama produksi yang sudah ditentukan jauh di luar diri saya. Dan menganggap kapitalisme sebagai monster parasit tentu tidak berlebihan, karena ia tidak hanya mencaplok 8 jam ‘formal’ waktu kerja tapi juga menghisap waktu-waktu lain di sekelilingnya.
Maka saya tak perlu merasa berdosa juga ketika berpikir bahwa jam kerja, sebenarnya sudah dimulai sejak motor saya dinyalakan. Satu jam perjalan pergi dan satu jam perjalanan pulang. Lalu dengan begitu–amit-amit–jika terjadi kecelakaan, maka peristiwa itu tidak akan dianggap sebagai kecelakaan lalulintas biasa, melainkan kecelakaan kerja—atau minimal—kecelakaan hendak dan usai bekerja.
Saya percaya bahwa bahasa haruslah politis; dengan menggeser istilah, maka suatu nilai dan kepemilikan menjadi beralamat. Selebihnya, bisa saja regulasi soal kecelakaan kerja akan mengalami perubahan, meskipun ya nyaho sorangan meureun!
Selain masalah waktu, ada tenaga juga. Dua jam berkendara di jalanan, bukan sebuah aktivitas ngalamun sambil memegang kemudi Supra X. Setiap hari saya belajar berkendara akrobatik sat-set menghindari lubang jalanan yang, apal meureuun, jalan aspal Kabupaten; garinjul. Bukan cuma itu, kemacetan sudah jadi tema utama lanskap panjang jalan hampir lurus 24 kilometer. Otot dan otak saya terpaksa bekerja ekstra di luar job desk pekerjaan; saya harus mengatur kapan saya ngegas dan ngerem di antara celah sempit kendaraan ‘saya-saya’ yang lain. Sebagian energi saya sudah habis sebelum pekerjaan sebenarnya dimulai.
Sejak pencaplokan waktu dan tenaga lain di luar 8 jam kerja, sejak vakansi dan ‘pulang kerja’ adalah sebuah rekreasi agar produktif kembali bekerja, maka tak ada waktu yang benar-benar saya miliki selama ini. Seluruh waktu dan umur saya berada dalam moda kapital sejak dalam rahim mama. Seluruhnya menjadi deterministik. Menjadi rangkaian sebab akibat yang terbuang tanpa benar-benar tahu harus ke mana arah tujuan ini bermuara.
Ruang yang tak pernah hadir
Jika perjalanan saya ke tempat kerja dibaca sebagai irama produksi, maka setiap perempatan yang saya huni sementara harus dibaca juga sebagai ruang distribusi. Di perempatan itulah, setiap arah logistik dan produksi diatur sedemikian rupa. Kemacetan akan menjadi musuh bersama, yang ironinya, moda produksi kapitalisme jugalah yang memicu kemacetan itu menjadi tak terhindarkan.
Lalu ketika kemacetan tak terhindarkan, ide membangun flyover, jalan tol, hingga infrastruktur penyangga kota lainnya akan muncul. Ide itu tidak hadir untuk memenuhi kebutuhan warga kampung agar lebih mudah menjangkau pengajian, sekolah, atau wahana rekreasi. Kalaupun ya, tentu itu dalam agenda melipatgandakan laba. Ide itu hadir justru untuk menopang distribusi kapital agar tak memiliki hambatan sebelumnya.
Maka pembangunan infrastruktur kota harus dibaca sebagai keberpihakan terhadap modal. Setidaknya itu yang dilihat David Harvey; fixed capital—-satu investasi pembangunan yang membuat pelipatgandaan laba berjalan efisien dan membuat prasyarat perusahaan agar buruh seperti saya hadir tepat waktu di hadapan mesin presensi.
Kota, selayaknya, akan selalu dibaca sebagai itu. Sebagai laboratorium raksasa bagaimana masyarakat modern bergerak mengikuti tuntutan bisnis, daya saing, dan peningkatan laba.
Lalu bagaimana jika saya pindah saja menyewa kost di dekat tempat kerja? Apakah itu berarti menghilangkan ‘waktu yang hilang’ tadi? Secara teknis mungkin ya. Waktu akan dipangkas, namun tentu tidak gratis. Saya harus menukar waktu tersebut dengan uang. Landlord akan menghisap sebagian uang saya setiap bulan agar tak ada 3 minggu waktu saya yang ‘hilang’ dalam 1 tahun. Tapi hitungannya akan berganti jadi; ada berapa uang saya yang hilang ketika tujuan ngekost itu justru untuk mencarinya? Tentu setiap kondisi setiap buruh dan lokasi akan berbeda. Tapi justru perbedaan itulah yang menjadikan kota sebagai laboratorium yang tak pernah hadir untuk kita.
Cerita seperti yang saya tulis dan alami ini mungkin dialami sama oleh orang lain. Sebagian juga akan berbeda. Sebagian lainnya mungkin akan jauh lebih struggling dengan rutinitasnya. Dan saya yakin, cerita-cerita itu adalah serpihan dari elemen-elemen pembentuk struktur kota menjadi ada. Elemen-elemen yang menjadikan kenapa sebuah megatron diletakkan di jalan Dewi Sartika, kenapa jalan Leuwi Panjang menjadi dua arah, kenapa lampu merah Kiaracondong berumur 400 detik, dan berbagai alasan lain tentang elemen penyokong modal harus berjalan, sebisa mungkin, tanpa hambatan.
Lalu saya teringat seorang teman yang bilang bahwa, menjadi pelan adalah sebuah perlawanan. Menjadi tak perlu terburu-buru dan menjadi tak tergesa-gesa ketika keadaan tidak darurat. Saya harus sepakat; menjadi jeda ketika semua berjalan terlalu cepat. Memberi ruang pada diri sendiri untuk ngalamun, membuang waktu, berdzikir (ehem hehehe…), berkesenian, atau menulis catatan ini.
Penulis: Dedi Muis
Editor: Syahid Syawahidul Haq

