Categories
Orasi

Surat Terbuka untuk Ulil Abshar Abdalla

Assalamualaikum wr. wb.

Perkenalkan, saya Sulthoni Ad-Dzulqarnain. Sejak dalam kandungan, saya sudah dibaiat sebagai nahdliyin (orang yang ikut ajaran Nahdlatul Ulama, baik secara kultural maupun struktural) hingga hari ini. Kakek bercerita, saat ibu mengandung saya, kakek mengusap-usap perut ibu yang besar itu sembari berkata, “Mengko tumut ajarane Mbah Hasyim, enggih (Nanti ikut ajarannya Mbah Hasyim, ya).”

Beliau juga yang memberikan nama saya. Katanya, saat saya lahir, beliau sedang membaca surah Al-Kahfi ayat 83. Permulaan ini untuk memastikan, bahwa saya adalah nahdliyin, bukan buzzer, antek asing, apalagi agen CIA. 

Saya kecewa, saat Gus Ulil tampil di acara Rosi yang bertajuk “Cabut Izin Nikel? Sementara atau Selamanya”, 14 Juni 2025 lalu. Bukan karena Gus Ulil menuduh aktivis lingkungan sebagai wahabi atau golongan wokisme, melainkan karena nyaris keseluruhan argumentasi Gus Ulil tidak berempati, culas, dan mementingkan keuntungan ekonomi semata. Saya Kecewa, Gus Ulil!

Melihat Gus sebagai tokoh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang berbicara mewakili NU, saya malu minta ampun. Organisasi yang sangat saya cintai sejak orok ini, direpresentasikan Gus Ulil, hanya berbusa-busa membicarakan lingkungan dalam kerangka untung dan rugi secara ekonomi—alih-alih membicarakan bagaimana nasib nahdliyin, melestarikan tradisi NU, dan lain sebagainya. 

Lantas di mana semangat melestarikan dan membela ajaran ahlussunnah wal jamaah-nya, jika lingkupnya ekonomi semata? Apakah NU sudah dianggap sebagai perseroan terbatas? Hal itu yang membuat saya malu. 

Pertambangan, Gus Ulil, dari hulu hingga hilir menghancurkan ekonomi lokal, lingkungan, hingga sosial. Lebih banyak mudaratnya. Coba sesekali Gus Ulil tanya pada nahdliyin yang hidup dalam kawasan pertambangan, entah di hulu atau hilirnya.

Jika belum ada waktu, saya akan ceritakan satu desa yang mayoritas warganya adalah nahdliyin. Saya yakin, Gus Ulil tidak punya banyak waktu untuk memastikan bagaimana nasib warga yang hidup di sana. Saya memahami betul, bagaimana kesibukan Gus Ulil, sampai-sampai, rutinan ngaji Ihya terus tertunda.  

Saya akan membantu menceritakan kehidupan nahdliyin yang hidup di kawasan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sebagai hilir pertambangan batu bara. Kebetulan, NU mendapatkan konsesi pertambangan batu bara—meminjam ucapan Gus Ulil di acara Rosi—karena “niat baik” Jokowi.

Jokowi memang “baik” kepada NU. Bukan hanya memberi konsesi tambang, tetapi juga menetapkan Hari Santri Nasional dan Undang-Undang Pesantren. Tentu ini kebaikan Jokowi, tidak mungkin semua pemberian itu adalah kontrak politik dengan Jokowi? Bukannya PBNU tidak akan melakukan politik praktis, ya?

Gus, salah satu desa di Cirebon bernasib miris karena hidup di sekitar tapak PLTU 1. Semenjak PLTU beroperasi, kehidupan warga tidak seperti yang Gus Ulil gembar-gemborkan di acara Rosi. Gus Ulil mengklaim bahwa pertambangan memiliki segudang manfaat. Warga di sana keadaannya justru sebaliknya. Bukan manfaat, tapi kehidupan sehari-harinya nelangsa. Ini bukan sedang menakut-nakuti. Apakah menceritakan kondisi yang sudah terjadi adalah bentuk alarmisme global

Menakuti-nakuti adalah keadaan di masa depan yang belum terjadi. Misalnya, kalau tidak shalat lima waktu atau tidak berpuasa alias meninggalkan ajaran Allah akan masuk neraka. Begitu cara kerja menakut-nakuti. Sementara, warga korban tambang sedang dan terus sengsara hidupnya sepanjang pertambangan berjalan. 

Nahdliyin yang hidup di sana, Gus, adalah nelayan, petani garam, dan petambak. Kehidupannya bergantung pada laut dan tanah. Sebelum ada PLTU, warga yang awalnya cukup beberapa meter untuk mendapatkan ikan, kini harus berkilo-kilo meter untuk miyang atau melaut. Hal ini tentu saja menambah modal yang hari dikeluarkan warga yang mayoritas adalah nelayan. Ongkos mencari ikan mahal karena lautnya tercemar. Ikan yang dihasilkan semakin sedikit. 

Belum lagi, waktu yang ditempuh nelayan semakin lama di laut. Sebelum ada PLTU, warga bisa menyisihkan waktunya untuk melayat, ikut tahlil, berjamaah, dan ngurip-nguripi tradisi NU. Apakah keadaan warga yang demikian dapat dikatakan sebagai menikmati manfaat, Gus?

Semenjak berdiri PLTU, nelayan menghabiskan banyak waktu di laut. Implikasinya begitu mengerikan di tataran warga. Bukan hanya pendapatan ekonomi yang hancur lebur, tradisi-tradisi NU yang ingin dirawat warga, perlahan kehilangan partisipasinya.

Belum lagi membicarakan makam-makam leluhur warga yang digusur akibat tambang, hanyut karena rob atau pindah desa karena digusur, sementara makam-makamnya masih ada di sana tidak ikut direlokasi. Berapa banyak orang yang jadinya kesulitan berziarah? Bukan karena tidak mau ngurip-nguripi tradisi NU, Gus Ulil. Sekali lagi, bukan! Tapi karena laku brutal pertambangan.

Gus Ulil harus tahu, perusahaan PLTU ini mendapatkan keuntungan, kurang lebih Rp4 triliun per tahun. Dana ini, kalau untuk naik haji, warga di sana bisa haji sebanyak 16 kali. Menurut Badan Pusat Statistik, warga di sana berjumlah 4.246 jiwa. Satu desa bisa haji 16 kali, Gus Ulil. Haji merupakan impian umat Islam, termasuk nahdliyin.

Sayangnya, bukan ibadah haji yang didapatkan warga, Gus. Lautnya tercemar, kerang hijaunya beracun, penyakit ISPA meningjat, jalanan desanya rusak, anak-anak mudanya menjadi anak buah kapal di luar negeri (padahal di belakang rumahnya laut), terpapar polusi setiap hari, mencari ikan semakin jauh dan seterusnya. 

Jangan denial, Gus, kerusakan yang terstruktur dan sistematis ini karena pertambangan. Warga dibuat babak belur.

Begitu pula petani garam dan petambak. Seiring berjalannya waktu, produktivitasnya terus menurun. Bukan karena semakin malas bekerja. Tapi karena tanah-tanahnya tercemar oleh pertambangan. Warga di sana hanya memahami bertahan hidup dengan melaut, budidaya ikan, dan garam. Sangat bergantung pada laut dan tanah, Gus Ulil. Warga tidak punya privilege untuk memilih kerja apa, agar hidup bisa terus berjalan.

Siapa yang harus bertanggung jawab dalam rusaknya ekosistem ini? Gus Ulil boleh saja menafikan ekosistem tidak harus kembali utuh. Karena kehidupan Gus Ulil tidak bergantung pada tanah dan laut. Gus Ulil bisa memilih bekerja apa pun: pendakwah, penulis, pengajar, dan seterusnya, yang memungkinkan untuk bertahan hidup. Tapi mayoritas warga, khususnya nahdliyin, nasibnya tidak seperti Gus Ulil. Warga tidak punya banyak pilihan untuk sekadar bertahan hidup.

Mau kerja di PLTU, warga tidak punya skill. Kalaupun skill bisa diasah, tapi akan terhalang oleh umur yang semakin menua. Toh, penyerapan tenaga kerja di PLTU seberapa banyak? Padahal, kita sama-sama tahu, mayoritas nahdliyin mayoritas adalah petani, nelayan, dan buruh. Merekalah yang puluhan tahun dengan ikhlas dan istikamah ngurip-nguripi NU, Gus.

Keadaan nelangsa itu baru terjadi di hilirnya tapi sudah bikin mengelus dada. Keadaan di hulu, tidak kalah memprihatinkan, Gus. Ratusan anak-anak meninggal di lubang bekas galian tambang. Bencana alam, longsor, banjir bandang, dan lain sebagainya, adalah kondisi rutinan di setiap tahun yang menimpa warga.

Gus Ulil, saya semakin yakin, bahwa yang akan merusak tradisi-tradisi NU: ziarah kubur, tahlil, dan seterusnya, bukan hanya wahabinya Muhammad ibn Abd al-Wahhab. Boleh dibilang, salah satunya justru adalah pertambangan. Jika demikian, apakah Gus Ulil tetap keras kepala untuk melanjutkan konsesi tambang? Secara ekonomi NU akan diklaim menjadi organisasi mandiri secara ekonomi, tapi taruhannya adalah dampak-dampak yang sudah saya sebutkan.

Sebagai nahdliyin, saya memilih tetap menjaga tradisi NU. Tanpa ada konsesi pertambangan yang diambil oleh PBNU, nahdliyin tetap mandiri dalam menjalankan roda organisasi. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ansor, dan Banser, rutin tahlilan mingguan. Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU), Fatayat, dan Muslimat, tahlilan mingguannya tetap berjalan. 

Begitu pula ziarah wali sanga, dengan begitu sabar nahdliyin menabung tiap minggu agar setiap bisa berziarah setiap tahun. Hal itu terjaga dengan baik. Nahdliyin mampu, militan dan konsisten menjaga tradisi NU.

Acara haul di pesantren-pesantren, alumni, santri dan wali santri bergotong royong dengan iuran semampunya: ada yang menyumbang daging, ayam, telur, beras, sayur-mayur, meminjamkan mobilnya, menyumbang uang, dan seterusnya. Sehingga, acara haul sesepuh bisa terlaksana dengan baik. Hal itu sudah dilakukan sejak NU berdiri. Itu sudah 99 tahun (dalam hitungan hijriah, bahkan sudah satu abad). 

Nahdliyin sudah teruji dan konsisten dalam berkolektif secara mandiri untuk menjaga organisasi beserta tradisinya. Tanpa donor, tanpa sponsor, tanpa uang CSR dan tentu saja tanpa konsesi tambang!

Terakhir, Gus Ulil, saya tidak akan menjelaskan dalil-dalilnya. Gus Ulil lebih tau, pintar, dan mampu. Saya tidak akan mendikte dalil-dalil mana saja yang harus dipakai dalam memilih antara keuntungan ekonomi atau terjaganya bumi dari kehancuran; langgengnya ajaran dan tradisi NU atau eksploitasi besar-besaran pertambangan. 

Hanya saja, Gus Ulil tinggal membuka hati dengan legawa, empati, dan sedikit mendengarkan nurani: bahwa pertambangan tidak akan membawa kita pada kesejahteraan.

Wassalamualaikum wr. wb.

 

Penulis: Sulthoni Ad-Dzulqarnain, anggota Nahdliyin Kultural

Editor: Rokky Rivandy

 

Opini penulis tidak merepresentasikan nilai redaksi

Melanjutkan semangat Trimurti
 
Di era kolonial, S.K. Trimurti berani menulis meski risikonya penjara. Kini, kami melanjutkan tradisi itu—memberitakan yang benar, meski tidak populer.
 
Trimurti.id adalah media nirlaba. Tidak ada pemilik konglomerat. Tidak ada agenda tersembunyi. Hanya semangat untuk Baca, Sebar, dan Lawan.
Jadilah bagian dari sejarah ini.
Klik link di bawah untuk mendukung Trimurti