Categories
Kabar Perlawanan

“Bandung Marah-Marah”: Solidaritas Lawan Militerisme dan Represi Sepanjang 2025

Trimurti.id, Bandung – Di penghujung 2025, Kota Bandung kembali menjadi saksi kemarahan rakyat melalui aksi bertajuk “Bandung Marah-Marah” pada 26 Desember 2025. Aksi ini digelar sebagai penutup momentum 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (25 November–10 Desember) yang tertunda pelaksanaannya, sekaligus wujud solidaritas terhadap tahanan politik yang masih ditahan pasca-gelombang demonstrasi besar Agustus–September 2025.

Aksi tersebut melibatkan Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Bandung Raya dan Teater Aruslaras yang menyuguhkan pertunjukan teatrikal. May, perwakilan FMN Bandung Raya, menegaskan bahwa tema “Bandung Marah-Marah” bukan ajakan kekerasan fisik, melainkan ruang aman untuk menyuarakan aspirasi yang terpendam.

“Marah-marah di sini adalah mengeluarkan seluruh unek-unek, menunjukkan kepada negara bahwa kami masih marah atas penindasan yang terus berlanjut,” ujarnya.

Menurut May, aksi ini juga menyoroti keterlambatan pelaksanaan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan akibat berbagai kendala, serta solidaritas terhadap tahanan politik yang belum dibebaskan. Ia mengkritik rezim saat ini atas praktik militerisme dan fasisme terbuka, termasuk represi di Papua, Aceh, dan Bandung pada Agustus 2025.

“Militer digunakan untuk mempertahankan kepentingan kapitalisme, sekaligus memberantas gerakan mahasiswa, buruh, dan petani,” tambahnya.

May juga menyoroti pengikisan hak demokratis rakyat, terutama pasca-pengesahan KUHP baru yang semakin membatasi kebebasan berekspresi.

Sementara itu, pertunjukan teatrikal Teater Aruslaras menampilkan simbol-simbol kritik terhadap patriarki dan domestifikasi perempuan. Ami dan Yaya, dua perwakilan kelompok tersebut, menjelaskan bahwa pertunjukan menggambarkan beban ganda perempuan: berjuang di jalanan, namun tetap dibebani tugas domestik di rumah dan dalam gerakan.

“Laki-laki memegang alat dapur sebagai simbol bahwa perempuan sering diberi peran ganda, sementara kami melempar nasi bungkus berisi batu bertuliskan kritik sebagai bentuk kemarahan,” ujar Ami.

Aksi teatrikal ini juga merespons kriminalisasi terhadap tahanan politik perempuan, seperti Rifa Rahnabila—satu-satunya tahanan politik perempuan di Bandung pasca-aksi Agustus 2025. Yaya mengecam perlakuan aparat, termasuk penghinaan verbal terhadap tahanan.

“Kami marah atas kekerasan yang tak berujung terhadap perempuan, dan ini bentuk solidaritas kami,” tegasnya.

Ami menambahkan kekecewaan terhadap sikap “abang-abangan” di gerakan yang sering meremehkan inisiatif yang dipimpin perempuan.

Ami juga menyayangkan jarangnya aksi teatrikal di jalanan sejak 2020, di mana teater kini sering dikomodifikasi menjadi tontonan eksklusif.

“Kami ingin membawa teater kembali ke jalan sebagai alat kritik, karena jalan adalah panggung dan tubuh kami adalah arsip perjuangan,” ujarnya.

May menambahkan bahwa aksi “Bandung Marah-Marah” mencerminkan akumulasi kemarahan rakyat atas represi negara pasca-demonstrasi massal Agustus–September 2025, yang menurut laporan Amnesty International melibatkan penggunaan kekerasan berlebihan oleh aparat.

Para peserta berharap aksi ini membangkitkan solidaritas, mencegah demoralisasi, dan mendorong perlawanan berkelanjutan terhadap penindasan.

“Ketika ditekan, kami semakin melawan—karena itu satu-satunya jalan keluar,” tutup May.

Reporter: Nurhakim

Fotografer: Trimurti/Mohto

Editor: Ilyas Gautama

Melanjutkan semangat Trimurti
 
Di era kolonial, S.K. Trimurti berani menulis meski risikonya penjara. Kini, kami melanjutkan tradisi itu—memberitakan yang benar, meski tidak populer.
 
Trimurti.id adalah media nirlaba. Tidak ada pemilik konglomerat. Tidak ada agenda tersembunyi. Hanya semangat untuk Baca, Sebar, dan Lawan.
Jadilah bagian dari sejarah ini.
Klik link di bawah untuk mendukung Trimurti