Categories
Jam Istirahat

Melewati Lebaran dengan Lebih Berani

Lebaran membuat banyak orang belajar hal sederhana: bagaimana menjawab tanpa benar-benar bercerita. Kita pulang, duduk di ruang tamu, dan tanpa sadar menjaga sejenis kesepakatan diam-diam bahwa apa pun yang hancur di luar tak sepatutnya dibawa masuk ke dalam rumah. 

Lebaran tahun ini pun berjalan seperti biasa, macam lebaran-lebaran yang kita kenal sejak kecil. Dari jauh, hidup masih terlihat berjalan sebagaimana mestinya. Orang tetap bekerja, kuliah tetap berlangsung, dan pasar juga tetap sesak. Namun bagi sebagian dari kita, hidup yang sebelumnya terasa lurus kini harus dijalani dengan langkah yang lebih hati-hati, terutama setelah Agustus yang ganas, dan malam-malam yang rawan sepanjang September. 

Perubahan mulai terasa ketika pertanyaan sederhana muncul: “Bagaimana pekerjaanmu sekarang?” atau “Sudah sampai mana kuliahmu?” 

Seketika ketenangan yang dibangun harus diuji. Hidup yang sebelumnya mudah dijelaskan kini menuntut jawaban hati-hati. Apa yang terjadi di luar rumah tidak menunggu besok untuk selesai. Beberapa bulan terakhir membuat banyak orang menanggung pertanyaan lain di kepala: “kenapa saya”.

Tahun lalu, ketika Lebaran masih terasa sebagai “satu-satunya hari ketika kekalahan total masih bisa ditunda”, kita berusaha melewatinya sebagai tempat berhenti sejenak agar tidak runtuh. Bengkak dan lecet dibiarkan kempes atau kering lebih dulu, supaya masih ada tenaga untuk berkata: “Baiklah, kita lanjutkan besok lagi.”

Ketenangan di hari raya ini terasa lain. Tubuh-tubuh yang pernah digilas Agustus dan September membaca setiap getaran, membedakan mana yang lahir dari rasa aman dan mana yang hanya ilusi ketertiban. Mereka menjadi alat navigasi yang menandai jebakan, menyimpan sisa malam gelap sebagai kompas, dan mengenali kapan sebuah suasana mulai berbohong. Sekejap semua yang tampak aman bisa bergetar, residu yang tersisa di tubuh membuat mereka tidak lagi mudah percaya pada suasana yang dibikin-bikin atau kebesaran yang dibuat-buat dalam pidato.

Kemampuan tubuh membaca ini tidak membuat hidup lebih mudah. Tantangan berikutnya adalah menyebut hidup mereka sendiri tanpa mengulang bahasa menenangkan yang disenangi oleh berbagai bentuk kekuatan. Menyebut hidup sebagaimana adanya adalah langkah pertama untuk merebut kendali atas penghayatan hidup sendiri. 

Maka, ketika akhirnya pertanyaan tentang pekerjaan atau kuliah datang, itulah kesempatan untuk merobek ketenangan palsu dengan mengatakan yang sesungguhnya. Ketenangan memang mesti dirobek untuk memberi nama yang tepat pada babak belur kita sendiri. Menyebut hidup sebagaimana adanya adalah langkah pertama untuk merebut kendali atas penghayatan hidup sendiri dari ketenangan yang terlalu lama dipakai untuk mengindah-indahkan kenyataan

Lebaran memberi satu kesempatan kecil untuk merusak sedikit tata krama yang biasanya berjalan otomatis. Orang saling bersalaman seperti biasa, tapi kali ini penting untuk tidak repot menjaga kalimat agar tetap manis: 

Tak apa mengakui rumah tangga bubar sebelum Ramadan. Katakan saja kontrak pekerjaanmu memang diputus karena jadi korban salah tangkap. Akui juga skripsi mandek karena kosan sempat diinapi kawan yang jadi buruan. Ceritakan kalau gerobak makananmu di depan sekolah tersingkir oleh sarapan gratis. Tegaklah jika memang perlu bercerita: pacarku masih ditahan sejak malam penuh api di perempatan jalan itu.

Yang keluar hanya satu kata yang sudah sering kita ucapkan setiap Lebaran: maaf. Kata itu pendek dan terdengar biasa. Namun, hari ini dan di sini, kata itu bisa menghasilkan dampak yang lain: membuat seseorang yang tadinya berdiri sendirian tiba-tiba memiliki saksi.

Begitu ada saksi, cerita itu berhenti menjadi barang yang dikurung di kepala. Ia sudah punya tempat di dunia, dan tidak gampang lagi diperlakukan seolah tak pernah terjadi. Cerita yang tadinya bisa jatuh begitu saja ke lantai kini ada yang ikut menahannya. Saksi yang hanya duduk mendengarkan sampai selesai bisa cukup memadai untuk membuat beban yang mulanya menggencet satu dada mulai bergeser dari tempatnya. Ketakutan bisa berhenti menjadi urusan rahasia di dalam kepala, lalu keluar menemui udara, beredar di antara dua orang yang perlahan berusaha mengeraskan batok kepala dan seisinya. 

Begitu ketakutan keluar dari kepala, ia kehilangan tempat terbaiknya untuk berkembang biak. Keberanian kemudian memiliki satu tanda yang sukar dipalsukan: kegembiraan. Kegembiraan yang tidak lembut, tidak manis, tapi bertenaga; isyarat betapa pikiran masih hidup dan daya untuk bertindak belum habis dirampas. Ia muncul saat seseorang menatap kehancuran, mengakuinya, sehingga retak-retak hidup tak lagi menakutkan. 

Tanpa kegembiraan, keberanian hanyalah ketegangan tanpa api. Dengan kegembiraan, hidup dijalani, retak demi retak, penuh, sadar, dan benar—juga tanpa memerlukan izin dari keadaan, apalagi kekuasaan.

 

 

Penulis: Zen RS

Melanjutkan semangat Trimurti
 
Di era kolonial, S.K. Trimurti berani menulis meski risikonya penjara. Kini, kami melanjutkan tradisi itu—memberitakan yang benar, meski tidak populer.
 
Trimurti.id adalah media nirlaba. Tidak ada pemilik konglomerat. Tidak ada agenda tersembunyi. Hanya semangat untuk Baca, Sebar, dan Lawan.
Jadilah bagian dari sejarah ini.
Klik link di bawah untuk mendukung Trimurti