Sebagai orang yang pernah—dan dalam kadar tertentu boleh dikatakan masih—tergila-gila pada Maradona, Argentina, kemudian Messi, saya punya sedikit kisah bagaimana saya jatuh cinta pada tim yang saat ini dituduh sebagai “anak FIFA” itu.
Memori Lapangan Hijau
Dimulai pada Piala Dunia 1986, sepupu saya yang lebih tua setahun memperkenalkan saya kepada Diego Armando Maradona. Dia juga yang memperkenalkan saya, yang saat itu belum juga berumur enam tahun pada nama penuh misteri: Tan Malaka. Dia dan almarhum ayahnya (biasa saya panggil Bapak Tua) sama-sama penggemar sepak bola dan Maradona.
Setelah saya cukup besar, baru saya tahu bahwa Bapak Tua adalah mantan aktivis mahasiswa kiri. Mantan anggota Partindo, Partai Indonesia. Dia terpaksa tidak melanjutkan kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung karena dikeluarkan dengan tuduhan terlibat dalam peristiwa 1965. Kakak kandungnya, Emat Sembiring, yang kerap saya panggil Bibi Tua, adalah salah satu pemeran dalam film Turang garapan Bachtiar Siagian. Setelah tragedi tersebut, ia tidak lagi menjadi penyanyi atau pemeran film. Bapak Tua dan Bibi Tua tidak pernah sekalipun bercerita soal masa lalu mereka. Tapi setiap saya bertemu Bibi Tua, dia sering kali menyanyi lagu, “Oh Turang”.
Mungkin saja, kalau tidak ada surat drop-out itu, Bapak Tua tidak akan menikah dengan kakak tertua mamak saya, dan sepupu saya tidak akan ada. Mungkin saja saya tidak akan terkesima oleh dribbling Diego Maradona pada suatu malam di Piala Dunia 1986, di sebuah rumah di pinggiran Paris Van Java.
Memori masa kanak-kanak tentang bagaimana Maradona menggiring bola pada Piala Dunia 1986, 1990, dan 1994, membawa saya pada imajinasi menjadi pesepak bola. Saya yang kebanyakan berimajinasi sudah berkhayal setinggi langit sampai bisa menggiring bola dan mencetak gol seperti Diego.
Sejak kecil, saya bukan pesepak bola yang bagus. Kemampuan saya rendah; lari saya jauh lebih lambat dari sepupu saya itu, meskipun saat masih kecil dia lebih gemuk. Saat masih kelas 1 SD, Mamak memarahi saya karena bermain bola tidak pakai otak. Suatu waktu saat pertandingan menjelang 17 Agustus 1986, dia menarik saya dari lapangan sembari marah-marah dengan bahasa Karo, “Kamu main gak pakai otak, bola yang ditendang, dioper, dan digiring. Bukan kaki lawan kaki. Kakimu sampai biru-biru! Kamu mau kakimu patah?! Pulang, sudah malam!”
Sebagai anak Batak, non-Muslim dan berambut keriting (dalam bahasa Sunda: galing) dan tidak lihai bermain sepak bola, ejekan selalu saya alami. Tetapi tetap saja saya main bola. Kalau enggak bisa dengan kampung tempat saya tinggal, saya akan gabung dengan kampung sebelah. Sambil tetap dapat omelan, “Hey, domba galing, dribbling atuh, teu bisa maen bola maneh teh? Cicing wae lah di imah! (Hey, domba keriting, gocek dong, kamu enggak bisa main bola? Diam di rumah saja lah!)”
Pada suatu ketika, di umur yang sudah terlambat, akhirnya seorang tetangga yang merupakan satpam sebuah BUMN, menawarkan mamak untuk mendaftarkan saya ke sekolah sepak bola. Sekalian dia mendaftarkan keponakannya yang sangat lihai bermain bola. Anak itu masih berusia 10 tahun, sedangkan saya sudah 16 tahun dan sudah masuk SMA.
Ternyata kami mendaftar ke Sekolah Sepak Bola Uitspanning Na Inspanning (SSB UNI) yang saat itu bermarkas tidak jauh dari Simpang Lima, Karapitan, Bandung. SSB ini didirikan pada 28 Februari 1903 oleh seorang Belanda. Saat mendaftar, saya tak tahu apa pun tentang SSB UNI dan seberapa melegendanya sekolah sepak bola itu. Keponakan tetangga saya segera diterima. Mulanya saya ditolak karena terlalu tua untuk ikut sekolah. Akhirnya saya diterima, karena tetangga saya melobi dengan menganjurkan uang pendaftaran dan iuran SSB saya dinaikkan.
Akhirnya saya berlatih di SSB UNI. Imajinasi saya tentang sepak bola semakin menggila. Isi kamar saya penuh dengan poster para pemain terkenal di antaranya: Maradona, Jean Piere Papin, Oliver Bierhof, Jürgen Klinsmann, Roberto Baggio, Andreas Möller, dan Alan Shearer. Saya bisa berburu poster itu sampai ke tengah Kota Kembang.
Saya yang tinggi bongsor dan berambut galing tetapi tidak lihai bermain bola ini paling sering kena umpatan dan bahan lelucon pelatih, para senior atau para penonton di tribun. Umpatan mereka gak kaleng-kaleng, segala macam, “anjing, babi, goblok, setan, belegug” sudah jadi makanan saat latihan. Belum ada istilah zaman now, “Aduh, kena mental, euy!” Semua pasti alami kalau salah dribbling, juggling, passing atau shooting.
Pelajaran Mental
Karena sudah berumur 17 saya diminta pindah jadwal untuk berlatih dengan tim SSB UNI Junior A. Bukan karena lihai bermain tapi karena faktor umur dan iuran SSB yang tak pernah telat. Suatu kali, kami harus bertanding melawan tim gabungan alumni dan senior SSB UNI. Kami harus melawan nama-nama beken yang pernah mengharumkan Tim Nasional Indonesia dan Persib seperti Yusuf Bachtiar, Budiman Yunus, dan Yaris Riyadi. Saya diposisikan di bek kiri. Tugas saya menahan manuver Yusuf Bachtiar sebagai playmaker. Dalam 20 menit pertama kami bisa menahan serangan mereka. Tapi setelahnya hancur lebur.
Saat istirahat turun minum, Yusuf Bachtiar dan Budiman Yunus mengumpulkan kami. Saya sangat terkesan dengan wibawa Yusuf Bachtiar. Dia bangun kepercayaan diri kami.
“Lima belas menit pertama kalian percaya diri, tetapi setelah itu kalian kehilangan arah. Kalian tak bisa bermain sebagai satu tim. Gak punya mental dan keberanian untuk bertarung dengan senior-senior.”
Alhasil, setelah break dan briefing, babak kedua kami tetap saja dibantai.
Setelah masuk kelas 3 IPA 1, terpaksa saya meninggalkan SSB UNI. Tak mungkin saya menjalankan keduanya. Masuk 3 IPA 1 zaman itu dianggap berprestasi. Kala itu, anak IPA, apalagi anak IPA 1, adalah anak-anak pintar, sedangkan anak IPS dianggap kurang pintar. Belum ada pengertian tentang bakat dan passion. Pengotak-ngotakan ini yang akhirnya membuat banyak orang, termasuk saya, salah memilih jurusan saat kuliah.
Saat masuk kuliah, saya sudah sangat jarang menonton segala macam pertandingan sepak bola di TV seperti yang dulu saya lakukan semasa SMP-SMA, yang dilakukan sembari sembunyi-sembunyi saat mamak sudah tidur. Namun saya masih sering menonton Timnas Indonesia di TV. Setelah PSMS Medan era Perserikatan, tidak ada klub lokal yang menarik buat saya. Begitu pula setelah AC Milan dan Manchester United redup di awal 2000-an, saya kurang tertarik lagi dengan Liga Italia, Liga Inggris, apalagi Liga Spanyol dan Jerman. Boleh jadi karena intensitas gerakan dan kuliah.
Messi. Justru dia yang membuat saya tertarik pada sepak bola. Kemampuannya yang memukau dalam menggiring dan siasatnya dalam menyerang, membuat kenangan lama pada Maradona menyeruak. Namun, karakternya terlalu dingin dan pendiam seperti Hidetoshi Nakata, pesepak bola pertama Jepang yang merumput di Liga Italia. Hal ini sangat berbeda dengan Maradona yang liar dan selalu menantang arus.
Setelah saya tahu Messi berasal dari kota yang sama dengan Che Guevara, apalagi dia juga mengidolakan Maradona yang punya keberpihakan lugas pada Kuba dan Palestina, saya kerap kecewa mengapa dia tidak punya pikiran politik kiri. Bahkan, dia menjauhkan diri dari politik, apalagi politik kiri. Entahlah. Hanya La Pulga yang bisa menjawab.
Namun saya tak pernah setuju dengan segala macam hoaks politik yang disebarkan tentangnya. Semua itu bagi saya hanya fabrikasi dari pertarungan idol, yang diciptakan banyak pihak antara dia vs Ronaldo. Bagi saya, terlepas dengan kemiskinan politiknya, Messi adalah anugerah semesta. Melihat dia meliuk-liuk merupakan hadiah semesta dari kepenatan hidup.
Suara Dunia Ketiga
Kebencian pada Messi dan Argentina semakin memuncak pascapertandingan Argentina vs Mesir di Piala Dunia 2026. Segala macam teori konspirasi, perbedaan agama, sikap presiden, warna kulit dikembangkan untuk menjatuhkan kredibilitas dan mental tim Argentina. Tiba-tiba, entah mengapa, saya ingat final Piala Tiger 2002 antara Indonesia vs Thailand. Indonesia sudah kalah lebih dulu 2-0 di babak pertama. Lalu epic comeback terjadi di babak kedua, Yaris Riyadi dan Gendut Doni menyamakan kedudukan. Thailand di menit ke 57 harus bermain 10 orang. Peluang makin banyak dimiliki oleh Indonesia. Namun, akhirnya Indonesia harus kalah lewat adu penalti.
Saya berpikir, apa yang salah? Apa benar mafia bermain agar Indonesia harus kalah? Ah, teori konspirasi lagi yang bercokol di kepala selama bertahun-tahun. Atau memang kita selalu ditakdirkan kalah dari Thailand?
Argentina vs Perancis di Final Piala Dunia 2022, Argentina vs Mesir beberapa hari lalu dan Argentina vs Swiss pagi ini mengingatkan saya pada pesan Yusuf Bachtiar puluhan tahun silam: mental dan keberanian. Berjuang sampai peluit panjang ditiup. Bukan berpuas diri ketika tim sedang unggul. Mereka silap saat Argentina menyamakan kedudukan. Lalu mencari-cari kesalahan pada pihak lain. Mental itu yang tidak dimiliki banyak tim. Termasuk Indonesia pada final Tiger 2002. Mental ini yang dimiliki Messi dan Argentina.
Babak semifinal. Kita akan dihadirkan pertarungan besar yang tanpa kehadiran tim dari Afrika, Amerika , apalagi Asia. Dominasi sepak bola masih di antara negara-negara kapitalis yang dahulu kala merupakan kolonialis Afrika, Asia, dan Amerika: Perancis, Inggris dan Spanyol. Negara dunia ketiga dan bekas wilayah jajahan Spanyol di Amerika Selatan hanya diwakili oleh Argentina. Entah mengapa masih saja ada yang berpandangan bahwa Argentina adalah anak emas FIFA. Mungkin itu cerminan dari cocoklogi dan tingkat kecerdasan masyarakat kita yang mudah termakan hoaks.
Presiden Argentina yang berhaluan kanan dan dekat dengan zionis Israel tidak bisa kita bebankan dosa politiknya pada Messi dan Timnas Argentina. Messi sudah bermain untuk Argentina sejak presiden-presiden sebelumnya yang berhaluan kiri dan kiri tengah seperti Néstor Kirchner, Cristina Fernández de Kirchner, dan Alberto Fernández. Kala itu tak ada yang mengaitkan Messi dan garis politik pemerintah Argentina. Sedikit yang mengingat bagaimana Messi dan Albiceleste pada 2018 menolak untuk bertanding melawan Israel sebagai bentuk penghormatan kepada Palestina.
Semifinal sudah dekat. Saya hanya berharap agar Messi tidak melupakan dua hal meski sudah menjadi pesepak bola terkaya kedua di dunia dan meraih juara Piala Dunia, yakni: pertama, akar kelasmu sebagai anak kelas pekerja; dan kedua, Ernesto Che Guevara. Kalian dilahirkan dari kota yang sama: Rosario. Semoga kau mengilhami perjuangan dan pengorbanannya untuk kaum tertindas.
Setidaknya, jangan beri celah tipu muslihat imperialis Amerika sebagaimana yang terjadi kepada Diego Maradona pada Piala Dunia 1994. Amerika tak pernah ingin Maradona yang berhaluan kiri itu untuk menang dan meraih piala di negaranya. Amerika hanya ingin iklan dan publisitas untuk keuntungan modal mereka.
Siapa pun lawan kalian di semifinal dan final nanti—tentu jika menang melawan Inggris, musuh bebuyutan rakyat Argentina dan Maradona, entah itu Perancis atau Spanyol: hajar dorang sampe habis! Kalian satu-satunya tim dari negeri yang pernah dijajah yang tersisa di panggung ini.
Apa pun hasil akhirnya, Maradona, Messi dan Argentina, membuat saya mengerti dua kosakata dari “Si Kancil” Persib Bandung, Yusuf Bactiar, puluhan tahun silam: mental dan keberanian. Dulu saya tidak pernah meresapi makna dua kata ini, bahwa ini bukan hanya tentang sepak bola, melainkan juga tentang kehidupan dan perjuangan.
Hormat diberi untuk kalian, para petarung.
Penulis: Surya Anta (Aktivis dan Penggemar Sepak Bola Karbitan)
Editor : Dachlan Bekti

