Trimurti.id–Di sela-sela jam kosong mengajar—saat saya masih punya kendali penuh atas apa yang ingin saya lakukan dengan otak saya sendiri, sebelum bel berikutnya memaksa saya kembali menjadi operator mesin absensi—saya menemukan Ansatsu Kyoushitsu (Assassination Classroom).
Sebuah anime yang ngomongin persis apa yang saya alami setiap hari. Premisnya konyol di permukaan: seorang guru berwujud gurita kuning berkekuatan nuklir, yang katanya bakal meledakkan bumi, tiba-tiba jadi wali kelas di sebuah SMP.
Secara genre, ini komedi. Tapi begitu saya kupas lapisan leluconnya, saya menemukan narasi yang lain, semacam cetak biru, tentang bagaimana sistem pendidikan bekerja sebagai pabrik, dan bagaimana satu sosok bisa jadi virus di dalamnya.
Ini bukan hanya soal anime. Ini soal realitas kita semua, setiap orang yang pernah duduk di bangku sekolah sambil merasa ada yang salah tapi nggak tahu harus nyalahin siapa. Ini soal kenapa “belajar” hari ini artinya hanya menghafal untuk mendapat nilai, dan nilai itu akan dikonversi menjadi sebuah sertifikat. Sertifikat itu sendiri akhirnya menjadi tiket masuk ke antrean panjang bursa kerja.
Sekolah, seperti pabrik dan kantor, tidak lagi menjadi ruang pencarian pengetahuan, tetapi juga menjadi bagian dari sistem yang mengubah manusia menjadi nilai yang dapat diukur dan dipertukarkan. Guy Debord pernah menjelaskan bahwa masyarakat modern telah berubah menjadi “masyarakat tontonan”: realitas yang dahulu dialami secara langsung semakin digantikan oleh representasi yang diproduksi dan dikonsumsi kembali. Pendidikan pun tidak luput dari logika ini. Pengetahuan tidak lagi hanya dinilai dari kemampuannya memahami dan mengubah dunia, tetapi dari simbol-simbol keberhasilan yang dapat dipamerkan: ranking, ijazah dan sertifikat.
SMP Kunugigaoka, tempat cerita ini berlangsung, adalah mikrokosmos sempurna dari kebusukan itu. Sekolah ini bukan taman belajar, dia mesin sortir. Gedung utama buat “produk unggulan,” dan Kelas 3-E merupakan gubuk terpencil di puncak gunung, jauh dari pandangan, nyaris dibuang—buat “limbah kegagalan.”
Bukan kebetulan kalau kelas buangan ini ditaruh secara harfiah di luar frame gedung utama. Itu bukan detail artistik. Itu adalah logika kapital yang dipraktikkan telanjang: sisihkan yang nggak menguntungkan, biar yang “berharga” makin kelihatan berkilau karena kontras.
Kepala Sekolah Asano adalah arsitek dari mesin ini, dan dia nggak menyembunyikan itu. Dia nggak memandang murid sebagai subjek yang merdeka, dia memandang mereka sebagai aset statistik yang nilainya harus dijaga demi kehormatan institusi.
Ketakutan adalah alat hegemoninya. Dia menjual rasa takut ke anak-anak di gedung utama: takut turun kelas, takut jadi 3-E berikutnya, takut jadi “gagal.” Dan dari ketakutan itu lahir kepatuhan yang manis,
yang rela, yang bahkan bangga jadi budak bagi ambisi yang sebenarnya bukan miliknya sendiri, tapi titipan orang tua, titipan sekolah, titipan masyarakat yang sepakat bahwa nilai rapor sama dengan nilai manusia.
Nah, di titik inilah Koro-sensei masuk, dan kacamata situasionis jadi krusial buat baca karakter ini dengan benar. Pada pandangan pertama dia anomali: gurita kuning, ngebut Mach 20, katanya bakal meledakkan bumi dalam setahun. Tapi kalau kita taruh dia dalam kerangka Situasionis Internasional, Koro-sensei bukan ancaman, dia praktisi détournement yang jenius.
Détournement, buat yang belum familiar, adalah taktik mengambil elemen dari sistem yang sudah ada, simbol, narasi, institusi—lalu membelokkannya, membalikkan fungsinya, sampai elemen itu berbalik menyerang sistem yang melahirkannya.
Negara memberi label “pembunuh” ke Koro-sensei. Label itu seharusnya jadi alat kontrol mengawasi dan memburunya. Murid-muridnya pun dipaksa “berlatih membunuh” sebagai proyek negara supaya bumi selamat. Tapi Koro-sensei mengambil alih narasi itu dan membelokkannya jadi sesuatu yang liar: dia ubah proyek pembunuhan negara jadi kurikulum pembebasan.
Dia nggak datang untuk memperbaiki Kunugigaoka dari dalam. Dan ini penting—dia nggak berusaha jadi guru teladan yang bikin 3-E naik peringkat biar diterima gedung utama. Karena sistem yang busuk memang nggak bisa diperbaiki dari dalam. Dia cuma bisa diabaikan, dibajak, atau disabotase. Di gubuk terpencil itu, jauh dari radar institusi, Koro-sensei menciptakan apa yang orang Situasionis sebut sebagai “situasi”: momen yang dikonstruksi secara sadar, di luar logika spektakel, tempat manusia berhenti jadi penonton dan mulai jadi pelaku dalam hidupnya sendiri.
Ini bagian yang paling sering disalahpahami dari serial ini kalau dibaca cuma sebagai komedi aksi. Ketika Koro-sensei melatih murid-muridnya menembak, menganalisis titik lemah, merancang strategi buat “membunuhnya”—dia sebenarnya sedang melucuti mereka dari kepasifan yang ditanamkan sistem selama bertahun-tahun. Dalam dunia yang menuntut kepatuhan buta terhadap kurikulum, terhadap jam pelajaran, terhadap definisi sukses yang dipatenkan orang lain, Koro-sensei justru menyuruh mereka berpikir sendiri, gagal sendiri, dan mempertanggungjawabkan pilihan mereka sendiri.
Dia mendekonstruksi pendidikan formal dengan cara paling telak: menunjukkan bahwa nilai akademik cuma angka di atas kertas, sedangkan kemampuan menentukan nasib sendiri adalah senjata yang jauh lebih mematikan buat siapa pun yang berkuasa. Sistem nggak takut sama anak bodoh. Sistem takut sama anak yang bisa mikir sendiri.
Tapi, dan ini bagian yang jarang dibahas, padahal krusial buat pembacaan Situasionis yang jujur—kita juga harus was-was sama apa yang Situasionis sebut sebagai “rekuperasi”: kemampuan sistem buat menyerap perlawanan, mengemasnya ulang, dan menjual balik pemberontakan itu sebagai produk baru yang justru memperkuat sistem yang sama.
Ketika prestasi 3-E akhirnya diakui, ketika mereka mulai naik peringkat dan dilirik gedung utama, ada bahaya laten di situ: keberhasilan mereka bisa dengan gampang dibaca ulang oleh institusi sebagai bukti bahwa “sistem ini cuma butuh motivasi yang tepat”—bukan sebagai bukti bahwa sistemnya sendiri yang harus dibongkar. Inilah cara kapital bertahan: dia nggak pernah benar-benar kalah dari perlawanan, dia cuma perlu waktu buat mencerna perlawanan itu jadi bahan bakar baru.
Koro-sensei tampaknya sadar betul soal ini. Makanya dia nggak pernah menjadikan “naik ke gedung utama” sebagai tujuan akhir pengajarannya. Yang dia tanamkan bukan ambisi buat menang di dalam sistem, tapi kapasitas buat hidup di luar validasi sistem itu. Itu bedanya sabotase sungguhan dengan sekadar prestasi yang dipoles biar kelihatan revolusioner.
Pada akhirnya, Ansatsu Kyoushitsu bukan sekadar cerita tentang murid yang berusaha membunuh gurunya demi hadiah miliaran yen. Ini risalah tentang bagaimana melawan alienasi—keterasingan yang bikin manusia berhenti mengenali dirinya sendiri di tengah kerja, di tengah sekolah, di tengah hidup yang sudah dipetakan orang lain buat dia.
Dia memaksa murid-muridnya berhenti jadi penonton dalam hidup mereka sendiri, dan mulai jadi pelaku yang sadar risiko. Dan di bawah bayang-bayang kiamat yang dijanjikan, ancaman bahwa bumi bakal meledak dalam setahun, tenggat waktu yang absurd sekaligus jujur. Murid-murid Kelas 3-E justru menemukan sesuatu yang tidak ditemukan di gedung utama mana pun: kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang nggak lagi bisa dibeli, dijual, atau dinilai oleh sistem yang sejak awal memang sudah bangkrut secara moral.
Pendidikan sejati bukan tentang mencetak aset yang siap dijual ke pasar kerja. Pendidikan sejati adalah sabotase terhadap ketundukan, dan kalau ada satu pelajaran yang layak kita bawa pulang dari gubuk terpencil di puncak gunung itu, yaitu: jangan pernah biarkan siapa pun, sekolah, negara, atau pasar—yang menentukan berapa harga diri kita.
Penulis: Jim Alberka
Editor: Hirson Kharisma

