Saya ingin membuka tulisan ini dengan sebuah lelucon garing: buruh tidak hanya terasing dari hasil produksinya, tapi juga disingkirkan dari peta sosial—dikhianati para komprador dan dicibir netizen sebagai kelas yang tak bermoral karena tak pernah bersyukur.
Baru saja saya hendak mengembalikan ketertarikan pada hal-hal yang membuat “mata berbinar-binar,” kata seorang teman, untuk tetap waras—atau setidaknya, tidak tiba-tiba berteriak “bajingan!” di jalan–mulut saya lag-lagi mengumpat.
Sebuah berita dari Detik.com, mengabarkan bahwa empat hari sebelum Mayday, 27 April 2026, Jumhur Hidayat, Ketua KSPSI resmi dilantik Prabowo sebagai Menteri Lingkungan Hidup. Jumhur adalah orang yang sama yang pada 2020 ditahan karena memimpin penolakan Omnibus Law dan divonis 10 bulan penjara atas tuduhan penyebaran hoaks terkait UU Cipta Kerja. Kini ia duduk di kabinet orang yang undang-undangnya dulu ia tolak. Dilansir Infobanknews, kolega sesama pimpinan serikat, Andi Gani Nena Wea, menyebut pelantikan itu “kehormatan bagi seluruh gerakan buruh Indonesia”. Kehormatan bagi siapa?
Kehormatan dalam logika para elit serikat busuk seperti mereka adalah hak prerogatif untuk duduk di podium dan bukan hak mereka yang berdiri di depan mesin dua belas jam sehari, yang jarinya terjepit mesin, yang paru-parunya menghirup debu kimia, yang gajinya habis sebelum pertengahan bulan.
Jika ada sebuah kehormatan yang dimiliki oleh buruh, maka itu adalah milik para buruh PT Amos yang sampai saat ini masih bertahan di depan pabrik, menjaga agar mesin tidak diangkut majikan. Kehormatan itu juga seharusnya milik para PRT yang kini berhasil meloloskan UU PPRT setelah 15 tahun terus menagih komitmen para wakil rakyat. Dan jika kehormatan itu juga masih ada, seharusnya itu adalah milik Sebastian. Lelaki berusia 32 tahun yang memilih cara paling mustahil diabaikan untuk membuktikan bahwa ada yang tidak beres, bahwa ada yang tak mau mendengar, bahwa kehormatan kelas buruh sudah lama dilucuti jauh sebelum kata itu diucapkan di mimbar manapun.
Pada 1 Mei 2015, di atas panggung utama May Day Fiesta KSPI di Gelora Bung Karno, sebuah band baru saja membawakan lagu. Beberapa menit sebelumnya, Sekretaris Jenderal Konfederasi Serikat Buruh Internasional (ITUC) Sharan Burrow baru saja berkata dari podium yang sama: “Ketika ada perusahaan memperlakukan salah satu dari anda dengan tidak adil, beri tahu kami. Kami akan berjuang untuk Anda.” Sebelum Burrow, panggung itu juga diisi sambutan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, bersama Fadli Zon, Zulkifli Hasan, dan Hidayat Nurwahid sebagaimana dilansir lionindonesia.org
Tepat pukul 16.25 WIB, sebastian memperbarui status Facebook-nya untuk terakhir kali: “Semampu ku kan berbuat apapun agar anda, kita dan mereka bisa terbuka matanya, telinganya dan hatinya untuk KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA.” Lalu ia membakar dirinya sendiri dan melompat dari atap tribun VVIP GBK setinggi 40 meter. Tubuhnya membentur rangka baja panggung konser yang tengah berjalan.
Sebastian adalah pengurus PUK SPAI FSPMI di PT Tirta Alam Segar (TAS), pabrik minuman Ale-Ale dan Teh Rio milik Wings Group di Cikarang, Bekasi. Penghasilannya di bawah Rp 3 juta per bulan. Istrinya, Samah, juga masih berstatus buruh kontrak di pabrik yang sama.
Sebastian bukan orang yang bertindak impulsif. Ia merencanakan ini sejak Januari 2015. Kawannya, Meizoha Pujianto, mencatat bahwa Sebastian pernah berkata: “May Day nanti semua mata bakal ngeliat ke PT Tirta Alam Segar, bukan cuma buat Topan, tapi buat keadilan di lingkungan kerja bahkan buat keadilan semua’nya.”
Masih dilansir dari solidaritas.net, Topan adalah kawan Sebastian. Ia adalah buruh kontrak yang pada Agustus 2014 tangannya terjepit mesin heater cutting dan kehilangan empat jari. Perusahaan menolak bertanggung jawab penuh. Mereka hanya mau membayar 20 juta rupiah, dari total pengobatan yang berjumlah 68 juta. Topan kemudian dipindahkan jadi tukang kebun yang harus memegang cangkul, meski tangan kanannya hanya tersisa satu jari kelingking.
Sebelum kasus Topan, ada Sulastri dan Ade Karman. Mereka adalah rekan Sebastian yang meninggal karena gangguan saraf otak pada 2014. Sebastian menduga ini terkait penyakit akibat kerja. Ada pula Jhon Gus yang dirawat karena gagal ginjal pada 2012. Sidak DPRD Kabupaten Bekasi ke PT TAS menemukan 18 kasus kecelakaan kerja dalam dua tahun terakhir; mesin-mesin tidak pernah dimatikan bahkan saat bermasalah, buruh yang memperbaikinya dalam keadaan mesin jalan seperti dilansir Katigaku.top.
Sebastian sudah menempuh semua jalur yang tersedia. Dikutip dari KPonline ia sudah melapor ke Disnaker Kabupaten Bekasi pada 7 April 2015—tiga minggu sebelum hari kematiannya—didampingi pimpinan cabang dan sekretaris umum SPAI FSPMI, ia melaporkan kecelakaan yang menimpa Topan, Haris, Sunarno, Mansur, dan masih banyak lainnya.
Yang lebih pahit menurut lionindonesia.org, banyak pihak di internal serikat berusaha mereduksi tujuan aksi Sebastian menjadi sekadar persoalan K3 di satu pabrik belaka—terlalu kecil, terlalu lokal, tidak pantas masuk ke panggung besar. Dalam kultur birokrasi serikat yang mewarisi kebiasaan Orde Baru, persoalan proses produksi adalah “urusan internal” yang tidak perlu diketahui orang luar, agar nama baik pengurus tidak tercemar. Sebastian, yang memilih membawa isu ini ke depan ribuan orang di GBK, justru dianggap melampaui batas.
Sementara itu, di atas panggung yang sama tempat tubuhnya jatuh, orasi-orasi besar sedang berlangsung. Tentang solidaritas internasional. Tentang perjuangan kelas. Tentang janji-janji yang akan ditunaikan. Tak ada yang mendengar Sebastian.
***
Pada Mayday 2025—sepuluh tahun setelah GBK—panggung yang sama di Monas kembali diisi oleh para elit serikat. Kali ini Presiden Partai Buruh Said Iqbal secara terbuka berseru bahwa “90 persen buruh Indonesia mendukung Pak Prabowo, berada di barisan Pak Prabowo, dan akan berjuang bersama Pak Prabowo!” sebagaimana dilansir Arah Juang. Sebuah pernyataan yang lebih mirip pidato kampanye daripada orasi perjuangan kelas
Pola yang sama berulang. Buruh, di mata komprador elit serikat yang cupet itu, haruslah sebagai kelas yang berharap era mesianik tiba melalui kehadiran Said, Jumhur, dan elit-elit serikat lain di panggung yang sama dengan penguasa. Dan sudah dipastikan buruh-buruh yang tak punya pilihan dalam hidup itu akan berbondong-bondong memenuhi perayaan Mayday 2026 di Monas untuk tiba mendengarkan orasi omong kosong soal hari buruh.
Ingat bagaimana ucapan Prabowo di Mayday 2025. Orang yang pernah bertanggung jawab atas penghilangan paksa sejumlah orang 98 itu berjanji akan menghapus sistem outsourcing, sebuah sistem yang oleh buruh disebut sebagai perbudakan modern. Ia menyebutnya “hadiah untuk kaum buruh.” Framing hadiah itu sendiri sudah memberi tahu banyak hal. Bahwa ia menyebut kita bukan sebagai kelas yang menuntut hak, tapi pengemis yang menanti kemurahan hati penguasa.
Inilah mekanisme kompromi yang sesungguhnya: bukan penundukan sekali jalan, melainkan ritual tahunan yang mereproduksi dirinya sendiri. Mayday datang, orasi membahana, janji dilempar, massa pulang. Tahun depan, tuntutan yang sama dibawa kembali, sedikit dimodifikasi. Para elit serikat culas berhasil menjaga agar buruh tetap bergerak dalam lingkaran yang tidak ke mana-mana—dan mereka sendiri naik jabatan karenanya.
Sebutlah mereka sebagai demagog. Dan bukan sekali-dua kali para demagog semacam Said dan Jumhur menyelundup dalam perayaan May Day. Para gedibal itu beroperasi untuk menjaga stabilitas kekuasaan. Hubungan yang seharusnya antagonistik berubah menjadi corong kompromi, dan di titik inilah banyak buruh ditinggalkan.
Sungguh fenomena itu sangat jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Perancis. Buruh-buruh SPBU TotalEnergies mogok pada April 2026 menuntut kenaikan upah, setelah perusahaan menaikkan harga BBM hingga €2,99/liter tanpa menyesuaikan upah pekerjanya. Mogok itu digelar oleh CGT—serikat yang tidak sedang bernegosiasi posisi menteri. Mereka memblokir pompa bensin, membentangkan spanduk, dan menolak tawaran “bonus bahan bakar” yang nilainya setara sepersepuluh pengeluaran mereka per bulan. Itulah perbedaan antara serikat yang bekerja untuk buruh dan serikat yang bekerja di atas nama buruh.
Jika serikat terus bekerja di atas nama buruh, maka tak ada yang benar-benar berdiri untuk-demi buruh selain buruh itu sendiri. Tapi anekdotnya adalah betapa bebalnya sebagian netizen—kebanyakan juga buruh yang upahnya jauh lebih sulit naik dari seekor unta masuk lubang jarum—yang tiba di kolom komentar dengan khotbah moral soal rasa syukur, pentingnya menjaga kondusifitas, kemacetan, hingga keindahan kota ketika Hari Buruh Internasional berlangsung.
Pada titik itu para kosmonot yang berusaha menemukan alien di ruang hampa adalah perbuatan yang relatif sia-sia; tak jauh sebelum roket mereka menyala, sesuatu yang asing dan tersingkir dari kehidupan itu sedang menganyam alas kaki, membangun gedung, membuat roket, menjahit kaos H&M, hingga menyemir sepatu.
Kondisi asing itu, mungkin, yang membuat buruh tak punya waktu untuk memikirkan apa saja yang membuat mata mereka berbinar-binar. Buruh juga kehilangan bahasa untuk menyebut keterasingannya sendiri, semuanya digantikan oleh adagium soal stabilitas dan pertumbuhan ekonomi makro di panggung orasi. Bahkan di saat gajian pun, fisika dan matematika tak bisa menghitung bagaimana upah bisa lebih cepat dari cahaya—hari ini upah sudah habis sebelum besok gajian. Apa yang sudah hilang sebelum sesuatu itu tiba?
Sebastian Manuputty sudah menjawab pertanyaan itu dengan tubuhnya sendiri. Bahwa kehormatan para elit serikat buruh busuk itu sudah lama dibeli.
Penulis: Dedi Muis
Editor: Abdul Harahap

