Trimurti.id–Dimulai pada 07 Oktober 2023, Israel menyerang Gaza secara membabi buta dan tanpa henti. Di sela-sela agresi, para tentara Israel Defence Force (IDF) berpesta merayakan kematian ribuan perempuan dan anak-anak yang terbunuh akibat serangan tersebut. Tujuh bulan setelahnya, Rafah, rumah bagi satu juta pengungsi, tak luput dari agresi mengerikan militer rezim zionis Israel.
Dimulai sejak Penyerangan Nakba tahun 1948 hingga hari ini, kematian terus menjadi barang lazim di Palestina. Dekolonisasi Palestina menjadi sebuah wacana penting dan konkret untuk menciptakan perdamaian yang berkelanjutan dan menghentikan pembantaian massal di tanah ini. Pada Penyerangan Nakba itu, puluhan atau bahkan ratusan ribu rakyat Palestina digusur dari tanah tempat mereka dan seluruh leluhur mereka lahir, dan itu terus berlangsung sampai saat ini.
Perjuangan rakyat Palestina untuk kebebasan dan kedamaian terus berlanjut. Dekolonisasi bukan hanya berbicara tentang mengakhiri pendudukan militer, mengakhiri agresi, dan mengakhiri pertumpahan darah, tetapi juga tentang penghapusan secara menyeluruh sistem kolonialisme pemukim yang mengakar dalam berbagai kebijakan Israel terhadap Palestina.
Deklarasi Balfour tahun 1917 menandai awal proyek kolonialisme Zionis di Palestina, dengan semangat untuk mendirikan “rumah nasional bagi kaum Yahudi” di tanah milik orang-orang Palestina. Seiring berjalannya waktu, proyek ini berkembang menjadi bentuk kolonialisme pemukim yang brutal, perampasan tanah, penggusuran dan pengusiran penduduk asli, serta penghancuran desa-desa yang disertai dengan kekerasan. Rakyat Palestina terus hidup di bawah bayang-bayang genosida yang dilakukan secara sistematis oleh Israel.
Dekolonisasi Palestina diwujudkan dengan adanya pengakuan terhadap hak-hak historis dan hak asasi manusia rakyat Palestina. Ini termasuk hak untuk kembali ke tanah mereka yang telah dirampas dan hak untuk menentukan nasib mereka sendiri secara independen. Dekolonisasi sejati juga harus mencakup pengembalian tanah yang dirampas, pengadilan secara terbuka terhadap berbagai pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Israel, dan penghentian segala bentuk kekerasan dan diskriminasi oleh Israel.
Dalam mencapai dekolonisasi, salah satu bagian terpenting yang harus diperjuangkan adalah pengakuan internasional dan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina. Meski kita semua tentu menyadari bahwa sistem internasional cenderung didominasi oleh negara-negara besar dengan kepentingan mempertahankan Israel, bukan berarti tidak ada kesempatan. Kita dapat melihat proses dekolonisasi di banyak negara lain, dukungan internasional memainkan peran penting dalam menekan kekuatan kolonial untuk mundur dan memberikan hak kepada penduduk asli. Berakhirnya rezim apartheid di Afrika Selatan misalnya, menunjukkan kepada kita semua bahwa tekanan internasional, termasuk sanksi, boikot, dan isolasi diplomatik, dapat menjadi alat yang efektif dalam mengakhiri rezim apartheid.
Selain itu, penting untuk memahami bahwa dekolonisasi Palestina tidak hanya soal mengakhiri pendudukan fisik, tetapi juga mengatasi warisan kolonial dalam berbagai aspek kehidupan. Ini termasuk sistem hukum yang diskriminatif, kebijakan ekonomi yang eksploitatif, dan narasi sejarah yang diputarbalikkan untuk membenarkan pendudukan. Upaya dekolonisasi harus mencakup reformasi sistemik yang mengarah pada keadilan sosial dan ekonomi bagi seluruh rakyat Palestina.
Dekolonisasi juga harus melibatkan proses rekonsiliasi dan pembangunan perdamaian yang inklusif. Ini berarti mendengarkan suara dan pengalaman semua pihak yang terkena dampak konflik, termasuk para pengungsi Palestina, penduduk di wilayah pendudukan, dan masyarakat Israel yang menentang kebijakan apartheid. Proses ini harus bertujuan untuk membangun masyarakat yang inklusif dan adil, semua orang dapat hidup dengan martabat dan hak yang sama.
Tantangan besar dalam dekolonisasi Palestina adalah mengatasi narasi dominan yang selama ini digunakan untuk membenarkan pendudukan. Narasi ini sering kali menggambarkan perjuangan rakyat Palestina sebagai terorisme dan menutupi realitas penindasan dan penjajahan yang dialami penduduk Palestina. Melawan narasi ini memerlukan upaya kolektif untuk mengungkap kebenaran sejarah dan menyuarakan kisah-kisah rakyat Palestina yang telah lama diabaikan.
Dalam mewujudkan dekolonisasi, organisasi internasional dan masyarakat sipil berperan sangat penting. Organisasi-organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) harus terus mendukung hak-hak rakyat Palestina dan memberikan tekanan kepada Israel untuk menghormati hukum internasional. Sedangkan gerakan masyarakat sipil di seluruh dunia dapat membantu dengan bersama-sama melakukan kampanye secara masif melalui kampanye boikot, divestasi, dan sanksi (BDS) terhadap Israel, demonstrasi, pendidikan dan kampanye publik, serta berbagai macam bentuk solidaritas lainnya.
Pada akhirnya, dekolonisasi Palestina harus ditempatkan sebagai bagian dari perjuangan global melawan kolonialisme, dan melindungi demokrasi serta hak asasi manusia. Berbagai kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel sejak Penyerangan Nakba hingga hari ini telah menunjukan kepada kita semua bahwa klaim Israel sebagai satu-satunya negara demokratis di Timur Tengah merupakan sebuah kebohongan.
Sejarah menunjukkan bahwa dekolonisasi adalah proses yang panjang dan kompleks, tetapi juga menunjukkan bahwa dengan solidaritas internasional dan tekad yang kuat, rakyat yang tertindas dapat mencapai kebebasan dan keadilan. Dekolonisasi Palestina bukan hanya sebuah tuntutan moral, tetapi juga sebuah keharusan untuk mencapai perdamaian yang adil dan abadi di Timur Tengah.
Kesimpulannya, dekolonisasi Palestina adalah jalan yang sulit tetapi penting untuk diambil. Ini adalah proses yang memerlukan perubahan sistemik, dukungan internasional, dan keberanian untuk mengakui dan mengatasi kesalahan sejarah. Dengan komitmen global untuk keadilan dan hak asasi manusia, dekolonisasi Palestina dapat menjadi kenyataan, membuka jalan bagi masa depan yang damai dan adil bagi semua orang di wilayah tersebut.
Penulis: Iman Amirullah (biasa disapa Kim, aktivis SINDIKASI Yogyakarta dan Koordinator Advokasi dan Riset Beranda Migran)
Editor: Dachlan Bekti
Ilustrator: Kelanadestin

