Categories
Montase

Di Kolong Pasopati, Para Perempuan Mengutuk Penindasan

Trimurti.id, Bandung – Hujan deras yang mengguyur Bandung sejak siang tak menyurutkan semangat ratusan muda-mudi untuk memperingati Hari Perempuan Sedunia. Di kolong Fly Over Pasupati, Sabtu, 8 Maret 2025, mereka menjadikan tempat itu sebagai ruang aman untuk berekspresi dan bersolidaritas.

Di tengah hujan, di kolong jembatan, mereka menggelar tikar untuk lapak zine, pakaian dan pangan gratis, posko konsultasi hak sipil, hingga test HIV. Sementara itu, yang lain menyiapkan sound portable, membentangkan poster dan spanduk tuntutan. Itu menghangatkan suasana aksi di tengah udara Bandung yang semakin dingin.

Aksi bertajuk “Perempuan, Pembebasan, dan Kehidupan” pun dimulai. Peserta membentuk lingkaran besar, memberi ruang bagi siapa saja yang ingin bersuara—mengutuk ketidakadilan terhadap perempuan, membaca puisi, atau menampilkan aksi teatrikal. Tak hanya itu, mereka juga berbagi beras dan bahan pokok kepada tunawisma di sekitar lokasi aksi. Solidaritas nyata, bukan sekadar slogan.

Namun, di tengah semangat aksi dan solidaritas, kondisi yang dihadapi perempuan buruh tetap runyam. Tahun ini, Hari Perempuan Sedunia diperingati di tengah bulan Ramadan, saat harga kebutuhan pokok meroket, anggaran publik dipangkas, dan buruh menghadapi penunggakan tunjangan hari raya (THR) serta pemecatan massal.

Lebaran masih jauh, tetapi Nania (bukan nama sebenarnya) sudah pusing. Ayahnya, seorang guru, belum menerima tunjangan dan sertifikasi yang seharusnya sudah dicairkan pemerintah. Sebagai anak sulung, Nania harus ikut menopang keluarga. Seperti banyak anak buruh lainnya, saat mereka mulai bekerja, peran mencari nafkah perlahan bergeser ke pundak mereka.

Namun, penghasilannya sebagai buruh di sebuah non-governmental organisation (NGO) belum bisa menambal kebutuhan Lebaran. Mau tak mau, ia harus mencari penghasilan tambahan agar bisa membantu keluarga menghadapi hari raya.

“Pemerintah, tuh, harusnya sadar, kalau mau Lebaran, kebutuhan hidup naik,” ujar Nania. Ia benar, sekali lagi, pengurus publik harus bisa memastikan hak hidup rakyatnya terpenuhi dan layak. 

Namun, berharap pada pemerintah sering kali seperti menimba air dengan tangan kosong—sia-sia belaka. Pada awal 2025, rezim Prabowo-Gibran malah sibuk memangkas anggaran pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial. Kritik dibalas dengan cemoohan. Sementara sumber daya alam dan buruh murah terus dijual kepada pemilik modal.

Sebelum berpisah, Nania berseloroh, “Awal tahun ini banyak nggak bahagianya. Kira-kira gimana, ya, masa depan Gen-Z kayak kita?”

Saya hanya bisa menggaruk kepala. Bingung, karena mungkin bukan hanya Nania yang bertanya-tanya soal nasib di masa depan.

Terlebih lagi, saya nggak yakin apakah saya ini Gen-Z atau bukan. 

Teks: Baskara Hendarto

Foto: Baskara Hendarto & Seant

Melanjutkan semangat Trimurti
 
Di era kolonial, S.K. Trimurti berani menulis meski risikonya penjara. Kini, kami melanjutkan tradisi itu—memberitakan yang benar, meski tidak populer.
 
Trimurti.id adalah media nirlaba. Tidak ada pemilik konglomerat. Tidak ada agenda tersembunyi. Hanya semangat untuk Baca, Sebar, dan Lawan.
Jadilah bagian dari sejarah ini.
Klik link di bawah untuk mendukung Trimurti