Trimurti.id, Bandung – Selasa, 20 Oktober 2026, para warga Bandung berkumpul di kawasan Jalan Asia Afrika untuk menyuarakan kritik terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo–Gibran. Mereka marah terhadap rezim Prabowo-Gibran yang dinilai telah gagal dalam segala hal.
Aksi ini melibatkan sejumlah organisasi mahasiswa, kelompok masyarakat, dan individu. Di antaranya Forum Dago Melawan, Forum Sukahaji Melawan, Sumedang Melawan, Kesatuan Mahasiswa Setia Rakyat (SETRA) Bandung Raya, Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan (UKSK) UPI, Lunar Bandung, BEM KEMA FIP IPI, KM ITB, Serikat Mahasiswa Ganesha, Garda Padjajaran, dan Aliansi BEM Se-Unpad.

Berdasarkan pantauan awak Trimurti.id di lokasi, aksi dimulai sekitar pukul 13.30 WIB di sekitar pertigaan Palestine Walk. Massa kemudian bergerak melewati Gedung Merdeka dan tiba di depan Hotel Savoy Homann sekitar pukul 14.14 WIB untuk menggelar mimbar bebas dan menampilkan sejumlah pertunjukan seperti kesenian benjang. Di lokasi tersebut, aparat kepolisian tampak berjaga dan mengepung kawasan aksi dari berbagai sisi.

Sekitar pukul 15.00 WIB, massa bergerak menuju Simpang Lima dan melanjutkan aksi dengan orasi secara bergantian. Setelah itu, massa bergerak menuju kawasan Braga dan bertahan hingga waktu petang dan ibadah salat Magrib.
Tuntutan Terhadap Rezim Prabowo-Gibran
Nur Rijki dari Kesatuan Mahasiswa Setia Rakyat (SETRA) Bandung Raya mengatakan bahwa selama dua tahun Prabowo-Gibran berkuasa, Indonesia semakin terpuruk.

“Mulai dari keadaan sosial, ekonomi, dan politik. Jadi berbagai permasalahan tersebut kita dari aliansi menuntut agar pemerintahan fasis prabowo gibran dibubarkan,” ujarnya ketika diwawancarai.
Ia juga meminta agar perampasan lahan terhadap rakyat segera dihentikan dan segera sahkan UU reforma agraria sejati yang pro kepada kaum tani dan RUU ketenagakerjaan yang pro terhadap buruh, serta menjamin hak untuk berserikat, berorganisasi, dan mengemukakan pendapat.

Tak hanya mahasiswa, beberapa elemen lain juga ikut berorasi. Seperti warga Dago Elos, driver ojek daring, suporter sepakbola, dan lain-lain. Mereka menyuarakan kekesalannya terhadap karhutla, tragedi kanjuruhan yang belum selesai diusut, hingga kebijakan MBG dan lain-lain.
Dalam rilis yang diterbitkan, massa aksi menilai dua tahun pemerintahan Prabowo–Gibran memperlihatkan persoalan struktural yang mengancam hak-hak dasar dan kesejahteraan rakyat. Mereka menyoroti tiga persoalan utama: dominasi kapitalis monopoli asing yang disebut imperialisme, perampasan dan monopoli tanah yang disebut feodalisme, serta praktik pemerintahan yang korup yang disebut kapitalisme birokrasi.

“Dua tahun kekuasaan rezim Prabowo-Gibran telah menyingkap tabir kebobrokan dominasi kapitalis monopoli asing (imperialisme), perampasan dan monopoli tanah (feodalisme), serta pemerintahan korup (kapitalisme birokrasi),” demikian pernyataan dalam rilis yang diterima oleh Trimurti.id.

Massa aksi juga menilai bahwa persoalan-persoalan tersebut mengancam hak rakyat atas kehidupan, kemerdekaan, dan kesejahteraan. Mereka juga menyoroti tindak kekerasan terhadap hak-hak demokratis, termasuk hak berkumpul, berserikat, dan menyampaikan pendapat, padahal hak-hak itu dijamin dan dilindungi oleh konstitusi Republik Indonesia.

Aksi berlanjut hingga malam hari. Setelah salat Magrib, massa bergerak secara long march menggunakan sepeda motor dan tiba di kawasan Tamansari sekitar pukul 19.16 WIB.
Sekitar pukul 21.00 WIB, massa sempat melanjutkan pergerakan menuju Taman Cikapayang. Namun, berdasarkan pantauan awak Trimurti.id, aparat memukul mundur massa aksi secara represif.
Reporter: Supratno
Editor: Anita Lesmana

