“Sebagai hadiah, malaikat menanyakan, apakah aku ingin berjalan di atas mega. Dan aku menolak karena kakiku masih di bumi sampai kejahatan terakhir dimusnahkan, sampai dhuafa dan mustadh’afin diangkat Tuhan dari penderitaan.” — Kuntowijoyo, “Pertentangan ialah Hukum Surgawi,” Makrifat Daun-Daun Makrifat (1995)
Bagaimana kehidupan dewasa? Cukup melelahkan, bukan? Ya, kelelahan yang ditumpuk tanpa jeda dan aba-aba. Semua beriringan, semua datang tanpa mengucapkan salam, tetapi memaksa kita untuk selalu bersiap, meski sudah sekian ribu kecewa atas negara, sosial, dan cinta. Mungkin mendengarkan musik menjadi salah satu cara untuk menghela napas dari segala yang terus datang.
Album Melankolia Radikal, album teranyar Dongker, mengajak kita untuk jeda dan menghadapi kelelahan, kekecewaan, dan rasa seolah-olah pasrah, tetapi tak boleh berhenti di situ. Waktu tak pernah diam di tempat dan, sialnya, kita selalu diseret untuk bergerak.
Dalam perjalanan mendengarkan album ini, saya merasa ada sesuatu yang berbeda. Dongker tampaknya mengalami sedikit kemajuan ketimbang Ceriwis Necis (2024) yang begitu berantakan. Coba saja dengar pakai headset dua puluh ribuanmu itu, nyaris ritme yang dilantunkan nggak turut ayah ke kota dan kurang istimewa. Walaupun begitu, dalam album Ceriwis Necis, ada beberapa lagu yang saya suka, seperti “Tuhan di Reruntuhan Kota”, “Luka di Pelupuk Mata”, “Natrium Benzoat”, dan “Di Neraka”.
Album terbarunya terasa lebih rapi dan menawarkan kesedihan di tengah keterasingan yang mendalam dari negara, sosial, dan agama. Akan tetapi, kesan itu tidak serta-merta membuat saya yakin bahwa Dongker telah menemukan bentuk baru. Kawan saya, Aldito, seorang rapper, justru bilang Dongker adalah post-punk yang berhenti di situ-situ saja dalam urusan irama musik: “plot dan monoton, gak maju.” Saya hanya tersenyum dan bilang sedang berusaha me-review album terbarunya. Ini sedang diusahakan.
Sebagai pendengar musik yang amat payah, saya tak berani mengkritik komposisinya. Biarlah orang lain. Saya hanya ingin bilang, “Itu apa-apaan sih, album Melankolia Radikal ada foto Jokowi? Nggak keren, Mas Delpi.”
Foto Jokowi itu kemudian membawa saya pada cara kita membaca simbol kekuasaan dalam album ini. Oyot dari The Maple Media menyebut manipulasi Joko Widodo karya Agan Harahap, I Was Punk Before You, dan Dollar, maskot Dongker, sebagai pertemuan antara punk, kekuasaan, identitas, dan absurditas.
Namun, jika foto Jokowi dibaca sebagai simbol kekuasaan, persoalannya bukan sekadar siapa yang tampil di sampul. Saya justru bertanya: mengapa kritik terhadap kekuasaan dalam punk begitu mudah dilekatkan pada figur tertentu?
Dalam sejarah punk, figur kekuasaan kerap dijadikan artwork atau bahan olok-olokan. Wasted Youth, misalnya, menampilkan Ronald Reagan dalam Reagan’s In (1981). Crass dan Chumbawamba menjadikan Margaret Thatcher sebagai objek karya, sementara Sex Pistols melalui God Save the Queen (1977) menampilkan potret Ratu Elizabeth II dengan mata dan mulut tertutup potongan teks karya Jamie Reid.
Praktik tersebut, menurut Dick Hebdige dalam Subculture: The Meaning of Style (1979), merupakan cara punk merusak kode visual untuk mengganggu simbol kekuasaan dan otoritas. Dalam God Save the Queen, misalnya, citra kepala monarki diubah menjadi simbol kritik terhadap kekuasaan dan narasi kejayaan nasional.
Namun, mengganggu simbol kekuasaan tentu berbeda dengan membongkar cara kekuasaan bekerja. Di titik ini, persoalannya kembali kepada Jokowi yang oleh Oyot dibaca sebagai simbol kekuasaan dalam Melankolia Radikal. Jika foto Jokowi hendak merepresentasikan kekuasaan, mengapa kritik itu masih berhenti pada figur dan perkara seperti kontroversi ijazah? Bukankah kekuasaan bekerja jauh lebih luas daripada seorang presiden dan satu perkara?
Kita bisa melihat persoalan itu melalui perkembangan kasus Andrie Yunus. KontraS dalam Serangan Air Keras Dibalas Impunitas, Terdakwa Dihukum Ringan, 16+ OTK Masih Bebas menjelaskan bahwa dalam perkara ini, empat anggota TNI telah diproses melalui peradilan militer. Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD) menyebut masih ada lebih dari 16 orang yang diduga terlibat dalam rangkaian serangan tersebut dan belum diproses secara hukum. Mereka diduga bukan hanya sebagai pelaku di lapangan, tetapi juga pihak yang memerintahkan, merencanakan, mengoordinasikan, memfasilitasi, atau mendanai serangan. TAUD menilai penyidikan belum berjalan secara utuh dan progresif karena belum mengungkap seluruh pihak yang diduga terlibat.
Kasus tersebut memperlihatkan bahwa kekuasaan tidak selalu hadir dalam satu wajah yang mudah dikenali. Ia dapat bekerja melalui institusi, jaringan, perintah, impunitas, dan orang-orang yang berada di balik sebuah tindakan. Karena itu, kritik terhadap satu figur saja barangkali tidak pernah cukup.
Lantas, apakah cukup bagi punk untuk terus menunjuk satu figur kekuasaan, lalu berhenti di sana? Atau justru punk perlu bergerak lebih jauh: membongkar bagaimana kekuasaan bekerja dan siapa saja yang membuatnya terus berjalan?
Saya pikir, mungkin sudah waktunya berhenti berharap. Bukan karena harapan itu tak berguna, melainkan karena terlalu lama berharap membuat kita lupa bergerak. Pecut gairah dalam dirimu, sebab kekuasaan tidak pernah berhenti hanya karena kita gagal melawannya.
Namun, barangkali persoalannya tidak sesederhana itu. Sebab sebelum album ini disajikan secara utuh, Dongker telah lebih dahulu melempar tiga lagu ke telinga pemirsa: “Takbir Terdengar Kejam”, “Lautan Biru Berwarna Terang”, dan “Lagu Selepas Hujan”. Tiga lagu tersebut seperti memberi jalan masuk lain untuk memahami Melankolia Radikal: bukan hanya melalui kritik terhadap kekuasaan, tetapi juga melalui kehidupan sehari-hari yang terus memaksa manusia bertahan.
Kasus penyiraman Andrie Yunus memang disinggung oleh Dongker dalam video klip “Lagu Selepas Hujan”. Saya pernah me-review lagu tersebut dan bertanya: apa yang diharapkan dari gerimis hujan?
Yang datang bukan selalu tik-tik bunyi hujan. Kadang yang datang justru kredit cicilan, kota gagal menjaga warga, percintaan yang gagal kesekian kalinya, sampai kemudian kita menyeduh Themillo, menyalakan speaker Bluetooth, mendengar nomor Daun dan Ranting sambil nangis di pojokan.
Di titik ini, persoalan politik yang sebelumnya terasa jauh tiba-tiba kembali menjadi persoalan yang sangat dekat dengan tubuh. Kehidupan dewasa memang tak memberi banyak pilihan. Kita selalu dihadapkan pada hal-hal genting sampai pala pening.
Pada video klip “Lagu Selepas Hujan”, persoalan itu muncul dalam bentuk yang konkret: kegagalan pemangku kebijakan melindungi warga, jalan berlubang yang mengakibatkan kecelakaan, tata kota yang belum ramah bagi kawan difabel, subsidi BBM yang mulai dikeluhkan masyarakat—terutama kelas pekerja—hingga kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus.
Semua ini tak memberi kita pilihan. Meski perlawanan telah dilakukan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya. “Hidup memang bukan pilihan, semoga kita tak kan menyesal.”
Tetapi kalau hidup memang tak memberi pilihan, barangkali yang tersisa bukan sekadar harapan, melainkan hal-hal kecil yang membuat kita tetap ingin bertahan: pelangi di rona wajahmu, mentari hangat persahabatan, dan kerinduan saat harum petrikor datang setelah hujan. Mungkin dari sanalah melankolia bekerja—bukan sebagai alasan untuk berhenti, melainkan sebagai cara untuk menyadari bahwa kita masih punya sesuatu yang ingin dipertahankan.
“Tangis yang tragis di reruntuh kota. Senyum yang manis di wajahmu, cinta. Ku terjebak melankolia.”
Menyapa Tuhan, Estetika Profetik, dan Patriotik Semu
Setelah semua kegagalan itu, kita kembali pada pertanyaan yang sejak awal diam-diam mengikuti album ini: kepada siapa kita menyapa ketika negara gagal, apakah punk masih memiliki gairah, dan apa yang terjadi ketika harapan mulai terasa melelahkan?
Lagu Selamat Malam Tuhan sebagai pembuka album ini mengingatkan saya pada puisi-puisi Kuntowijoyo dalam Makrifat Daun-Daun Makrifat (1995). Ada mimpi yang ditawarkan, tetapi aku-lirik memilih membumi dan menjalani hidup meski keadaan semakin menjengkelkan: melawan neraka negara sekaligus membayangkan istana surga.
Jika lagu Selamat Malam Tuhan berhenti pada larik, “Selamat malam Tuhan, aku menghadapi dunia, beserta hukumnya melawan neraka berbentuk negara,” ia terdengar amat anarkistik. Posisi itu kemudian berubah ketika kita mendengar bait berikutnya: “Di mana cintaku? Kuingin kamu. Kita membangun surga dan membayar pajak untuk Indonesia.”
Di sinilah saya melihat persoalan dalam lirik tersebut. Setelah negara disebut sebagai “neraka”, negara kembali hadir sebagai bagian dari bayangan tentang surga. Kritik terhadap negara yang dibangun pada bagian awal seolah berhadapan dengan keinginan untuk tetap membangun kehidupan bersama di dalam kerangka Indonesia. Bagi saya, perubahan ini menghasilkan patriotisme semu karena persoalan sebelumnya dipertentangkan dengan negara tidak benar-benar diselesaikan.
Oleh sebab itu, saya kurang sepakat dengan tulisan Muhammad Zaidan, Dongker Melankolia Radikal Menebus Rasa Pesimis Saya, tayang di Instagram Simulacroom. Zaidan menyebut lirik album ini tetap mempertahankan nuansa penulisan lirik punk yang konfrontatif sekaligus kontemplatif. Dalam pembacaannya, “neraka bernama negara” merupakan metafora dari sumber penderitaan yang sistematis. Penolakannya semakin tajam ketika individu dibenturkan langsung dengan hukum duniawi.
Menurut saya, pembacaan tersebut terlalu berhenti pada metafora “neraka berbentuk negara” dan kurang memperhatikan perubahan posisi aku-lirik setelahnya. Jika negara adalah neraka yang hendak dilawan, mengapa kemudian surga justru dibayangkan bersama Indonesia dan bahkan melalui tindakan “membayar pajak”?
Saya menangkap metafora “neraka berbentuk negara” sebagai penolakan yang jauh lebih radikal. Ia mengingatkan saya pada Nabi Ibrahim alaihi sholatu wa sallam yang menghancurkan berhala-berhala: setelah menghancurkannya, apakah ia kemudian berharap mendapatkan surga dari berhala tersebut? Tentu tidak. Karena itu, bagi saya, problem lagu ini justru terletak pada ketidakselesaian penolakannya terhadap negara.
Hal tersebut mengingatkan saya pada puisi Toto Sudarto Bachtiar dalam Pahlawan Tak Dikenal, Suara: Kumpulan Sajak 1950–1955 (1977). Ia menulis tentang seorang pahlawan yang mati muda: “Sepuluh tahun yang lalu, dia terbaring tetapi bukan tidur, sayang. Sebuah lubang peluru bundar di dadanya. Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda.”
Aku-lirik dalam Selamat Malam Tuhan juga membayangkan sedikit keindahan dari dunia yang menyesakkan. Ia pernah berharap pada negara, kemudian mencoba menyapa Tuhan, meminta agar perang atau kelaliman dihentikan. Namun, pada bagian akhir, nada yang sama kembali muncul: “Tuhan, akhirnya kita ucapkan selamat tinggal. Aku ingin minta maaf. Aku ingin Engkau sadar ku menyesal. Karena hidup kita masih panjang.”
Di titik ini, saya justru semakin bingung: sebenarnya ingin ke mana lagu ini membawa kita? Negara disebut sebagai neraka, Tuhan disapa sebagai tempat berharap, tetapi Indonesia kembali menjadi bagian dari surga yang ingin dibangun. Mungkin memang hidup masih panjang. Tapi setelah semua yang dikatakan di awal lagu, saya masih ingin bertanya: jadi pengennya apa?
Meski demikian, saya menangkap lirik dalam ini mirip estetika profetik yang ditawarkan oleh Kuntowijoyo dalam Maklumat Sastra Profetik (2006), tentang etika profetik, yakni keinginan meniru perbuatan Nabi. Asal-usul etika ini ditemukan Kuntowijoyo dalam salah satu risalah yang ditulis filsuf Pakistan, Muhammad Iqbal.
Iqbal mengutip ungkapan seorang sufi yang mengagumi Nabi dalam peristiwa Isra Mikraj. Meskipun Nabi telah mencapai tempat paling tinggi yang menjadi dambaan ahli mistik, tetapi kembali ke bumi menunaikan tugas-tugas kerasulan.
Kuntowijoyo menemukan konsep etika profetik dalam Surah Ali Imran ayat 110: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah.”
Berdasarkan ini, Kuntowijoyo kemudian merumuskan etika profetik menjadi tiga hal, yakni humanisasi, liberasi, dan transendensi. Humanisasi sangat penting di tengah objektivasi manusia, agresivitas, kesepian manusia, dan keterasingan spiritual. Menurutnya, humanisasi menciptakan manusia mesin.
Menurut saya, lagu Selamat Malam Tuhan menawarkan etika profetik ini.
Metafora Berpelukan, Kisah Sedih di Tengah Nirimajinasi
Trauma, kesedihan, kelelahan jadi benang merah dari keseluruhan album Melankolia Radikal ini. Misalnya dalam lagu Kukubur Trauma, Metafora Berpelukan, Nirimajinasi (feat. Cholil Mahmud), Kisah Sedih Kontemporer (Air & Api), Penyesalan > Kelahiran, dan yang amat personal, Lamunan Ringan di Singapura (feat. Banda Neira).
Arno, gitaris dan vokalis Dongker, bilang lagu Lamunan Ringan di Singapura sengaja memang amat personal karena dalam album ini banyak membicarakan kelelahan di luar diri. Melamun di Singapura, siapa yang tak mau melihat patung Merlion sambil minum wiski, siapa yang tak mau? Beda halnya jika yang dilamunkan cicilan, lirik ini kurang relate bagi sebagian masyarakat kelas buruh.
Meski demikian, saya mengapresiasi dan mengangkat topi tinggi-tinggi untuk Dongker yang tetap konsisten seusai berhasil melaksanakan showcase di kolong Cikapayang dan Jogja, lalu melakukan tur lintas kota dan negara. Apalagi saat tur di Jepang menyuarakan perampasan lahan Dago Elos di Negeri Sakura, sebuah keberanian.
Akhirul kalam, Melankolia Radikal, album sedih dan cukup berhasil. Nuhun.
Penulis: M. Akmal Firmansyah
Editor: Rokky Rivandy
Ilustrasi: Kelanadestin

