Categories
Kabar Perlawanan

Mau Mogok. Eh, Disabot Elite Serikat Buruh: Cerita Sabotase Elite Serikat Kesehatan dan Jasa Universitas California

Trimurti.id–Ribuan buruh layanan kesehatan dan jasa Universitas California (UC), Amerika,  semula berencana untuk mogok kerja tanpa batas waktu. Aksi bersejarah itu digalang oleh  para petugas kebersihan, teknisi perawatan pasien, juru terapi, buruh katering sejak Kamis, 14 Mei 2026. Tak kurang dari 42.000 orang buruh bersepakat untuk mogok menuntut upah layak, subsidi perumahan, dan perbaikan layanan kesehatan. Para buruh itu merupakan anggota dari American Federation of State, County and Municipal Employees (AFSCME)1 Cabang 3299, suatu serikat yang menghimpun pegawai pemerintah tingkat negara bagian, kabupaten, dan kota. Mereka dipekerjakan tanpa kontrak sejak 2024. 

Sialnya, hanya beberapa jam sebelum pemogokan dimulai, pemimpin serikat membatalkan seluruh rencana mogok. Pengumumannya terbit pada waktu yang tidak terduga, saat sebagian besar buruh tertidur lelap. Pengurus AFSCME Cabang 3299 mengklaim bahwa mereka telah mencapai permufakatan sementara dengan pihak manajemen. Tentu saja permufakatan itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tanpa sepengetahuan anggota.

Dikutip dari World Socialist Web Site, ini bukan kali pertama pimpinan serikat melakukan manuver serupa. Bulan April lalu, elite Serikat Buruh Internasional Pegawai Jasa atau Service Employees International Union (SEIU) memblokir mogok serentak 77.000 buruh sekolah negeri Los Angeles hanya beberapa jam sebelum batas waktu, setelah negosiasi semalam suntuk yang melibatkan Wali Kota Los Angeles Karen Bass. 

Di pekan yang sama, SEIU juga membatalkan rencana mogok 34.000 buruh bangunan di New York City sesaat sebelum aksi dimulai. Sementara di UC, Serikat Pekerja Otomotif Amerika atau United Auto Workers (UAW) juga membatalkan aksi mogok yang akan diikuti oleh 37.000 buruh akademik setelah kontrak mereka berakhir bulan Maret lalu.

Di Amerika Serikat, elite serikat besar memiliki hubungan struktural yang erat dengan Partai Demokrat, partai yang selama ini dianggap pro-buruh. Tapi yang terjadi di lapangan malah menjadi penggembos perlawanan kelas. Situasi ini tidak jauh berbeda dengan pola di Indonesia; sebagian elite serikat buruh justru berafiliasi dengan partai politik dan duduk manis di lembaga tripartit, sehingga posisi tawar mereka terhadap pengusaha menjadi lemah dan kompromistis.

AFSCME Klaim Kemenangan, tapi Banyak Tuntutan Tak Terpenuhi 

AFSCME menyebut hasil negosiasi ini sebagai kemenangan bersejarah. Namun, isi perjanjian yang disepakati justru dinilai belum memenuhi banyak tuntutan awal para buruh. Dalam perjanjian sementara tersebut, buruh akan mendapat bonus satu kali sebesar 1.500 dolar AS (sekitar Rp24,5 juta) serta kenaikan upah 5 persen yang berlaku surut sejak 2025. Selain itu, upah minimum dijanjikan naik bertahap dari 25 dolar AS pada 2025 menjadi 30,10 dolar AS pada April 2029. 

Masalahnya, sebelum ancaman mogok muncul, manajemen UC sudah lebih dulu menawarkan kenaikan upah 5 persen dan upah awal 25 dolar AS. Selama lima tahun, total kenaikan yang didapat buruh hanya sekitar 24 persen, tidak jauh berbeda dari tawaran terakhir manajemen sebelumnya, sebesar 18 persen. Padahal, tuntutan awal serikat pekerja adalah kenaikan 25 persen hanya dalam tiga tahun. 

Hal yang paling menyakitkan adalah dihapusnya tuntutan subsidi perumahan sebesar 25 ribu dolar AS (sekitar Rp408 juta) bagi setiap buruh dari kesepakatan akhir. Padahal, biaya tempat tinggal di California menjadi persoalan utama yang banyak dikeluhkan buruh.

Jika merujuk pada Komponen Hidup Layak dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), seorang buruh lajang dengan satu anak di California membutuhkan minimal 53,54 dolar AS per jam hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup. Kondisi ini mirip dengan kondisi buruh di kawasan industri Karawang atau Tangerang yang upahnya nyaris habis hanya untuk kontrakan dan ongkos transportasi, sehingga tidak ada yang tersisa untuk menabung atau kebutuhan lain.

Buruh Kecewa dan Merasa Dikhianati

Kemarahan para buruh terlihat di media sosial AFSCME Local 3299 setelah isi perjanjian diumumkan. Banyak buruh merasa serikat tidak memenuhi janji yang sebelumnya terus disuarakan selama aksi mogok dan negosiasi.

“Mana janji soal uang retroaktif?2 Mana subsidi perumahan? Katanya tidak akan berhenti sampai menang,” tulis salah satu buruh di Instagram serikat.

Buruh lain juga kecewa karena tuntutan subsidi perumahan yang dianggap paling penting justru hilang dari kesepakatan akhir.

“Ini sangat menyedihkan dan mengecewakan. Saya sungguh berharap mendapat subsidi perumahan. Omongan (elite) serikat tidak bisa dipercaya. Di awal mereka bilang tidak akan mundur kalau tidak ada subsidi rumah,” tulis lainnya.

Sejumlah buruh UC menceritakan kondisi ekonomi mereka semakin berat meski terus bekerja seharian.

Wartawan WSWS turun langsung ke UC pada Kamis pagi mengangkat kesaksian para buruh. Salah satunya Andrew, petugas taman di UC Irvine yang telah bekerja sembilan tahun, mengatakan banyak temannya harus menjalani dua pekerjaan sekaligus demi bertahan hidup.

“Kamu tidak bisa hidup hanya dari satu pekerjaan,” ujarnya. Ia juga mengungkap bahwa tahun lalu, ada temannya yang terpaksa tidur di mobil karena tidak mampu membayar kost. 

“Kamu bekerja penuh waktu di sebuah universitas, dan kamu tinggal di mobilmu?”

Menurut Andrew, kenaikan gaji yang diperoleh buruh sering kali habis untuk membayar biaya asuransi kesehatan dan parkir. Buruh UC dipaksa membayar hampir $1.000 (sekitar Rp16,3 juta) per tahun hanya untuk parkir.

Lain juga Adolfo, petugas taman yang sudah bekerja 19 tahun. Ia mengatakan bahwa kenaikan upah itu sangat penting.

“Harga-harga terus naik dari tahun ke tahun. Harga bensin naik. Makanan juga. Semuanya naik,” juar Adolfo.

Ia juga menyebut banyak teman yang nyambi dua – tiga pekerjaan sampingan sekaligus. 

“Sewa satu apartemen sekarang $3.000 (sekitar Rp49 juta per bulan). Itu belum termasuk makan, listrik, telepon, mobil, bensin. Ditambah saya punya anak. Setiap kontrak baru para buruh semakin miskin.”

Seorang petugas taman lain yang sudah bekerja 30 tahun mengaku tidak pernah mendapat kenaikan upah. Ia masih menerima $25 per jam.

Elite Serikat: Pemadam Api Perlawanan Kelas

Perjanjian sementara yang disepakati AFSCME bahkan belum disebarkan kepada semua anggota. Perjanjian sementara itu hanya disebarkan pada orang-orang pilihan pengurus serikat. AFSCME juga secara tiba-tiba menggelar pemungutan suara yang dijadwalkan mulai hari Senin depan. Tentu tak ada waktu yang cukup bagi buruh untuk membaca, memahami, apalagi mendiskusikan isi lengkap perjanjian. 

Ini adalah taktik klasik birokrasi serikat: buat anggota terburu-buru sehingga tidak sempat mengkritisi isi perjanjian secara mendalam. Buruh Indonesia yang pernah mengalami proses ratifikasi PKB yang tergesa-gesa pasti mengenali polanya: dokumen tebal diserahkan sehari sebelum pemungutan suara, sosialisasi hanya setengah jam, lalu pengurus bilang “ini sudah yang terbaik yang bisa kita dapat.”

Menurut analisis wsws.org, para elite serikat secara sengaja menggagalkan perlawanan buruh untuk mencegah lahirnya gerakan yang lebih luas dan berpotensi mengancam hubungan mereka dengan manajemen dan Partai Demokrat. Pola yang muncul adalah semakin kondusif suatu perjuangan, semakin tak tahu malu juga para elite ini memadamkannya.

Para elite serikat tidak pernah berniat melancarkan perjuangan sejati melawan kepentingan profit Dewan Kampus UC, keutuhan Partai Demokrat, maupun sistem kapitalisme yang menundukkan layanan kesehatan dan pendidikan di bawah logika profit. Dewan Kampus UC adalah badan pengawas tertinggi sistem Universitas California, yang sebagian besar anggotanya adalah tokoh-tokoh bisnis dan politik Partai Demokrat. Mereka ditunjuk langsung oleh Gubernur California. Kesimpulannya, manajemen UC dan Partai Demokrat adalah satu keluarga.  

World Socialist Web Site menyerukan kepada buruh untuk tidak menganggap diri mereka terikat pada perjanjian yang dibuat secara terang-terangan melanggar kehendak mereka, di saat mereka masih terlelap tidur. 

Langkah pertama adalah membentuk komite akar rumput3 di setiap kampus dan fasilitas UC tanpa melibatkan pengurus serikat untuk memobilisasi penolakan atas perjanjian ini dan mempersiapkan perjuangan yang sesungguhnya, kali ini di bawah kendali buruh sendiri.

Perjuangan ini, tegas World Socialist Web Site, bukan hanya melawan manajemen UC, melainkan melawan seluruh sistem politik dan ekonomi yang menempatkan keuntungan di atas kebutuhan manusia.

 

 

 

Catatan Kaki

1AFSCME (American Federation of State, County and Municipal Employees) adalah salah satu serikat buruh terbesar di Amerika Serikat yang beranggotakan pegawai negeri dan pekerja sektor publik. “Cabang 3299” atau Local 3299 adalah sebutan untuk cabang serikat ini yang mewakili pekerja non-akademik di seluruh sistem Universitas California setara dengan Pimpinan Unit Kerja (PUK) dalam struktur serikat buruh di Indonesia.

2Uang retroaktif adalah pembayaran kenaikan upah yang berlaku surut sejak tanggal kontrak lama berakhir. Ini tuntutan yang wajar: jika kontrak habis pada 2024 tapi kenaikan baru diberlakukan 2025, buruh seharusnya mendapat selisihnya untuk masa kekosongan itu. Dalam kasus ini, buruh tidak mendapat kompensasi apapun untuk bulan-bulan terakhir 2024.

3Komite akar rumput adalah organisasi mandiri yang dibentuk langsung oleh buruh di tempat kerja, terpisah dari struktur pengurus serikat formal. Konsep ini relevan juga bagi buruh Indonesia: ketika pengurus serikat tidak lagi bisa dipercaya, buruh perlu membangun mekanisme pengawasan dan pengambilan keputusan dari bawah misalnya melalui majelis buruh di tingkat pabrik atau kawasan industri, yang bisa mengawasi jalannya negosiasi PKB secara langsung dan transparan.

 

Sumber: World Socialist Web Site, 14 Mei 2026

Diterjemahkan dan diberi catatan tambahan 

oleh: Redaksi Trimurti

Melanjutkan semangat Trimurti
 
Di era kolonial, S.K. Trimurti berani menulis meski risikonya penjara. Kini, kami melanjutkan tradisi itu—memberitakan yang benar, meski tidak populer.
 
Trimurti.id adalah media nirlaba. Tidak ada pemilik konglomerat. Tidak ada agenda tersembunyi. Hanya semangat untuk Baca, Sebar, dan Lawan.
Jadilah bagian dari sejarah ini.
Klik link di bawah untuk mendukung Trimurti