Trimurti.id, Sumedang–Para buruh kampus yang tergabung dalam Aliansi Kelas Pekerja Jatinangor menggelar aksi May Day di depan rektorat Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, Jumat, 1 Mei 2026. Mereka yang terdiri dari tenaga kebersihan dan supir odong-odong memilih aksi di sana untuk menyuarakan tuntutan terkait kondisi buruh kampus di Jatinangor.
Aksi ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Buruh Internasional yang lebih luas di kawasan Jatinangor. Melansir laporan kumparan, Aliansi Jatinangor Bergerak juga menggelar aksi serupa di Pangkalan Damri Jatinangor yang dimulai sekitar pukul 15.15, melibatkan mahasiswa lintas kampus serta elemen masyarakat. Sementara dikutip dari Tribun Jabar, massa mulai berkumpul sejak pukul 13.00 di titik kumpul Tugu Makalangan, Jatinangor, meski diguyur hujan.
Berdasarkan pantauan awak Trimurti.id di lokasi, mahasiswa juga ikut dalam barisan massa aksi. Ketika beberapa massa aksi ditanya mengapa ikut aksi, jawaban mereka serupa, “Kami mahasiswa, kami calon buruh,” seru mereka.
Eni, salah satu buruh yang bekerja sebagai tenaga kebersihan di Unpad, dalam orasinya mengatakan bahwa kondisi kerja di sana masih belum layak.
“Saya prihatin sebenarnya, bukan hanya di kampus ini. Kebanyakan tenaga kebersihan di universitas di Jatinangor, terutama yang outdoor atau yang suka nyapu-nyapu jalan, itu upahnya sangat belum layak,” seru Eni.
Selain soal upah yang belum layak, ada juga hak-hak normatif buruh yang belum terpenuhi, seperti cuti haid yang belum diberikan hingga cuti hamil yang semula diberikan tiga bulan kini dipotong menjadi hanya satu bulan saja.
Eni juga menyinggung peralatan yang belum memadai untuk tugas-tugas lain di luar menyapu. “Kami ini bukan hanya nyapu, kami ini ngurus taman, kami juga harus membersihkan paving block yang begitu luas di Unpad dan itu harus pakai peralatan. Gak mungkin pakai tangan kosong,” tegas Eni.
Mewakili para buruh, Eni meminta agar diberikan jaminan sosial seperti jaminan kesehatan, keselamatan, dan kecelakaan kerja.
“Karena selama ini kami itu bekerja di luar, lebih banyak outdoor. Tapi di saat kami kecelakaan, kami bingung harus berobat ke mana, siapa yang akan membayar pengobatan kami,” ucap Eni kepada massa aksi.
Selain itu, para buruh juga menuntut agar akses keluar masuk Unpad dipermudah dan Unpad bisa menyerap lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitar kampus.
Di tengah aksi, sejumlah spanduk turut dibentangkan massa. Dikutip dari Tribun Jabar, salah satunya bertuliskan “Hancurkan Kapitalisme” yang mencerminkan sikap kritis terhadap sistem ekonomi yang dinilai tidak berpihak kepada pekerja.
Riza, salah satu mahasiswa Unpad yang ikut serta dalam Aliansi Kelas Pekerja Unpad, berkata bahwa mahasiswa juga secara tidak langsung adalah calon buruh. Sehingga menurutnya sangat penting untuk mahasiswa ikut berdiri bersama barisan buruh.
“Di sini kami mahasiswa dipersiapkan untuk bekerja, dan nanti kita akan digaji. Secara tidak langsung kita adalah calon buruh. Jadi aku rasa tidak ada salahnya, bahkan sangat bagus, kita berdiri bersama dengan dan juga barisan para buruh,” ujar Riza.
Kondisi buruh di kampusnya yang masih belum layak membuat dia ikut aksi bersama buruh. Ia menyoroti bagaimana upah para tenaga kebersihan masih belum layak, di mana mereka hanya digaji sekitar Rp1,5 juta sebulan, jauh dari UMK Sumedang yang berada di angka Rp3.949.855,36.
Riza berharap aksi serupa tidak hanya terjadi di Unpad saja, tetapi di kampus-kampus lainnya, dimulai dari menjalin kembali hubungan dengan para buruh dan ikut bersama memperjuangkan hak-hak yang seharusnya diberikan.
“Aku harap bagi teman-teman di kampus lain, yang di Bandung maupun Sumedang, mereka bisa menjalin lagi hubungan dengan para pekerja dan pihak mahasiswanya,” tukas Riza.
Sementara itu, Ezra Al Bara, Wakil Ketua BEM Unpad sekaligus perwakilan Aliansi Jatinangor Bergerak, menjelaskan kepada kumparan bahwa pilihan memusatkan aksi di Jatinangor dilatarbelakangi dialog langsung yang dilakukan pihaknya bersama warga dalam beberapa pekan terakhir.
“Selama beberapa minggu terakhir kami berdialog dengan ibu-ibu penjaga kos, bapak-bapak kebersihan, mereka yang bertugas sebagai kasir, sampai mas-mas yang pemasangan listrik. Kami menyadari isu ketenagakerjaan itu bisa dirasakan sangat jelas di konteks lokal juga,” ujarnya.
Melansir laporan kumparan, dalam aksi tersebut massa menyampaikan tuntutan yang dibagi ke dalam empat klaster sasaran: pemerintahan, swasta, kampus dan institusi pendidikan, serta mahasiswa. Ezra juga menegaskan bahwa gerakan di Jatinangor tetap terhubung dengan perjuangan di tingkat nasional, termasuk dengan KASBI dan Gebrak yang tengah berjuang di DPR RI.
“Ada upaya besar untuk mengkotak-kotakkan gerakan pekerja. Identitas buruh dikaburkan, dipisahkan, bahkan dikompetisikan dan dipolitisasi. Di sinilah kami ingin mengajak semuanya sadar bahwa kita bagian dari satu kelas yang sama,” kata Ezra.
Reporter: Raka Nursatyo
Editor: Rokky Rivandy

