Trimurti.id – Beberapa pelajaran sederhana masa kecil perlu diingat kembali di masa dewasa. Dulu saat kita masih kecil, ibu melarang kita menyia-nyiakan makanan. Jangan rakus, ambil makanan seperlunya, habiskan yang ada di piring. Nasehatnya kira-kira begitu.
Di balik nasehat sepele itu, ada pelajaran penting tentang bedanya kenyang dan lapar. Tentang kenyataan, bahwa tidak semua orang bisa tidur tenteram di atas alas tidur yang layak dengan perut kenyang.
Saat krisis ekonomi 1997–1998, keluarga buruh didera krisis ekonomi selama berbulan-bulan. Kemudian, para orang tua setiap hari senantiasa dibebani pertanyaan: Mampukah mereka memberi makan anaknya besok? Kegelisahan yang sama menghampiri saat krisis serupa datang lagi pada 2008.
Kejadian berikutnya, yang masih tinggal dalam ingatan, adalah krisis pendapatan yang dialami keluarga buruh saat pandemi Covid-19 merebak tak terbendung. Memang benar, ada anjuran yang tepat dan bijaksana dan diterapkan secara luas untuk menjaga kesehatan; seperti menjaga jarak, cuci tangan, pakai masker, dan seterusnya. Namun demikian, di tengah pandemi itu buruh-buruh industri di sektor padat karya tetap diharuskan masuk kerja, dan menantang risiko tertular penyakit.
Dengan risiko tertular dan kehilangan nyawa, buruh-buruh industri di banyak kota tetap datang ke tempat kerja. Mau tak mau, terpaksa begitu. Tak masuk kerja berarti tak ada pendapatan. Tak ada pendapatan, maka sekeluarga tak makan. Pada masa yang suram itu, saat pandemi menerjang hampir seluruh populasi, keluarga buruh yang kelaparan menyaksikan tetangganya yang juga kelaparan. Itulah malapetaka no work no pay, yang dituai sejak upah buruh terlalu banyak ditentukan oleh variabel kehadiran di tempat kerja dan kerja lembur.
Tanpa krisis global besar yang disebutkan di atas sekalipun, nyatanya lapar adalah pengalaman harian bagi terlalu banyak orang. Karena upah yang rendah, makan siang pilihan buruh-buruh perempuan pabrik sepatu di Tangerang adalah beberapa potong gorengan, atau seblak, atau cireng tidak bergizi, lebih tepat disebut kudapan. Setiap hari bekerja sejak pagi hingga petang setidaknya sepanjang 12 jam, dengan makan siang yang dipasok dari kontraktor katering yang serampangan dan tamak, bagaimana mungkin buruh tambang di Weda, Maluku, tak ditimpa kelaparan?
Seperti semua tahu, kelaparan bertali-temali erat dengan kemiskinan, yang oleh Pemerintah Indonesia hingga akhir Juli ini ditangkal antara lain dengan dengan Program Bantuan Subsidi Upah (BSU) senilai sekitar Rp6,88 triliun. Menghapuskan kemiskinan pasti lebih mudah kalau jumlah orang miskin hanya sedikit. Menurut Badan Pusat Statistik, pada Maret 2025 jumlahnya hanya 23,85 juta orang saja (8,47% dari jumlah penduduk). Dan, akan lebih sulit jika jumlahnya sekian lipat dari angka itu. Menurut Bank Dunia, jumlahnya pada Juni 2025 adalah 194,4 Juta orang (68,2% dari jumlah penduduk).
Untuk menanggulangi kemiskinan, tentu sangat menolong jika pemerintah menuang subsidi ini dan itu. Namun, harapan terbaik kaum pekerja bukanlah belas kasihan atau subsidi, melainkan hubungan industrial adil, mata pencaharian yang layak dan bermartabat, dengan upah yang layak. Agar perut tak kelaparan.
**
Tentang rasa lapar, tak ada yang memahami hal itu dengan lebih baik selain kaum pekerja. Kita di Indonesia pasti merasakannya. Situasi umum tahun-tahun belakangan ini tidak sedang baik-baik saja. Sepanjang Januari–Juni 2025, menurut Kementerian Ketenagakerjaan, 42 ribu orang lebih telah kehilangan pekerjaan di berbagai sektor industri: pengolahan, perdagangan, media, dan lainnya. Pada saat yang sama, ribuan pengemudi ojek online tetap kekurangan upah, dan mungkin hampir bosan memperjuangkan bagi hasil yang lebih adil dengan majikan, yang terus-terusan menyaru sebagai hanya perusahaan penyedia layanan teknologi.
Kembali ke cerita di atas, pada masa pandemi Covid-19, keluarga buruh yang kelaparan menjumpai tetangga sebelah—mungkin buruh mungkin penganggur—yang juga kelaparan. Dan, kali ini tetangga cukup jauh yang jelas-jelas sedang mengalami kelaparan hebat adalah warga Palestina yang bermukim di wilayah-wilayah yang tengah digempur militer Israel.
Ada cerita panjang tentang sebab-musabab perang di Gaza. Apa pun latar belakang sejarah dari pertikaian berkepanjangan itu, perkembangan terakhir ini sangatlah buruk. Untuk menyingkirkan warga Palestina dari wilayah yang akan diduduki, militer Israel berbulan-bulan menghujamkan senjata berat, membom rumah sakit, membuldoser pemukiman warga Palestina, sambil memutus saluran listrik, dan merusak pasokan air minum.
Terakhir, militer Israel menghalangi masuknya bantuan makanan dan obat-obatan dari masyarakat internasional, kemudian mengawasi ketat bahkan memberondongkan peluru ke warga Palestina yang sedang antre pembagian bahan makanan.
Kekerasan di Gaza sejak Oktober 2023 semakin memburuk dan kini menjadi tragedi kemanusiaan yang sangat serius. Korban perang yang mati dan luka-luka terus berjatuhan. Akibat blokade bantuan kemanusiaan, entah berapa banyak orang dewasa dan anak-anak yang berbulan-bulan kekurangan makanan. Hingga minggu ini pun, banyak media internasional memuat photo anak-anak kecil Palestina bertubuh kurus kering hingga tulang dadanya tampak, dengan pakaian lusuh compang-camping, menatap ke arah kamera dengan raut wajah serupa mayat hidup. Barangkali lebih baik jika Trimurti.id tidak memuat ulang foto-foto memilukan tersebut.
Namun, bagi Trimurti.id, seluruh kabar—termasuk foto dan video—dari Gaza adalah panggilan bagi kaum buruh dan serikat buruh di Indonesia untuk menyatakan, dengan lebih tegas, solidaritas terhadap mereka yang sedang bertahan hidup di tengah kekejaman. Solidaritas telah ditunjukkan oleh banyak kaum buruh di seluruh dunia, termasuk Chris Smalls, pimpinan Serikat Buruh Amazon di Amerika Serikat, yang turut berlayar bersama kapal Handala untuk membawa bantuan ke Gaza.
Sayangnya, kapal tersebut dicegat sebelum sampai ke pantai. Militer Israel menangkap dan melakukan kekerasan terhadap 30 aktivis di dalamnya, termasuk Chris Smalls. Penangkapan ini memicu kemarahan serikat-serikat buruh di Amerika, yang mengecam tindakan militer Israel dan menuntut dihentikannya genosida.
Beberapa pelajaran sederhana masa kecil perlu diingat kembali di masa dewasa. Kita yang “beruntung” hanya sedikit kelaparan di sini perlu bersolidaritas untuk mereka yang terancam mati kelaparan di sana. Korban-korban tragedi kemanusiaan haruslah ditolong segera, perang dan pembunuhan sudah waktunya diakhiri. **
Daftar Serikat Buruh Yang Bersolidaritas Untuk Palestina Dan Mendesakkan Dihentikannya Genosida Di Gaza
| Negara | Serikat |
| Amerika Serikat | The Amazon Labor Union, California Faculty Association |
| Afrika Selatan | Congress of South African Trade Union (COSATU) |
| Argentina |
|
| Brasil |
|
| Italia | Confederazione Generale Italiana del Lavoro (CGIL) |
| Korea Selatan | Korean Confederation of Trade Unions (KCTU) |
| Maroko | Union Marocaine du Travail (UMT), Union Generale des Travailleurs du Maroc (UGTM) |
| Norwegia | Landorganisasjonen (LO) |
| Perancis |
|
| Spanyol |
|
| Tunisia | Union Generale Tunisienne du Travail (UGTT) |
| Indonesia | Indonesia: Partai Buruh dan Koalisi Serikat Pekerja pada 18 Juni 2025 di Jakarta menyuarakan dihentikannya genosida di Gaza; Aliansi Buruh Indonesia Anti Perang dan Penjajahan menggelar aksi pada 15 Mei 2025, menyuarakan penolakan terhadap genosida, penjajahan, dan pendudukan ilegal oleh Israel; Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) bersama Partai Buruh menggelar aksi pada Oktober 2023 di Kedubes AS dan kantor Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), menyampaikan desakan kepada PBB untuk menghentikan perang dan mengakui kemerdekaan Palestina |
Redaksi Trimurti

