Categories
Kabar Perlawanan

Deklarasi Warga Gede Pangrango: Tolak Proyek Geothermal Tanpa Syarat!

Trimurti.id, Cianjur – Minggu pagi 3 Maret 2024 puluhan warga Gede Pangrango dari delapan desa yaitu Cipanas, Sukatani, Cipendawa, galudra, Nyalindung, Ciputri, Sindangjaya, Ciherang, di Kabupaten Cianjur mendeklarasi penolakan proyek geothermal dalam konferensi pers di jalan Pasircina Nomor 47, Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur.

Dari pantauan Trimurti di media sosial, sebelum berdeklarasi dan melaksanakan konferensi pers,  para warga melakukan long march sembari menyanyikan yel-yel perjuangan serta membawa spanduk penolakan. Di sepanjang perjalanan, warga terus mengkampanyekan bahaya proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) terhadap kelestarian alam dan kehidupan warga yang menggantungkan hidupnya dari hasil bumi kaki gunung Gede Pangrango

“Tolak-tolak geothermal, tolak geothermal sekarang juga!” teriak massa aksi sepanjang jalan

Pukul 11:00 WIB siang, warga menepi di lokasi konferensi pers. Dalam pernyataannya kepada awak media, Satria Tulus warga kampung Pasircina, mengatakan bahwa proyek pembangkit tenaga panas bumi dapat merusak sumber air yang digunakan warga untuk kebutuhan hidup sehari-hari seperti mencuci, memasak, dan bertani.

Patut untuk kita ingat, untuk menghasilkan 1 megawatt listrik, proyek geothermal membutuhkan 1.500 liter air per menit untuk memanaskan uap, dan uang yang dihasilkan akan memutar turbin penghasil energi listrik.  

“Ketika air sudah tidak ada, terus hidup warga-yang sebagian besar petani-gimana?”tutur pria yang akrab disapa Tulus saat dihubungi lewat saluran telepon. Mengingat proyek geothermal rakus lahan dan rakus air. Ia khawatir skema buruk seperti perampasan lahan warga, bisa terjadi kapan saja. 

Tulus juga menambahkan Pemkab Cianjur dan PT Daya Mas Geopatra Pangrango (PT DMGP) selalu menceritakan kisah sukses proyek Geothermal di wilayah Gunung Kamojang, Garut dan Gunung Salak, Bogor Provinsi Jawa Barat. Tetapi melupakan kisah pilu yang dialami warga pegunungan mataloko, Nusa Tenggara Timur. 

Baca juga: Saat Demam Panas Bumi Melanda Gede Pangrango  

Seperti diwartakan tirto.id, proses pengeboran dalam proyek geothermal di Mataloko alih-alih menghasilkan energi listrik yang dapat dinikmati. Proyek geothermal malah memberi banyak dampak buruk: atap rumah warga berkarat dan rusak, hasil komoditi menurun drastis, banyak lahan jadi tak produktif, hingga kesehatan warga terganggu—terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Bertitel sebagai proyek strategis nasional (PSN). Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gede Pangrango, yang memiliki potensi energi listrik sebesar 85 megawatt electric, diharapkan menyuplai kebutuhan energi listrik untuk wilayah Jawa dan Bali. Demi memuluskan pembangunan, warga dijanjikan lapangan pekerjaan, sementara Pemerintah Kabupaten mendapat jatah keuntungan dari skema Dana Bagi Hasil (DBH) usaha.

Warga menolak tawaran tersebut. Penolakan tersebut salah satunya disampaikan oleh Hadi Dusanto, warga Kampung Pasir Cina. Hadi mengatakan penyerapan tenaga kerja di sektor tambang hanya sebesar 4 % dan fakta itu tidak seindah yang dikisahkan pemerintah. Oleh sebab itu ia heran, mengapa pemerintah malah bersikukuh menggusur lahan warga dan membabat hutan demi tambang panas bumi. 

Padahal, alam Gede Pangrango tak hanya menyediakan penghidupan bagi warganya. Gunung yang terbentuk dari dua gunung yang berbeda ini nyatanya mampu menjadi salah satu sumber pangan dan air bagi ketiga wilayah yaitu Cianjur, Bogor dan Sukabumi. Hadi bahkan menyebut bahwa berbagai sayuran seperti wortel, sawi dan bawang daun yang diproduksi oleh warga seringkali dikirim ke berbagai pasar tradisional di Jakarta.

“Kenapa bukan itu yang ditingkatkan (red: pertanian)? Pertanian itu bisa menyerap banyak tenaga kerja sampai 40%.”ujar Hadi dalam unggahan akun instagram AMGP.

Namun, di tengah situasi kenaikan berbagai bahan pokok, warga kaki gunung Gede Pangrango murka ketika mendengar isu bahwa ruas jalan wilayah kampung Pasir Ciina  akan ditinggikan untuk jalur lintasan mobil pemadam kebakaran, yang diduga untuk kepentingan proyek geothermal. 

 

Reporter: Baskara Hendarto

Editor:  Abdul Harahap