“Ada miliaran kehidupan dan yang kita punya cuma satu. Dengan kisah, kita bisa hayati miliaran kehidupan itu; kehidupan yang tak terjamah, yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Selamat menikmati kehidupan di kisah ini. Semoga yang baik bisa jadi hidupmu dan yang buruk tetap jadi kisah.”
Kutipan itu berasal dari kumpulan cerita pendek “Balada Suburbia” milik Zaky Yamani. Buku itu terbit tahun 2025 sebagai kumpulan kisah sederhana dari orang-orang sederhana.
Pertama kali saya membaca ini, saya terbahak dengan kencang. Zaky berhasil membius pembacanya—setidaknya saya—untuk membayangkan suatu pengalaman absurd, psikedelik, dan konyol dari seorang anak SD bernama Yudi yang tak sengaja menemukan jamur ajaib di sela-sela waktu bermain bersama kawan-kawannya.
Yudi lalu membawanya ke rumah, meminta kepada ibunya untuk menjadikan jamur tersebut sebagai pelengkap hidangan makan malam. Sambil memasak, ibunya memuji ketangkasannya memilah jamur dan karenanya telah membantu memenuhi urusan perut keluarga. Yudi kegirangan.
Namun kegirangan itu tak bertahan lama. Setelah hidangan habis, semua anggota keluarga mabuk bukan kepalang. Tak terkecuali. Sambil merasakan pening dan limbung, pada saat itu juga, Yudi berpikir akan mati dilahap bapaknya yang berubah jadi monster mengerikan.
Deskripsi yang padat dan pembawaan cerita yang jelas dari Yudi yang sekaligus jadi narator, benar-benar membuat saya tertawa kencang hingga istri saya turut mengomel mengingat di luar rumah matahari sudah tak ada, dan orang-orang tengah menjalani mimpi basah atau berbagi keluh kesah kisah pahit macam kasbon bulan ini, tagihan listrik, internet, sekolah anak, dan lain-lain dengan pasangannya masing-masing.
Meski cerita pertama dibuka dengan kisah yang konyol, tapi itu semua tak lantas membuat kumpulan kisah ini menjadi sekadar kisah humor ala komedian stand up. Yudi, atau “Johnny Mushroom” tak sekadar menjadi kisah jenaka semata. Ia merupakan representasi dari kisah seorang pemuda yang tengah mengalami krisis identitas, dan mencoba melawan segala bentuk kemapanan dari apa yang disebut ada di balik megahnya kota, industri, dan wajah kelam kapitalisme modern.
Ini pula ditandai dari nomor-nomor selanjutnya yang malah bikin tangan ingin usap dada. Katakanlah kisah “Rahmi dan Televisi”, “Samad Mencari Bangsa”, dan “Di antara Mur dan Baut”. Ketiga kisah ini, memiliki humor sekaligus rasa getir yang tak terkira. Ketiganya dirangkai dalam satu tema yang sama; perburuhan. Isu yang sampai kapan pun takkan pernah berhenti dibicarakan, terlebih jika kondisi para buruh tetap dihadapkan dengan bayang-bayang kekhawatiran seperti pemecatan, upah yang habis di minggu ketiga, cicilan-cicilan yang tak pernah selesai, dan lain-lain, dan lain-lain.
Membaca buku ini, tentu tak perlu dibarengi dengan motivasi dan semangat untuk menumbangkan segala bentuk ketidakadilan yang terjadi di negara ini; apalagi dengan semangat menumbangkan kapitalisme global, jika tak ingin berakhir seperti Samad, seorang pria yang merasa hidupnya kian suram setelah mengalami pemecatan akibat melakukan pemogokan dan rajin mengonsumsi berita korupsi dan bencana.
Pengalaman menjadi jurnalis se-Zaky tentu membuatnya cukup lihai dalam menulis cerita yang menggambarkan betapa hidup ini begitu menjengkelkan, menyiksa, dan sarat ketidakadilan. Dan itu semua tentu jangkauannya sangat dekat dengan realitas kita hari ini; betapa hukum mampu diubah sesuai kepentingan, kemiskinan yang tak pernah benar-benar diselesaikan, upah yang tak pernah berada dalam garis layak, pemecatan akibat menuntut hak, pemenjaraan akibat bersuara lantang, dan sebagainya, dan sebagainya.
“Yang buruk tetap jadi kisah.” Begitu barangkali Zaky mencoba untuk menasihati kita melalui kumpulan kisah yang ia buat. Namun saya menangkap makna lain dalam klausa “yang buruk tetap jadi kisah” ini.
Saya pikir, dengan terus merekam dan mendokumentasikan berbagai kisah buruk yang terjadi di negara ini, kita tengah membantu orang-orang untuk setidaknya berhenti berpikir bahwa keburukan yang terjadi kepada dirinya, tak pernah benar-benar terjadi hanya kepada dirinya sendiri. Ada miliaran kisah yang tak pernah terjamah; yang barangkali sama buruknya dengan apa yang kita alami sehari-hari. Kemacetan, utang, ketakutan, dan berbagai keburukan yang menimpa kita saat ini, tak lain dan tak bukan adalah ekses dari sistem yang tak pernah benar-benar berpihak pada rakyat kecil seperti kita.
Dengan terus mengumpulkan dan menceritakan kisah buruk tersebut, kita setidaknya telah membantu untuk menghayati miliaran kehidupan itu; kehidupan yang tak terjamah, yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
***
Penulis: Syahid Syawahidul Haq
Editor: Dedi Muis

